Kisah Ali bin Abi Thalib : Akhlak Sang Singa Allah, Mengislamkan Lawan di Tengah Kecamuk Perang
Kamis, 16 April 2026 - 17:20 WIB
loading...
A
A
A
Dan Sayidina Ali pun mengajarkannya, "Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah."
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. Ali bin Abi Thalib menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.
"Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka Sayyidina Ali.
Mulanya Sayidina Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab. "Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak
membunuhmu."
"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya.
"Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh."
"Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?"
"Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki Sayyidina Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.
Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah: Pakta Damai yang Mengubah Sejarah
Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. Ali bin Abi Thalib menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.
"Mengapa kamu tidak membunuh aku?" Orang itu berteriak dengan marah. "Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?" Dan dia meludahi muka Sayyidina Ali.
Mulanya Sayidina Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya. "Aku bukan musuhmu", Ali menjawab. "Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak
membunuhmu."
"Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?" orang itu bertanya.
"Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan". 'Ali menjelaskan kepadanya. "Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh."
"Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?"
"Itulah ketentuan Allah. Itulah Islam."
Dengan segera orang itu tersungkur di kaki Sayyidina Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.
Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah: Pakta Damai yang Mengubah Sejarah
(wid)
Lihat Juga :