Ayat-ayat Al Quran Tentang Aniaya dan Zalim Terhadap Diri Sendiri
Senin, 20 April 2026 - 10:45 WIB
loading...
A
A
A
Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa ayat ini kemudian menjadi saksi bahwa salah satu upaya Sulaiman As. berhasil meluluhkan Ratu Balqis. Upaya yang dilakukan oleh Sulaiman As. kala itu ialah mendirikan sebuah istana yang megah dan tak tertandingi keindahannya tatkala ia mengetahui bahwa Balqis akan mengunjungi negerinya. Maka saat sesampainya Balqis ke istana Sulaiman As. ia begitu terpukau dengan interior yang nampak di depan matanya, terutama pada lantai yang terlihat seperti sungai namun sebenarnya berupa kristal tembus pandang.
Melihat kemegahan yang tak tertandingi itu, Balqis pun mengakui bahwa istananya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan oleh istana Sulaiman As. Ia pun luluh dan keangkuhannya pun sirna, lalu ia pun mau menerima penjelasan Sulaiman As. mengenai ajaran tauhid yang benar dan menyatakan bahwa dirinya akan tunduk kepada Allah berkat Sulaiman As.
Dalam Tafsir Kemenag juga dijelaskan bahwa alasannya selama ini menolak ialah kekhawatirannya akan dikucilkan oleh masyarakat kerajaannya (Q.S. al-Naml: 43).
Maka dari uraian penafsiran tersebut didapati bahwa bentuk kezaliman terhadap diri sendiri yang dirasakan oleh Balqis ialah berupa keangkuhannya yang berimbas pada ketidakinginannya untuk mendengarkan ajaran yang benar. Hal itulah yang membuatnya sangat susah keluar dari kekafiran, setelah akhirnya berhasil disadarkan oleh Sulaiman As.
"Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ayat menceritakan tragedi pembunuhan yang dilakukan Nabi Musa As. terhadap seorang Qibti. Tragedi itu terjadi tatkala Musa ingin menolong kawannya dari pem-bully-an seorang Qibti yang merupakan salah satu utusan Fir’aun. Musa pun memukulnya hingga tewas dan kemudian ia pun begitu menyesali perbuatannya sehingga ia pun memanjatkan doa sebagai bentuk pertaubatannya.
Dalam Tafsir al-Munir karya Wahbah Zuhaili dituliskan bahwa Musa As. juga mengutarakan bahwa suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya merupakan bentuk kezaliman pada diri sendiri. Maka doa ini juga seakan memberikan pesan bahwa tindakan kezaliman apapun kepada orang lain haruslah dijauhi sebab apabila dilakukan maka sejatinya tindakan itu juga merusak diri sendiri.
Islam tidak menginginkan umatnya menzalimi dirinya sendiri baik dengan merusak hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Sebab keduanya merupakan elemen terpenting yang harus dijaga dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam.
Baca juga: Menganiaya Diri dalam Islam: Antara Dosa dan Konsekuensinya
Melihat kemegahan yang tak tertandingi itu, Balqis pun mengakui bahwa istananya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan oleh istana Sulaiman As. Ia pun luluh dan keangkuhannya pun sirna, lalu ia pun mau menerima penjelasan Sulaiman As. mengenai ajaran tauhid yang benar dan menyatakan bahwa dirinya akan tunduk kepada Allah berkat Sulaiman As.
Dalam Tafsir Kemenag juga dijelaskan bahwa alasannya selama ini menolak ialah kekhawatirannya akan dikucilkan oleh masyarakat kerajaannya (Q.S. al-Naml: 43).
Maka dari uraian penafsiran tersebut didapati bahwa bentuk kezaliman terhadap diri sendiri yang dirasakan oleh Balqis ialah berupa keangkuhannya yang berimbas pada ketidakinginannya untuk mendengarkan ajaran yang benar. Hal itulah yang membuatnya sangat susah keluar dari kekafiran, setelah akhirnya berhasil disadarkan oleh Sulaiman As.
3. Surat al-Qashash ayat 16
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
"Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Ayat menceritakan tragedi pembunuhan yang dilakukan Nabi Musa As. terhadap seorang Qibti. Tragedi itu terjadi tatkala Musa ingin menolong kawannya dari pem-bully-an seorang Qibti yang merupakan salah satu utusan Fir’aun. Musa pun memukulnya hingga tewas dan kemudian ia pun begitu menyesali perbuatannya sehingga ia pun memanjatkan doa sebagai bentuk pertaubatannya.
Dalam Tafsir al-Munir karya Wahbah Zuhaili dituliskan bahwa Musa As. juga mengutarakan bahwa suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya merupakan bentuk kezaliman pada diri sendiri. Maka doa ini juga seakan memberikan pesan bahwa tindakan kezaliman apapun kepada orang lain haruslah dijauhi sebab apabila dilakukan maka sejatinya tindakan itu juga merusak diri sendiri.
Islam tidak menginginkan umatnya menzalimi dirinya sendiri baik dengan merusak hubungannya dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia. Sebab keduanya merupakan elemen terpenting yang harus dijaga dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam.
Baca juga: Menganiaya Diri dalam Islam: Antara Dosa dan Konsekuensinya
(wid)
Lihat Juga :