Saat Menghadapi Musibah, Seorang Muslim Harusnya Di Posisi Mana?
Senin, 11 Januari 2021 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَسُرُّهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ وَإِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَكْرَهُهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin, semoga Allah Ta'ala meridhai, beliau berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika ditimpa keadaan yang menyenangkan, maka Rasulullah berkata : Alhamdulillah alladzii bi ni’matihii tatimmus shoolihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan dariNya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Sedangkan jika beliau ditimpa sesuatu yang tidak disenanginya, beliau mengucapkan : Alhamdulillah ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segenap keadaan).” (HR Ibnu Majah)
Dari hadis tersebut, kita perlu memetik pelajaran tentang kepasrahan dan ketaatan kepada Allah Ta'ala saat menghadapi musibah. Para ulama menyebutkan bahwa seseorang dalam menghadapi musibah ada empat posisi atau keadaan. Seorang muslim harus menempatkan posisinya sesuai yang diridhai Allah Ta'ala.
(Baca juga: Jalur Puncak Longsor, Petugas: Tinggal Disemprot Biar Bisa Dilalui )
1. Manusia marah bila terkena musibah
Yaitu seseorang menampakkan rasa marah baik pada lisan, hati atau anggota badannya. Seseorang yang murka pada Allah dalam hatinya yaitu dia merasa benci (murka) pada Allah Ta'ala dan dia merasa bahwa Allah Ta'ala telah menzaliminya dengan ditimpakan suatu musibah. Muslimin harus berlindung pada Allah dari perbuatan semacam ini.
2. Seseorang akan sabar saat musibah.
Yakni dengan menahan diri terhadap musibah yang dihadapi. Keadaan ini adalah seseorang benci dan tidak menyukai musibah tetapi dia bisa menahan diri dengan tidak menggerutu dengan lisannya yang bisa membuat Allah Ta'ala murka padanya. Dia tidak marah dan tidak juga menggerutu dalam hatinya.
3. Ridha terhadap musibah
Yaitu seseorang merasa lapang hatinya dengan musibah yang menimpa, dia betul-betul ridha dan seakan-akan dia tidak mendapatkan musibah. Hukum sabar dengan musibah adalah wajib. Ridha adalah mustahab (dianjurkan).
(Baca juga: Simak! Aturan & Daftar Terbaru Negara Tujuan Buruh Migran RI )
4. Bersyukur kepada Allah Ta'ala atas musibah yang menimpa
Keadaan seperi inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin, semoga Allah Ta'ala meridhai, beliau berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam jika ditimpa keadaan yang menyenangkan, maka Rasulullah berkata : Alhamdulillah alladzii bi ni’matihii tatimmus shoolihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan dariNya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Sedangkan jika beliau ditimpa sesuatu yang tidak disenanginya, beliau mengucapkan : Alhamdulillah ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segenap keadaan).” (HR Ibnu Majah)
Dari hadis tersebut, kita perlu memetik pelajaran tentang kepasrahan dan ketaatan kepada Allah Ta'ala saat menghadapi musibah. Para ulama menyebutkan bahwa seseorang dalam menghadapi musibah ada empat posisi atau keadaan. Seorang muslim harus menempatkan posisinya sesuai yang diridhai Allah Ta'ala.
(Baca juga: Jalur Puncak Longsor, Petugas: Tinggal Disemprot Biar Bisa Dilalui )
1. Manusia marah bila terkena musibah
Yaitu seseorang menampakkan rasa marah baik pada lisan, hati atau anggota badannya. Seseorang yang murka pada Allah dalam hatinya yaitu dia merasa benci (murka) pada Allah Ta'ala dan dia merasa bahwa Allah Ta'ala telah menzaliminya dengan ditimpakan suatu musibah. Muslimin harus berlindung pada Allah dari perbuatan semacam ini.
2. Seseorang akan sabar saat musibah.
Yakni dengan menahan diri terhadap musibah yang dihadapi. Keadaan ini adalah seseorang benci dan tidak menyukai musibah tetapi dia bisa menahan diri dengan tidak menggerutu dengan lisannya yang bisa membuat Allah Ta'ala murka padanya. Dia tidak marah dan tidak juga menggerutu dalam hatinya.
3. Ridha terhadap musibah
Yaitu seseorang merasa lapang hatinya dengan musibah yang menimpa, dia betul-betul ridha dan seakan-akan dia tidak mendapatkan musibah. Hukum sabar dengan musibah adalah wajib. Ridha adalah mustahab (dianjurkan).
(Baca juga: Simak! Aturan & Daftar Terbaru Negara Tujuan Buruh Migran RI )
4. Bersyukur kepada Allah Ta'ala atas musibah yang menimpa
Keadaan seperi inilah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Lihat Juga :