Memahami Bencana sebagai Ujian dari Allah SWT, Begini Penjelasannya
Minggu, 28 Desember 2025 - 05:15 WIB
loading...
Dalam pandangan Islam, musibah tidak pernah berdiri sendirian, selalu ada hikmah, pesan, dan pengingat di baliknya, dan dalam kondisi seperti inilah, justru sikap seorang Muslim sedang diuji. Foto istimewa
A
A
A
Ketika bencana datang bertubi-tubi, bagaimana seharusnya sikap seorang muslim? Hal ini menarik untuk dibahas, mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam di berbagai daerah di Indonesia. Berikut ulasan dan penjelasannya
Dalam pandangan Islam, bencana atau musibah tidak pernah berdiri sendirian, selalu ada hikmah, pesan, dan pengingat di baliknya. Dalam kondisi seperti ini, justru sikap seorang Muslim sedang diuji. Apakah tetap tenang? Apakah mampu menahan diri dari menyalahkan? Atau justru menjadikan musibah sebagai momen muhasabah?
Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari sunnatullah. Salah satu ayat yang paling sering dibacakan ketika bencana atau musibah terjadi adalah QS Al-Baqarah: 155–157:
“…Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini membuat banyak orang bertanya, “Apakah bencana selalu berarti azab?” Jawabannya: tidak selalu. Dalam banyak kondisi, musibah justru menjadi pengingat agar manusia kembali kepada jalan Allah, memperbaiki diri, dan melihat ulang hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Sebab bencana juga bisa menjadi alarm untuk muhasabah, mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi sering kali lahir dari kelalaian manusia sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS Ar-Rum: 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum : 41)
Baca juga: Nabi-nabi Palsu Bermunculan, Bagaimana Umat Islam Harus Bersikap?
Maka, alih-alih memandang musibah sebagai hukuman, lebih tepat jika memahaminya sebagai jalan pulang untuk memperbaiki hati dan tindakan.
Apabila mendapat musibah, seseorang diperintahkan untuk bersabar. Jangan terburu-buru meskipun hakikatnya manusia sifatnya terburu-buru. Sebagaimana Nabi Yusuf 'Alaihissalam ketika dipenjara, beliau bersabar selama bertahun-tahun hingga akhirnya diangkat menjadi pejabat menteri di Mesir. Ketika mendapat musibah kita harus sabar dan harus menyembunyikannya. Tidak perlu curhat kepada banyak orang, cukup curhat kepada satu orang saja. Sebab, semakin banyak musibah diceritakan kepada Allah Ta'ala, maka pertolongan Allah semakin besar pula.
Baca juga: Kemunculan Nabi Palsu Telah Disabdakan Nabi Muhammad SAW
"Ketika handphone-nya hilang dianggap berat, tapi ketika anaknya diajak laki-laki dibiarkan saja. Di sinilah kita perlu belajar mana perkara ringan dan mana perkara berat," jelas Ustaz Oemar.
Ibnul Qayyim mengatakan: "Kita susah membaca hikmah karena hati kita kotor. Kalau hati itu kotor gak bisa menyerap hikmah dari takdir yang kita hadapi."
Ada ulama Salaf, beliau punya istri yang cerewet dan kata-katanya menyakitkan. Orang-orang sudah bilang agar berpisah, tapi ulama ini berkata "mungkin ada kebaikan yang bisa saya ambil". Alhasil, istrinya hamil dan anaknya menjadi anak yang saleh dan menjadi seorang ulama. Anaknya berkata "saya menjadi seperti ini karena berkat kesabaran ayah saya dalam menghadapi ibu saya".
