Kontroversi Kelahiran Nabi Isa, Begini Pendapat Islam dan Nasrani
Sabtu, 26 Desember 2020 - 18:19 WIB
loading...
A
A
A
Kelahirannya tanpa bapak, membuat sejumlah umatnya menganggap Nabi Isa sebagai Anak Tuhan. Bukan hanya dalam arti 'simbolis', melainkan benar-benar dalam arti 'biologis'. Seperti terbaca dalam Inijl Lukas 1:28-32: "Maka Malaikat itupun datanglah kepadanya serta berkata sejahterah lah engkau yang sudah beroleh anugrah Tuhanlah beserta engkau Maka terkejutlah ia sebab katanya demikian, serta berfikir akan pengertian salam ini. Maka kata Malaikat kepada Maryam, janganlah takut hai Maryam karena engkau sudah beroleh anugrah Allah. Sesungguhnya engkau akan hamil dan beranakkan seorang laki-laki maka hendaklah engaku namakan dia Yesus Maka ia akan menjadi besar, ia akan dikatakan anak Allah yang maha tinggi, maka Allah Tuhan kita mengaruniakan tahta Daud nenek moyangnya itu. dan tiadalah Yusuf bersetubuh dengan Maryam sehingga Maryam melahirkan seorang anak laki-laki lalu diberinya nama Yesus."
Allah Ta'ala membantah hal itu dalam Surah Yunus Ayat 68, Allah berfirman: "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
Fitnah Yahudi
Demikian pula perbedaan pendapat dalam hal tempat dan kapan Nabi Isa dilahirkan. Perihal kelahiran itu ternyata mengundang perhatian orang Yahudi sehingga Maryam dituduh berzina. Talmud menyatakan bahwa al-Masih terlahir sebagai anak haram, karena ibunya Maryam hamil ketika sedang haid.
Ia juga diselimuti oleh roh Esau. Berawal dari kelahiran inilah, sehingga kemudian orang-orang memuliakan Nabi Isa bahkan dianggap sebagai Tuhan oleh para pengikutnya di kemudian hari.
Dalam hal kelahiran Nabi Isa seperti yang telah disebutkan di atas maka sangat jelas bahwa Nabi Isa lahir tanpa bapak karena atas izin Allah. Nabi Isa tiada lain hanya utusan Allah sama seperti Nabi-nabi Allah lainnya.
Misi Nabi Isa Sebagai Rasul Allah
Setiap Nabi diutus oleh Allah Ta'ala memiliki tujuan atau misi dalamberdakwah. Adapun misi dakwah seorang nabi sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya. Nabi Isa adalah Nabi yang melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni risalah Nabi Musa sebagaimana terdapat dalam Surah as-Shaf Ayat 6, Allah berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."
Sejak usia enam tahun, Nabi Isa sudah memasuki perguruan Taurat. Ia memahami hukum Taurat lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia bertanya jawab soal Taurat dengan orang- orang Yahudi yang jauh lebi tua, baik soal hukum sampai soal ketuhanan.
Setelah Nabi Isa berusia 30 tahun, Malaikat Jibril datang sebagai utusan Allah untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan rasul-rasul sebelumnya dan memberi kabar kepada manusia tentang kedatangan seorang Nabi terakhir yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Menurut keterangan Perjanjian Baru dalam kitab Injil karangan Lukas 4:23: "Maka Yesus sendiri tatkala ia mulai mengajar, umurnya kira-kira 30 tahun, maka sangka orang ia itu anak Yusuf, anak Heli."
Sumber lain mengatakan bahwa setelah berumur 30 tahun, saudara sepupu Yahya bin Zakaria diakui sebagai guru oleh ulama Yahudi, Yesus dimandikan (dibabtis) sebagai isyarat pengakuan bahwa ilmunya sudah cukup untuk mengajar. Oleh Karena memandikan Yesus maka Yahya diberi gelar "Yahya Pembabtis" (Yohane de Dooper).
Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan kapan Nabi Isa diangkat menjadi Nabi, dan di mana tempatnya. Akan tetapi, perintah kenabian Nabi Isa dikenal sejak beliau lahir dan sejak berbicara kepada Bani Israil ketika masih dalam buaian. Seperti yang terdapat dalam Surah Maryam Ayat 30, Allah berfirman: "Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi."
Allah Ta'ala membantah hal itu dalam Surah Yunus Ayat 68, Allah berfirman: "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
Fitnah Yahudi
Demikian pula perbedaan pendapat dalam hal tempat dan kapan Nabi Isa dilahirkan. Perihal kelahiran itu ternyata mengundang perhatian orang Yahudi sehingga Maryam dituduh berzina. Talmud menyatakan bahwa al-Masih terlahir sebagai anak haram, karena ibunya Maryam hamil ketika sedang haid.
Ia juga diselimuti oleh roh Esau. Berawal dari kelahiran inilah, sehingga kemudian orang-orang memuliakan Nabi Isa bahkan dianggap sebagai Tuhan oleh para pengikutnya di kemudian hari.
Dalam hal kelahiran Nabi Isa seperti yang telah disebutkan di atas maka sangat jelas bahwa Nabi Isa lahir tanpa bapak karena atas izin Allah. Nabi Isa tiada lain hanya utusan Allah sama seperti Nabi-nabi Allah lainnya.
Misi Nabi Isa Sebagai Rasul Allah
Setiap Nabi diutus oleh Allah Ta'ala memiliki tujuan atau misi dalamberdakwah. Adapun misi dakwah seorang nabi sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya. Nabi Isa adalah Nabi yang melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni risalah Nabi Musa sebagaimana terdapat dalam Surah as-Shaf Ayat 6, Allah berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."
Sejak usia enam tahun, Nabi Isa sudah memasuki perguruan Taurat. Ia memahami hukum Taurat lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia bertanya jawab soal Taurat dengan orang- orang Yahudi yang jauh lebi tua, baik soal hukum sampai soal ketuhanan.
Setelah Nabi Isa berusia 30 tahun, Malaikat Jibril datang sebagai utusan Allah untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan rasul-rasul sebelumnya dan memberi kabar kepada manusia tentang kedatangan seorang Nabi terakhir yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Menurut keterangan Perjanjian Baru dalam kitab Injil karangan Lukas 4:23: "Maka Yesus sendiri tatkala ia mulai mengajar, umurnya kira-kira 30 tahun, maka sangka orang ia itu anak Yusuf, anak Heli."
Sumber lain mengatakan bahwa setelah berumur 30 tahun, saudara sepupu Yahya bin Zakaria diakui sebagai guru oleh ulama Yahudi, Yesus dimandikan (dibabtis) sebagai isyarat pengakuan bahwa ilmunya sudah cukup untuk mengajar. Oleh Karena memandikan Yesus maka Yahya diberi gelar "Yahya Pembabtis" (Yohane de Dooper).
Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan kapan Nabi Isa diangkat menjadi Nabi, dan di mana tempatnya. Akan tetapi, perintah kenabian Nabi Isa dikenal sejak beliau lahir dan sejak berbicara kepada Bani Israil ketika masih dalam buaian. Seperti yang terdapat dalam Surah Maryam Ayat 30, Allah berfirman: "Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi."
Lihat Juga :