3 Anugerah Luar Biasa yang Datang dari Rumah, Kaum Muslim wajib Tahu!
Selasa, 25 November 2025 - 18:52 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karenanya nikmat ini patut disyukuri, jangan sampai diingkari. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An Nahl: 112).
Gegara mengingkari nikmat, akhirnya datanglah musibah dan bencana. Bentuk dari menginkari nikmat adalah dengan berbuat kerusakan di luar rumah, tidak patuh terhadap arahan dan penyuluhan pihak yang berwenang dan membahayakan orang lain, dan puncak dari itu semua, ada yang abai terhadap tujuan besar syariat (maqashidus Syari’ah), di antaranya menjaga jiwa, yang mana hal ini diperintahkan dalam agama kita, juga termasuk ajaran para Rasul.
“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An Nahl: 113).
Tidak heran, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah sampai membuat kaidah berharga dalam bukunya al Fawaid,
“Menjaga Energi vital (kesehatan daya tahan tubuh) lebih diutamakan ketimbang berpantang (tindakan preventif)”
(Lihat pembahasannya dalam Kitab Al-Fawaid, bab Faidah Jaliilah bagian ke-5, hal. 174).
Baca juga: 5 Perkara yang Bisa Membuat Rumah Menjadi Surga Dunia
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah Yang Maha Mulia yaitu berupa anugerah kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan menjadi orang yang merugi, sebagaimana hadis di bawah ini:
“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 5933).
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik (sehat jasmani), ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.”
(lihat kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)
Ada yang bisa bekerja dari rumah “Alhamdulillah”, istilah modernnya ‘work from home,’ ada juga yang harus mengais rezeki, dengan mencari sebagian karunia Allah Ta’ala di luar rumah, tentunya dengan memperhatikan aturan kehidupan saat wabah menular ini, Sehingga semuanya bertawakkal secara sempurna kepada Allah Ta’ala dengan sikapnya masing-masing.
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An Nahl: 112).
Gegara mengingkari nikmat, akhirnya datanglah musibah dan bencana. Bentuk dari menginkari nikmat adalah dengan berbuat kerusakan di luar rumah, tidak patuh terhadap arahan dan penyuluhan pihak yang berwenang dan membahayakan orang lain, dan puncak dari itu semua, ada yang abai terhadap tujuan besar syariat (maqashidus Syari’ah), di antaranya menjaga jiwa, yang mana hal ini diperintahkan dalam agama kita, juga termasuk ajaran para Rasul.
وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An Nahl: 113).
2. Sehat Jasmani
Jika seorang melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala. Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.Tidak heran, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah sampai membuat kaidah berharga dalam bukunya al Fawaid,
حفظ القوة مقدم على الحمية
“Menjaga Energi vital (kesehatan daya tahan tubuh) lebih diutamakan ketimbang berpantang (tindakan preventif)”
(Lihat pembahasannya dalam Kitab Al-Fawaid, bab Faidah Jaliilah bagian ke-5, hal. 174).
Baca juga: 5 Perkara yang Bisa Membuat Rumah Menjadi Surga Dunia
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah Yang Maha Mulia yaitu berupa anugerah kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan menjadi orang yang merugi, sebagaimana hadis di bawah ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 5933).
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik (sehat jasmani), ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.”
(lihat kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no. 5933)
3. Kecukupan Konsumsi Harian
Sejatinya ketika seorang muslim bisa makan di hari ini, hal itu merupakan kenikmatan luar biasa. Bahagia itu tidak harus punya tabungan yang cukup untuk makan sebulan kemudian. Namun kekurangan di hari kedua, ketiga, dan seterusnya bisa disiasati dengan berburu keberkahan.Ada yang bisa bekerja dari rumah “Alhamdulillah”, istilah modernnya ‘work from home,’ ada juga yang harus mengais rezeki, dengan mencari sebagian karunia Allah Ta’ala di luar rumah, tentunya dengan memperhatikan aturan kehidupan saat wabah menular ini, Sehingga semuanya bertawakkal secara sempurna kepada Allah Ta’ala dengan sikapnya masing-masing.
Lihat Juga :