Kemudian, Ustaz Oemar Mita menjelaskan amalan yang bisa dilakukan agar musibah menjadi anugerah, yaitu dengan memperbanyak Istighfar . Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa memperbanyak istighfar niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad)
Contohnya Nabi Yunus 'Alaihissalam, ucapan istighfarnya menjadi penyelamat dari kesulitan yang dihadapiya. Beliau berkata:
"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya." (QS Al-Anbiya ayat 87)
Zikirnya Nabi Yunus ini terdengar oleh penduduk langit. Ketika Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, Allah Ta'ala memberikan pertolongan. Makanya istighfar bagi orang yang tidak beriman itu tak ada hubungannya. Orang yang beristighfar itu membersihkan dirinya dari dosa. Jika sudah membersihkan diri dari dosa, maka pertolongan Allah akan datang.
Lalu apa bedanya istighfar dengan taubat? Istighfar tidak identik dengan dosa, kalau taubat identik dengan dosa. Istighfar itu fungsinya untuk menghalangi dari dosa yang akan datang, sedangkan taubat untuk membersihkan diri dari dosa yang lalu. Taubat tak bisa diwakili, kalau istighfar bisa diwakili. Misalnya, seorang anak memintakan ampunan untuk orang tuanya. Kita harus memahami tentunya tidak semua masalah bisa selesai dengan istighfar, namun amalan istighfar bisa melapangkan setiap urusan.
Istighfar yang paling baik itu adalah Sayyidul Istighfar.
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau." Istighfar itu dahsyat, sangkin dahsyatnya Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR Bukhari No. 6303)
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Si Pendusta alias Nabi Palsu
Dalam pandangan Islam, bencana atau musibah tidak pernah berdiri sendirian, selalu ada hikmah, pesan, dan pengingat di baliknya. Dalam kondisi seperti ini, justru sikap seorang Muslim sedang diuji. Apakah tetap tenang? Apakah mampu menahan diri dari menyalahkan? Atau justru menjadikan musibah sebagai momen muhasabah?
Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari sunnatullah. Salah satu ayat yang paling sering dibacakan ketika bencana atau musibah terjadi adalah QS Al-Baqarah: 155–157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“…Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat ini membuat banyak orang bertanya, “Apakah bencana selalu berarti azab?” Jawabannya: tidak selalu. Dalam banyak kondisi, musibah justru menjadi pengingat agar manusia kembali kepada jalan Allah, memperbaiki diri, dan melihat ulang hubungan antara manusia dengan lingkungan.
Sebab bencana juga bisa menjadi alarm untuk muhasabah, mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi sering kali lahir dari kelalaian manusia sendiri, seperti yang disebutkan dalam QS Ar-Rum: 41:
ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum : 41)
Baca juga: Nabi-nabi Palsu Bermunculan, Bagaimana Umat Islam Harus Bersikap?
Maka, alih-alih memandang musibah sebagai hukuman, lebih tepat jika memahaminya sebagai jalan pulang untuk memperbaiki hati dan tindakan.
Sikap Utama Seorang Muslim
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa sikap yang dianjurkan juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menghadapi musibah.1. Bersabar dan Bertawakal
Respon pertama yang dianjurkan adalah mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Kalimat ini bukan hanya ungkapan duka, tetapi pengakuan penuh bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sikap ini membantu menenangkan hati, mencegah lahirnya keluhan, dan menahan diri dari menyalahkan siapa pun.2. Beristigfar dan Bertaubat
Tidak sedikit ulama yang mengingatkan bahwa musibah sering kali menjadi tanda agar manusia memperbanyak istighfar. Ada yang bertanya, “Mengapa harus istighfar padahal musibah bukan selalu akibat dosa?” Jawabannya sederhana: istighfar memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus membersihkan hati agar lebih siap menerima takdir apa pun.3. Ikhlas Menerima
Allah berfirman dalam QS An-Nisa: 78 bahwa apa pun yang menimpa seseorang sudah berada dalam ketetapan-Nya. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima kenyataan dengan hati lapang sambil tetap mencari solusi terbaik.Rahasia Musibah dan Amalan yang Dianjurkan
Menurut Ustaz Oemar Mita dalam salah satu tausiyahnya, bencana atau musibah adalah hal yang pasti dialami seseorang. Namun, tak seorang pun tahu kapan ujian itu datang. "Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri. Kalau mendapatkan musibah kita mengucapkan kalimat Istirja (inaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun). Kalau kita mengucapkan yang baik maka kita akan mendapatkan yang baik. Sebaliknya kalau kita ucapkan yang buruk maka kita akan mendapatkan yang buruk," kata Ustaz Oemar.Apabila mendapat musibah, seseorang diperintahkan untuk bersabar. Jangan terburu-buru meskipun hakikatnya manusia sifatnya terburu-buru. Sebagaimana Nabi Yusuf 'Alaihissalam ketika dipenjara, beliau bersabar selama bertahun-tahun hingga akhirnya diangkat menjadi pejabat menteri di Mesir. Ketika mendapat musibah kita harus sabar dan harus menyembunyikannya. Tidak perlu curhat kepada banyak orang, cukup curhat kepada satu orang saja. Sebab, semakin banyak musibah diceritakan kepada Allah Ta'ala, maka pertolongan Allah semakin besar pula.
