Kisah Dzulqarnain, Pemimpin Hebat yang Mampu Jinakkan Yakjuj dan Makjuj
Jum'at, 29 Januari 2021 - 22:29 WIB
loading...
A
A
A
Dzulqarnain berkata, 'Adapun orang yang aniaya, kami akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’." (Al-Kahfi: 83-88)
"Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur) di dapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya matahari) itu, demikianlah, dan sesungguhnya Kami mengetahui segala sesuatu yang ada padanya (Dzulqarnain). Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, "Wahai Zulkarnain! Sungguh, Yakjuj dan Makjuj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?" (Al-Kahfi: 89-94)
Dia ( Dzulqarnain ) berkata, "Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi!" Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, "Tiuplah (api itu)!" Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu)." Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.
Dia (Dzulqarnain) berkata, "(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancur-luluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar." Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (Yakjuj dan Makjuj) berbaur antara satu dengan yang lain, dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan mereka semuanya. Dan Kami perlihatkan (neraka) Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang kafir, (yaitu) orang yang mata (hati)nya dalam keadaan tertutup (tidak mampu) dari memperhatikan tanda-tanda (kebesaran)-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar. (Al-Kahfi; 95-101)
Bertanduk Dua?
Sebagian pihak berpendapat gelar Dzulqarnain "Bertanduk Dua" secara tersirat merujuk kepada Iskandar Agung maupun ukiran dinding Cyrus Agung. Ahli tafsir Qur'an abad ke-14 memberikan sebab yang berbeda. Dalam Tafsir Ibn Katsir menyatakan, "Sebagian mereka memanggilnya Dzulqarnain kerana dapat mencapai dua "tanduk" (batas) matahari, Timur dan Barat, tempat ia terbit dan terbenam."
Kemudian, nama Dzulqarnain juga diterjemahkan menjadi "Dia yang Berketurunan Dua", "Dia yang hidup hingga dua kurun", "Dia yang memiliki dua kerajaan" ataupun "Pemerintah Dua Kerajaan". Banyak yang menafsirkan perkataan itu dengan maksud yang berbeda. Ada pendapat yang mengatakan "Bertanduk Dua" artinya menggabungkan dua negeri.
Antara Iskandar Agung dan Dzulqarnain
Sejarawan Islam seperti Sayyid Ahmad Khan (penafsir Qur'an), Molana Abolkalam Azad, Baha'eddin Khomrashahi dan Dr Muhammad Ebrahim Bastabi Parizi menyangkal bahwa Dzulqarnain adalah Iskandar Agung. Mereka lebih menghendaki Dzulqarnain adalah Cyrus Agung yaitu Raja Parsi Arkaemenia. Mereka memberikan bukti-bukti termasuk artefak tulisan dan ukiran pada batu istana dan kuburan. Berikut beberapa bukti yang disebutkan:
1. Ukiran pada batu yang masih dapat dilihat hingga kini yang memaparkan Cyrus dengan mahkotanya mempunyai tanduk.
2. Menurut Al-Qur'an, rahmat Tuhan diberikan bersamanya dan dengan itu, Cyrus merupakan raja pertama (beberapa ratus tahun sebelum Iskandar Agung) yang menaklukkan sebagian besar Eropa dan Asia.
3. Cyrus (seperti juga Dzulqarnain) menyembah satu Tuhan tetapi Iskandar Agung mempunyai banyak dewa-dewi.
4. Di dalam Al-Qur'an tercatat perjalanan Dzulqarnain yaitu bermula ke Barat lalu ke Timur sebelum ke jalan yang lain (yaitu Utara) bertepatan dengan ekspedisi Cyrus yang diawali penaklukan di Barat hingga ke Asia Kecil. Kemudian berpindah ke timur sebelum ke Timur Laut menawan Eropah berhampiran Balkan.
5. Ekspedisi Cyrus diteruskan dengan penaklukan Lycia, Cilicia dan Phoenicia, dan mereka menggunakan teknik pembinaan tembok yang belum digunakan oleh orang Yunani ketika itu.
6. Menurut Al-Qur'an, pengembaraan Dzulqarnain dimudahkan dan kebetulan lagi bagi Cyrus. Beliau sempat menamatkan ekspedisinya kali itu pada 542 SM, sebelum pulang ke Persia manakala Iskandar masih dalam misi menakluknya ketika dia mati.
7. Kepribadian Iskandar juga dikatakan tidak mencerminkan kemuliaan karena Iskandar sendiri sering berpesta arak dan mempunyai seorang lelaki, Haphaeston, sebagai kekasihnya.
Menurut Afareez Abd Razak Al-Hafiz, seorang penulis Buku "Benarkah Iskandar Bukan Dzulqarnain" telah menceritakan bahwa Raja Kurush (Koresh) yang memerintah Persia ketika itu ialah Nabi Dzulqarnain. Hasil kajian yang dilakukan oleh beliau telah menunjukkan terdapat persamaan ciri-ciri antara Raja Kurush dengan Dzulqarnain.
