Lembah Keesaan: Cerita Lain tentang Mahmud dan Ayaz
Selasa, 22 September 2020 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
Bila keduaan lenyap, keesaan ditemukan.
Mahmud dan Ayaz
Ada diceritakan bahwa suatu kali Faruk: dan Masud hadir pada pameran barisan tentara Mahmud yang terdiri dari gajah, kuda dan pasukan prajurit yang tak terhitung banyaknya, sehingga bumi pun seakan tertutup dengan semut dan belalang. Ayaz dan Hassan menyertai Mahmud yang duduk di suatu tempat yang tinggi.
Baca juga: Rocky Gerung: Mahfud MD Seperti Cacing Kepanasan di Dalam Istana
Ketika bala tentara yang hebat itu berjalan dalam barisan melalui mereka, raja besar itu dengan begitu saja berkata pada Ayaz, "Anakku, segala gajah, kuda dan prajuritku ini kini menjadi milikmu, karena cintaku padamu sedemikian rupa sehingga kupandang kau sebagai raja."
Meskipun kata-kata itu diucapkan oleh Mahmud yang termasyhur itu, namun Ayaz tampak tak peduli dan tak bergerak; tiada ia berterimakasih pada raja maupun memberikan ulasan.
Dengan heran, Hassan pun berkata padanya, "Ayaz, seorang raja telah memberikan kehormatan padamu, seorang hamba biasa, dan kau tak sedikit juga memperlihatkan tanda berterimakasih; kau pun tak pula membungkuk maupun bersujud sebagai tanda hormat."
Baca juga: Menkeu Berharap Label Halal Tidak Bebani Industri Syariah
Ayaz sedikit berpikir dan kemudian katanya, "Mesti kuberikan dua jawaban atas celaanmu: yang pertama ialah bahwa bila aku, yang tak punya ketetapan dan kedudukan ini, hendak menunjukkan pengabdianku pada raja, maka aku hanya dapat menjatahkan diri pada debu di hadapannya dalam semacam kehinaan diri atau jika tidak demikian, menyanyikan pujian-pujian untuknya dengan suara melolong-lolong. Antara berbuat berlebih-lebihan dan berbuat kelewat sedikit, lebih baik tak berbuat apa-apa."
"Hamba ini hamba raja, dan hormatku pada raja dianggap sebagai sudah semestinya. Adapun tentang kehormatan yang telah dianugerahkan raja yang berbahagia ini kepadaku, seandainya kedua dunia mesti menyatakan pujian-pujian untuknya, kesaksian keduanya itu pun tak akan sebanding dengan kebaikan raja. Kalau aku tak menunjukkan kelakuan yang berlebihan, dan tak menyatakan kesetiaanku, adalah karena aku merasa diriku tak layak berbuat demikian."
Hassan berkata, "O Ayaz, aku tahu sekarang bahwa kau merasa berterima kasih dan aku menaruh percaya padamu karena kau layak mendapat seratus karunia."
Kemudian tambahnya, "Kini katakan padaku jawaban yang kedua."
Tetapi Ayaz berkata, "Tak dapat aku bicara dengan bebas di hadapanmu; itu hanya dapat kulakukan kalau aku sendirian saja dengan raja. Kau bukan mahram rahasia itu."
Baca juga: Polemik Penundaan Pilkada di Tengah Ancaman Covid-19, Ini Saran MUI
Maka raja pun minta agar Hassan meninggalkan mereka, dan ketika tak ada lagi "kita" atau "aku", maka Ayaz pun berkata, "Ketika raja berkenan melemparkan pandangan pada diri hamba, ia memusnahkan adaku dengan kegemilangan cahayanya. Karena dalam cahaya mataharinya yang gemilang itu aku tak ada lagi, bagaimana aku akan bersujud diri? Ayaz ialah bayang-bayangnya, hilang dalam matahari wajahnya."
Mahmud dan Ayaz
Ada diceritakan bahwa suatu kali Faruk: dan Masud hadir pada pameran barisan tentara Mahmud yang terdiri dari gajah, kuda dan pasukan prajurit yang tak terhitung banyaknya, sehingga bumi pun seakan tertutup dengan semut dan belalang. Ayaz dan Hassan menyertai Mahmud yang duduk di suatu tempat yang tinggi.
Baca juga: Rocky Gerung: Mahfud MD Seperti Cacing Kepanasan di Dalam Istana
Ketika bala tentara yang hebat itu berjalan dalam barisan melalui mereka, raja besar itu dengan begitu saja berkata pada Ayaz, "Anakku, segala gajah, kuda dan prajuritku ini kini menjadi milikmu, karena cintaku padamu sedemikian rupa sehingga kupandang kau sebagai raja."
Meskipun kata-kata itu diucapkan oleh Mahmud yang termasyhur itu, namun Ayaz tampak tak peduli dan tak bergerak; tiada ia berterimakasih pada raja maupun memberikan ulasan.
Dengan heran, Hassan pun berkata padanya, "Ayaz, seorang raja telah memberikan kehormatan padamu, seorang hamba biasa, dan kau tak sedikit juga memperlihatkan tanda berterimakasih; kau pun tak pula membungkuk maupun bersujud sebagai tanda hormat."
Baca juga: Menkeu Berharap Label Halal Tidak Bebani Industri Syariah
Ayaz sedikit berpikir dan kemudian katanya, "Mesti kuberikan dua jawaban atas celaanmu: yang pertama ialah bahwa bila aku, yang tak punya ketetapan dan kedudukan ini, hendak menunjukkan pengabdianku pada raja, maka aku hanya dapat menjatahkan diri pada debu di hadapannya dalam semacam kehinaan diri atau jika tidak demikian, menyanyikan pujian-pujian untuknya dengan suara melolong-lolong. Antara berbuat berlebih-lebihan dan berbuat kelewat sedikit, lebih baik tak berbuat apa-apa."
"Hamba ini hamba raja, dan hormatku pada raja dianggap sebagai sudah semestinya. Adapun tentang kehormatan yang telah dianugerahkan raja yang berbahagia ini kepadaku, seandainya kedua dunia mesti menyatakan pujian-pujian untuknya, kesaksian keduanya itu pun tak akan sebanding dengan kebaikan raja. Kalau aku tak menunjukkan kelakuan yang berlebihan, dan tak menyatakan kesetiaanku, adalah karena aku merasa diriku tak layak berbuat demikian."
Hassan berkata, "O Ayaz, aku tahu sekarang bahwa kau merasa berterima kasih dan aku menaruh percaya padamu karena kau layak mendapat seratus karunia."
Kemudian tambahnya, "Kini katakan padaku jawaban yang kedua."
Tetapi Ayaz berkata, "Tak dapat aku bicara dengan bebas di hadapanmu; itu hanya dapat kulakukan kalau aku sendirian saja dengan raja. Kau bukan mahram rahasia itu."
Baca juga: Polemik Penundaan Pilkada di Tengah Ancaman Covid-19, Ini Saran MUI
Maka raja pun minta agar Hassan meninggalkan mereka, dan ketika tak ada lagi "kita" atau "aku", maka Ayaz pun berkata, "Ketika raja berkenan melemparkan pandangan pada diri hamba, ia memusnahkan adaku dengan kegemilangan cahayanya. Karena dalam cahaya mataharinya yang gemilang itu aku tak ada lagi, bagaimana aku akan bersujud diri? Ayaz ialah bayang-bayangnya, hilang dalam matahari wajahnya."
(mhy)
Lihat Juga :