Baca juga: Kemunculan Nabi Palsu Telah Disabdakan Nabi Muhammad SAW
"Ketika handphone-nya hilang dianggap berat, tapi ketika anaknya diajak laki-laki dibiarkan saja. Di sinilah kita perlu belajar mana perkara ringan dan mana perkara berat," jelas Ustaz Oemar.
Ibnul Qayyim mengatakan: "Kita susah membaca hikmah karena hati kita kotor. Kalau hati itu kotor gak bisa menyerap hikmah dari takdir yang kita hadapi."
Ada ulama Salaf, beliau punya istri yang cerewet dan kata-katanya menyakitkan. Orang-orang sudah bilang agar berpisah, tapi ulama ini berkata "mungkin ada kebaikan yang bisa saya ambil". Alhasil, istrinya hamil dan anaknya menjadi anak yang saleh dan menjadi seorang ulama. Anaknya berkata "saya menjadi seperti ini karena berkat kesabaran ayah saya dalam menghadapi ibu saya".
Kemudian, Ustaz Oemar Mita menjelaskan amalan yang bisa dilakukan agar musibah menjadi anugerah, yaitu dengan memperbanyak Istighfar . Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barang siapa memperbanyak istighfar niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Ahmad)
Contohnya Nabi Yunus 'Alaihissalam, ucapan istighfarnya menjadi penyelamat dari kesulitan yang dihadapiya. Beliau berkata:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya." (QS Al-Anbiya ayat 87)
Zikirnya Nabi Yunus ini terdengar oleh penduduk langit. Ketika Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, Allah Ta'ala memberikan pertolongan. Makanya istighfar bagi orang yang tidak beriman itu tak ada hubungannya. Orang yang beristighfar itu membersihkan dirinya dari dosa. Jika sudah membersihkan diri dari dosa, maka pertolongan Allah akan datang.
Lalu apa bedanya istighfar dengan taubat? Istighfar tidak identik dengan dosa, kalau taubat identik dengan dosa. Istighfar itu fungsinya untuk menghalangi dari dosa yang akan datang, sedangkan taubat untuk membersihkan diri dari dosa yang lalu. Taubat tak bisa diwakili, kalau istighfar bisa diwakili. Misalnya, seorang anak memintakan ampunan untuk orang tuanya. Kita harus memahami tentunya tidak semua masalah bisa selesai dengan istighfar, namun amalan istighfar bisa melapangkan setiap urusan.
Istighfar yang paling baik itu adalah Sayyidul Istighfar.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau." Istighfar itu dahsyat, sangkin dahsyatnya Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR Bukhari No. 6303)
Baca juga: Ayat-ayat Al Quran Tentang Si Pendusta alias Nabi Palsu
(wid)
Lihat Juga :