Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Selasa, 21 Juli 2026 - 10:23 WIB
loading...
Dua ayat terakhir Al Baqarah ini turun sebagai jawaban atas kegelisahan para sahabat setelah Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 284 yang mereka rasakan sangat berat. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Asbabun nuzul atau kisah dibalik turunnnya dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah, yakni ayat 285 dan 286, penting diketahui dan dipahami umat Islam. Dua ayat agung ini turun sebagai jawaban atas kegelisahan para sahabat setelah Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 284 yang mereka rasakan sangat berat.
Surat Al-Baqarah sendiri merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur'an dengan jumlah 286 ayat. Para ulama menyebutnya sebagai Fusthaatul Qur'an (puncak Al-Qur'an) karena memuat berbagai hukum syariat yang tidak ditemukan secara lengkap dalam surat lainnya.
Selain memiliki kandungan hukum yang luas, dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah juga dikenal memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bahkan menganjurkan umat Islam untuk membacanya karena mengandung doa, keimanan, serta jaminan pertolongan dari Allah SWT.
Ketika Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 284 yang berbunyi: "Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkannya bagimu..." (QS Al-Baqarah: 284), para sahabat merasa sangat khawatir. Mereka memahami bahwa Allah akan menghisab segala sesuatu, termasuk lintasan hati yang tidak mampu mereka kendalikan.
Dalam riwayat tersebut disebutkan, para sahabat datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam seraya berkata:
"Wahai Rasulullah, kami telah dibebani dengan amal yang mampu kami kerjakan seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah. Kini turun ayat ini yang kami tidak sanggup melaksanakannya."
Mendengar kegelisahan itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Apakah kalian hendak mengatakan sebagaimana Ahli Kitab sebelum kalian mengatakan, 'Kami dengar tetapi kami durhaka?' Katakanlah, 'Kami dengar dan kami taat. Kami memohon ampun kepada-Mu wahai Tuhan kami dan hanya kepada-Mu tempat kembali.'"
Para sahabat pun mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh keimanan dan kepasrahan.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS Al-Baqarah: 286).
Turunnya ayat ini menghapus kegelisahan para sahabat. Mereka memahami bahwa Allah tidak akan membebani manusia di luar batas kemampuan mereka.
Lintasan hati yang tidak disengaja serta terus diupayakan untuk dihilangkan tidak menjadi sebab seseorang diazab. Yang diperhitungkan Allah adalah niat, pilihan, dan amal yang dilakukan dengan kesadaran.
Karena itulah, ketika turun ayat yang menyatakan bahwa Allah mengetahui segala isi hati manusia, mereka merasa takut apabila lintasan-lintasan yang tidak diinginkan itu menjadi penyebab turunnya azab Allah.
Kekhawatiran serupa juga tergambar dalam kisah Umar bin Khattab RA yang pernah bertanya kepada Huzaifah RA:
"Apakah engkau melihat pada diriku salah satu tanda kemunafikan?"
Pertanyaan itu menunjukkan betapa besar rasa takut para sahabat terhadap murka Allah, meskipun mereka adalah generasi terbaik umat Islam.
Allah mengampuni hamba-hamba yang bertobat, memberikan pahala berlipat kepada orang-orang yang beramal saleh, serta hanya mengazab mereka yang layak menerima hukuman.
Makna ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 225:
"Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak membebani manusia atas sesuatu yang berada di luar kemampuannya ataupun atas lintasan hati yang tidak disengaja.
Pertama, seorang mukmin wajib mendahulukan sikap sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) terhadap seluruh ketentuan Allah SWT.
Kedua, Allah tidak pernah memberikan beban syariat melebihi kemampuan hamba-Nya. Setiap perintah dan larangan selalu berada dalam batas yang sanggup dijalankan manusia.
Ketiga, Allah Maha Mengetahui isi hati manusia, tetapi Dia juga Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Adil dalam memberikan balasan.
Keempat, seorang Muslim hendaknya senantiasa memohon taufik, hidayah, dan pertolongan Allah agar mampu menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Sebagai penutup Surat Al-Baqarah, ayat 285 dan 286 menjadi penegasan bahwa Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman menerima seluruh ajaran Al-Qur'an dengan penuh keimanan. Ayat-ayat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa seluruh hukum Allah adalah benar dan diturunkan demi kemaslahatan manusia di dunia maupun akhirat. Wallahu a'lam bish-shawab.
Surat Al-Baqarah sendiri merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur'an dengan jumlah 286 ayat. Para ulama menyebutnya sebagai Fusthaatul Qur'an (puncak Al-Qur'an) karena memuat berbagai hukum syariat yang tidak ditemukan secara lengkap dalam surat lainnya.
