Kisah Sunan Gresik: Ketika Kakek Bantal Menaklukkan Dewa Hujan

Senin, 28 Desember 2020 - 14:05 WIB
loading...
A A A
Sunan Gresik menghadap ke arah kerumunan orang-orang desa, kemudian bertanya, “Kalau kami dapat menurunkan hujan. Maukah kalian membebaskan gadis itu?”

“Mauuuuu …… !” jawab orang-orang desa dengan serentak.

“Terima kasih,” jawab Sunan Gresik. ”Dalam ajaran agama kami, seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya disebut yatim piatu. Tidak boleh disia-siakan dan ditelantarkan, melainkan harus disantuni dan diperhatikan nasibnya. Bukannya dikorbankan kepada Dewa Hujan!”

Para penduduk desa nampak tercenung mendengar ucapan Sunan Gresik. Sementara Sunan Gresik dan kelima muridnya yang selalu berusaha dalam keadaan suci (tak batal wudhu’nya) segera melaksanakan shalat istisqo’ dan berdoá dengan khusyu’nya.

Tak berapa lama kemudian, langit tiba-tiba berubah menjadi hitam oleh mendung yang berarak. Dan hujan turun dengan derasnya. Membasahi bumi yang kering kerontang. Semua orang yang berkumpul langsung bersorak-sorai kegirangan. Hanya pendeta tua dan keempat lelaki yang masih memegangi tangan dan kaki gadis yang berdiam diri dalam
keangkuhannya.

“Sihir! Pasti kalian mempergunakan ilmu sihir,“ teriak pendeta tua, “Hujan itu tidak nyata, hanya khayalan saja!”

Sunan Gresik segera menghampiri pendeta tua sembari berkata, “Kisanak, sihir itu terlarang bagi orang Islam. Kami tidak boleh mempelajarinya apalagi mengamalkannya. Hujan ini adalah nyata rahmat dari Allah yang menciptakan langit dan bumi!”

Agaknya pendeta tua itu tak mau mengakui kenyataan yang ada. Dia memberi isyarat kepada keempat anak buahnya untuk mengikuti langkahnya pergi meninggalkan desa itu.

Ketika hujan sudah reda, orang-orang yang bersorak sorai kegirangan segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sunan Gresik dan kelima muridnya. Termasuk si gadis yang hampir saja dikorbankan nyawanya oleh pendeta tua.

“Bangunlah Kisanak semua !” kata Sunan Gresik. “kalian tidak boleh bersujud kepada sesama manusia. Hanya Tuhan Allah yang pantas kalian sembah dalam sujud.”

Setelah mendengar ucapan Sunan Gresik, semua orang segera bangkit untuk bersila, salah seorang dari mereka yang nampaknya berusia lanjut berkata, “Kami sangat berterima kasih kepada Tuan, karena Tuan telah menolong kami menurunkan hujan yang telah lama kami tunggu-tunggu. Bolehkah kami minta diajarkan tata cara meminta hujan seperti tadi?”

“Ya!” sahut penduduk lainnya. “Ajarkan kepada kami cara menurunkan hujan tanpa mengorbankan manusia!”

Sunan Gresik tersenyum arif. Orang-orang desa itu telah manaruh simpati kepadanya. Rasa simpati itulah modal utama untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada mereka.

“Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti tadi,” kata Sunan Gresik, “Maka kalian harus mengenal dan mempelajari dulu agama Islam. Maukah kalian?”

“Mauuuuuu ..! jawab para penduduk dengan serentak.

Demikianlah, selama beberapa hari Sunan Gresik tinggal di desa itu. Membimbing para penduduk desa untuk mempelajari agama Islam sesuai dengan tingkat pemahaman mereka selaku orang awam.

Selanjutnya Sunan Gresik meneruskan perjalanan pulang ke Gresik. Beliau telah menugaskan dua orang muridnya yang ahli dalam mengolah lahan pertanian dan bangunan untuk membimbing penduduk desa itu. Sehingga terbinalah iman dan taraf hidup penduduk desa itu.

Pada setiap desa yang dilaluinya Sunan Gresik selalu berbuat kebajikan. Jika dipandang perlu untuk menempatkan muridnya di desa yang disinggahi maka murid itupun ditugaskan untuk membimbing penduduk desa yang dilaluinya.

Demikian Lawrens Rasyidi menggambarkan cara Sunan Gresik berdakwah. Selain itu juga ada kisah pengusiran perampok di sekitar wilayah Gresik yang kemudian para perampok itu diajarkan salat taubat di pesantren beliau.

Perampok tersebut pada akhirnya terharu karena kebaikan beliau dan menyesal atas perbuatan yang telah dilakukannya selama ini. Iapun pada akhirnya mempelajari agama Islam di pesantren Syaikh Maulana Malik Ibrahim. (Baca juga: Raden Said, Mengguncang Istana dengan Bacaan Al-Qur'an )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Musyrif Cinta Quran...
Musyrif Cinta Quran Center Tembus Grand Final Cahaya Muda Indonesia
Menang Lelang, Komunitas...
Menang Lelang, Komunitas Muslim Indonesia Akan Bangun Gedung Dakwah di Australia
Dewan Dakwah Lepas 225...
Dewan Dakwah Lepas 225 Dai Muda Terbaik dari Gedung MPR RI
Dai Muda Diajak Isi...
Dai Muda Diajak Isi Media Digital dengan Film Dakwah
225 Dai Dilepas Laznas...
225 Dai Dilepas Laznas Dewan Dakwah ke Daerah Terpencil
Ditjen Bimas Islam dan...
Ditjen Bimas Islam dan UIN Jakarta Susun Indeks Layanan Dakwah
Rekomendasi
Lebih Dulu Zigot atau...
Lebih Dulu Zigot atau Embrio? Perspektif Al-Quran dan Sains Modern
Tepian Danau Titan Menunjukkan...
Tepian Danau Titan Menunjukkan Bukti Adanya Gelombang Besar
Jantung Mumi Berusia...
Jantung Mumi Berusia 2.500 Tahun Ini Masih Berdenyut, Ilmuwan Ungkap Keganjilan Ini
Artikel Terkini
Siap-siap Memasuki Muharram,...
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Infografis
Fakta Fenomena Hujan...
Fakta Fenomena Hujan Meteor Berbahaya Bagi Bumi dan Manusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved