Perang Irak di Era Khalifah Umar bin Khattab, Jalankan Wasiat Abu Bakar
Senin, 21 September 2020 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Berita peristiwa ini diketahui oleh Musanna. Menurut hematnya tak ada gunanya pasukannya menghadapi orang-orang yang sudah disiapkan Rustum untuk mengadakan bentrok senjata dengan dia. Lebih baik dia berhati-hati dan menarik pasukannya dari Hirah ke Khaffan supaya tidak disergap dari belakang.
Baca juga: Protokol Kesehatan Marak Dilanggar, TII Desak Pilkada 2020 Ditunda
Abu Ubaid pun menyusulnya ke Khaffan dan ia menghentikan pasukannya untuk sekadar mengistirahatkan anak buahnya sambil mengatur rencana untuk menyerang kekuatan yang datang hendak menyerangnya itu.
Di Mada'in Rustum sudah mengirim dua pasukan untuk menghadapi pasukan Muslimin, salah satunya di bawah pimpinan panglima Javan (Khafan Japan) yang mendapat perintah menyeberangi Furat ke Hirah, dan yang lain di bawah pimpinan panglima Narsi dengan perintah bermarkas di Kaskar yang terletak di antara Furat dengan Tigris (Dajlah).
Baca juga: Rocky Gerung: Mahfud MD Seperti Cacing Kepanasan di Dalam Istana
Abu Ubaid berangkat dari Madinah dengan empat ribu orang, yang dalam perjalanan kemudian anggota pasukannya bertambah jumlahnya menjadi sepuluh ribu. Setelah mereka berkumpul, ia berangkat hendak menghadapi Javan. Mereka bertemu di suatu tempat yang disebut Namariq terletak antara Hirah dengan Kadisiah (Qadisiyah).
Kedua pihak itu bertemu dan terjadilah pertempuran sengit yang luar biasa, dan Allah memberikan kemenangan kepada Abu Ubaid dalam menghadapi Javan dan pasukannya itu. Javan sendiri ditawan bersama seorang komandan bawahannya bernama Mardan Syah, tetapi orang ini dibunuh oleh yang menawannya.
Baca juga: Menkeu Berharap Label Halal Tidak Bebani Industri Syariah
Javan seorang panglima yang sudah berusia lanjut, ia dapat menipu orang yang menawannya dengan mengatakan: "Kalian orang-orang Arab, orang yang suka menepati janji. Maukah Anda mempercayai saya, dan saya akan memberikan kepada Anda dua orang budak muda yang cekatan sekali yang akan dapat membantu pekerjaan Anda dan akan saya berikan lagi sekian dan sekian..." dan janji-janji lain yang melimpah.
Lalu kata orang yang menawannya: "Ya." Maka katanya: "Bawalah saya kepada komandan Anda supaya terlihat."
Dia dibawa masuk ke tempat Abu Ubaid, dan dia menyaksikan apa yang terjadi. Tetapi ada sekelompok Muslimin segera mengenalnya, maka kata mereka kepada Abu Ubaid: "Bunuh saja dia. Dia komandan pasukan mereka."
"Sekalipun dia komandan," kata Abu Ubaid. "Saya tidak akan membunuhnya, dia telah dijamin oleh salah seorang dari kita. Dalam persahabatan dan saling menolong Muslimin seperti satu badan, yang berlaku bagi yang seorang berarti berlaku untuk semua."
Baca juga: Polemik Penundaan Pilkada di Tengah Ancaman Covid-19, Ini Saran MUI
Boran sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap Javan, dan berita itu sampai juga kepada Rustum. la memerintahkan Jalinus untuk menolong teman-temannya dan menyusul Narsi di Kaskar. Jalinus memisahkan diri berangkat cepat-cepat ke tujuannya. Tetapi Abu Ubaid dalam menempuh perjalanan rupanya lebih cepat.
Baca juga: Protokol Kesehatan Marak Dilanggar, TII Desak Pilkada 2020 Ditunda
Abu Ubaid pun menyusulnya ke Khaffan dan ia menghentikan pasukannya untuk sekadar mengistirahatkan anak buahnya sambil mengatur rencana untuk menyerang kekuatan yang datang hendak menyerangnya itu.
Di Mada'in Rustum sudah mengirim dua pasukan untuk menghadapi pasukan Muslimin, salah satunya di bawah pimpinan panglima Javan (Khafan Japan) yang mendapat perintah menyeberangi Furat ke Hirah, dan yang lain di bawah pimpinan panglima Narsi dengan perintah bermarkas di Kaskar yang terletak di antara Furat dengan Tigris (Dajlah).
Baca juga: Rocky Gerung: Mahfud MD Seperti Cacing Kepanasan di Dalam Istana
Abu Ubaid berangkat dari Madinah dengan empat ribu orang, yang dalam perjalanan kemudian anggota pasukannya bertambah jumlahnya menjadi sepuluh ribu. Setelah mereka berkumpul, ia berangkat hendak menghadapi Javan. Mereka bertemu di suatu tempat yang disebut Namariq terletak antara Hirah dengan Kadisiah (Qadisiyah).
Kedua pihak itu bertemu dan terjadilah pertempuran sengit yang luar biasa, dan Allah memberikan kemenangan kepada Abu Ubaid dalam menghadapi Javan dan pasukannya itu. Javan sendiri ditawan bersama seorang komandan bawahannya bernama Mardan Syah, tetapi orang ini dibunuh oleh yang menawannya.
Baca juga: Menkeu Berharap Label Halal Tidak Bebani Industri Syariah
Javan seorang panglima yang sudah berusia lanjut, ia dapat menipu orang yang menawannya dengan mengatakan: "Kalian orang-orang Arab, orang yang suka menepati janji. Maukah Anda mempercayai saya, dan saya akan memberikan kepada Anda dua orang budak muda yang cekatan sekali yang akan dapat membantu pekerjaan Anda dan akan saya berikan lagi sekian dan sekian..." dan janji-janji lain yang melimpah.
Lalu kata orang yang menawannya: "Ya." Maka katanya: "Bawalah saya kepada komandan Anda supaya terlihat."
Dia dibawa masuk ke tempat Abu Ubaid, dan dia menyaksikan apa yang terjadi. Tetapi ada sekelompok Muslimin segera mengenalnya, maka kata mereka kepada Abu Ubaid: "Bunuh saja dia. Dia komandan pasukan mereka."
"Sekalipun dia komandan," kata Abu Ubaid. "Saya tidak akan membunuhnya, dia telah dijamin oleh salah seorang dari kita. Dalam persahabatan dan saling menolong Muslimin seperti satu badan, yang berlaku bagi yang seorang berarti berlaku untuk semua."
Baca juga: Polemik Penundaan Pilkada di Tengah Ancaman Covid-19, Ini Saran MUI
Boran sudah mengetahui apa yang terjadi terhadap Javan, dan berita itu sampai juga kepada Rustum. la memerintahkan Jalinus untuk menolong teman-temannya dan menyusul Narsi di Kaskar. Jalinus memisahkan diri berangkat cepat-cepat ke tujuannya. Tetapi Abu Ubaid dalam menempuh perjalanan rupanya lebih cepat.
Lihat Juga :