Selain memiliki kandungan hukum yang luas, dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah juga dikenal memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bahkan menganjurkan umat Islam untuk membacanya karena mengandung doa, keimanan, serta jaminan pertolongan dari Allah SWT.
Asbabun Nuzul
Kisah turunnya ayat 285 dan 286 diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA.Ketika Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 284 yang berbunyi: "Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkannya bagimu..." (QS Al-Baqarah: 284), para sahabat merasa sangat khawatir. Mereka memahami bahwa Allah akan menghisab segala sesuatu, termasuk lintasan hati yang tidak mampu mereka kendalikan.
Dalam riwayat tersebut disebutkan, para sahabat datang menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam seraya berkata:
"Wahai Rasulullah, kami telah dibebani dengan amal yang mampu kami kerjakan seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah. Kini turun ayat ini yang kami tidak sanggup melaksanakannya."
Mendengar kegelisahan itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Apakah kalian hendak mengatakan sebagaimana Ahli Kitab sebelum kalian mengatakan, 'Kami dengar tetapi kami durhaka?' Katakanlah, 'Kami dengar dan kami taat. Kami memohon ampun kepada-Mu wahai Tuhan kami dan hanya kepada-Mu tempat kembali.'"
Para sahabat pun mengucapkan kalimat tersebut dengan penuh keimanan dan kepasrahan.
Allah Menenangkan Hati Para Sahabat
Setelah para sahabat menunjukkan sikap tunduk dan taat kepada Allah, turunlah ayat berikutnya, yakni Surat Al-Baqarah ayat 285, kemudian disusul ayat penutup surat tersebut, ayat 286 yang berisi kabar gembira:"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS Al-Baqarah: 286).
Turunnya ayat ini menghapus kegelisahan para sahabat. Mereka memahami bahwa Allah tidak akan membebani manusia di luar batas kemampuan mereka.
Lintasan hati yang tidak disengaja serta terus diupayakan untuk dihilangkan tidak menjadi sebab seseorang diazab. Yang diperhitungkan Allah adalah niat, pilihan, dan amal yang dilakukan dengan kesadaran.
Mengapa Para Sahabat Sangat Takut?
Para sahabat Rasulullah ﷺ sebelumnya hidup dalam masyarakat Arab Jahiliyah. Meski telah memeluk Islam dengan sepenuh hati, mereka khawatir masih terdapat sisa-sisa pengaruh kebiasaan masa lalu di dalam hati mereka.Karena itulah, ketika turun ayat yang menyatakan bahwa Allah mengetahui segala isi hati manusia, mereka merasa takut apabila lintasan-lintasan yang tidak diinginkan itu menjadi penyebab turunnya azab Allah.
Kekhawatiran serupa juga tergambar dalam kisah Umar bin Khattab RA yang pernah bertanya kepada Huzaifah RA:
"Apakah engkau melihat pada diriku salah satu tanda kemunafikan?"
Pertanyaan itu menunjukkan betapa besar rasa takut para sahabat terhadap murka Allah, meskipun mereka adalah generasi terbaik umat Islam.
Allah Maha Pengampun dan Maha Adil
Melalui ayat-ayat penutup Surat Al-Baqarah, Allah SWT menegaskan bahwa Dia mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati manusia. Namun, perhitungan Allah berlangsung dengan penuh keadilan dan kasih sayang.Allah mengampuni hamba-hamba yang bertobat, memberikan pahala berlipat kepada orang-orang yang beramal saleh, serta hanya mengazab mereka yang layak menerima hukuman.
Makna ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 225:
"Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat yang terkandung dalam hatimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak membebani manusia atas sesuatu yang berada di luar kemampuannya ataupun atas lintasan hati yang tidak disengaja.
Pelajaran dari Turunnya Surat Al-Baqarah Ayat 285-286
Turunnya dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi setiap Muslim.Pertama, seorang mukmin wajib mendahulukan sikap sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) terhadap seluruh ketentuan Allah SWT.
Kedua, Allah tidak pernah memberikan beban syariat melebihi kemampuan hamba-Nya. Setiap perintah dan larangan selalu berada dalam batas yang sanggup dijalankan manusia.
Ketiga, Allah Maha Mengetahui isi hati manusia, tetapi Dia juga Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Adil dalam memberikan balasan.
Keempat, seorang Muslim hendaknya senantiasa memohon taufik, hidayah, dan pertolongan Allah agar mampu menjalankan seluruh perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Sebagai penutup Surat Al-Baqarah, ayat 285 dan 286 menjadi penegasan bahwa Rasulullah ﷺ dan orang-orang beriman menerima seluruh ajaran Al-Qur'an dengan penuh keimanan. Ayat-ayat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa seluruh hukum Allah adalah benar dan diturunkan demi kemaslahatan manusia di dunia maupun akhirat. Wallahu a'lam bish-shawab.
(wid)
Lihat Juga :