Baca Juga: Siapakah Ya'juj dan Ma'juj dan Bagaimana Cirinya?
Wallahu A'lam
"Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur) di dapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya matahari) itu, demikianlah, dan sesungguhnya Kami mengetahui segala sesuatu yang ada padanya (Dzulqarnain). Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan. Mereka berkata, "Wahai Zulkarnain! Sungguh, Yakjuj dan Makjuj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?" (Al-Kahfi: 89-94)
Dia ( Dzulqarnain ) berkata, "Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi!" Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, "Tiuplah (api itu)!" Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu)." Maka mereka (Yakjuj dan Makjuj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.
Dia (Dzulqarnain) berkata, "(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancur-luluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar." Dan pada hari itu Kami biarkan mereka (Yakjuj dan Makjuj) berbaur antara satu dengan yang lain, dan (apabila) sangkakala ditiup (lagi), akan Kami kumpulkan mereka semuanya. Dan Kami perlihatkan (neraka) Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang kafir, (yaitu) orang yang mata (hati)nya dalam keadaan tertutup (tidak mampu) dari memperhatikan tanda-tanda (kebesaran)-Ku, dan mereka tidak sanggup mendengar. (Al-Kahfi; 95-101)
Bertanduk Dua?
Sebagian pihak berpendapat gelar Dzulqarnain "Bertanduk Dua" secara tersirat merujuk kepada Iskandar Agung maupun ukiran dinding Cyrus Agung. Ahli tafsir Qur'an abad ke-14 memberikan sebab yang berbeda. Dalam Tafsir Ibn Katsir menyatakan, "Sebagian mereka memanggilnya Dzulqarnain kerana dapat mencapai dua "tanduk" (batas) matahari, Timur dan Barat, tempat ia terbit dan terbenam."
Kemudian, nama Dzulqarnain juga diterjemahkan menjadi "Dia yang Berketurunan Dua", "Dia yang hidup hingga dua kurun", "Dia yang memiliki dua kerajaan" ataupun "Pemerintah Dua Kerajaan". Banyak yang menafsirkan perkataan itu dengan maksud yang berbeda. Ada pendapat yang mengatakan "Bertanduk Dua" artinya menggabungkan dua negeri.
Antara Iskandar Agung dan Dzulqarnain
Sejarawan Islam seperti Sayyid Ahmad Khan (penafsir Qur'an), Molana Abolkalam Azad, Baha'eddin Khomrashahi dan Dr Muhammad Ebrahim Bastabi Parizi menyangkal bahwa Dzulqarnain adalah Iskandar Agung. Mereka lebih menghendaki Dzulqarnain adalah Cyrus Agung yaitu Raja Parsi Arkaemenia. Mereka memberikan bukti-bukti termasuk artefak tulisan dan ukiran pada batu istana dan kuburan. Berikut beberapa bukti yang disebutkan:
1. Ukiran pada batu yang masih dapat dilihat hingga kini yang memaparkan Cyrus dengan mahkotanya mempunyai tanduk.
2. Menurut Al-Qur'an, rahmat Tuhan diberikan bersamanya dan dengan itu, Cyrus merupakan raja pertama (beberapa ratus tahun sebelum Iskandar Agung) yang menaklukkan sebagian besar Eropa dan Asia.
3. Cyrus (seperti juga Dzulqarnain) menyembah satu Tuhan tetapi Iskandar Agung mempunyai banyak dewa-dewi.
4. Di dalam Al-Qur'an tercatat perjalanan Dzulqarnain yaitu bermula ke Barat lalu ke Timur sebelum ke jalan yang lain (yaitu Utara) bertepatan dengan ekspedisi Cyrus yang diawali penaklukan di Barat hingga ke Asia Kecil. Kemudian berpindah ke timur sebelum ke Timur Laut menawan Eropah berhampiran Balkan.
5. Ekspedisi Cyrus diteruskan dengan penaklukan Lycia, Cilicia dan Phoenicia, dan mereka menggunakan teknik pembinaan tembok yang belum digunakan oleh orang Yunani ketika itu.
6. Menurut Al-Qur'an, pengembaraan Dzulqarnain dimudahkan dan kebetulan lagi bagi Cyrus. Beliau sempat menamatkan ekspedisinya kali itu pada 542 SM, sebelum pulang ke Persia manakala Iskandar masih dalam misi menakluknya ketika dia mati.
7. Kepribadian Iskandar juga dikatakan tidak mencerminkan kemuliaan karena Iskandar sendiri sering berpesta arak dan mempunyai seorang lelaki, Haphaeston, sebagai kekasihnya.
Menurut Afareez Abd Razak Al-Hafiz, seorang penulis Buku "Benarkah Iskandar Bukan Dzulqarnain" telah menceritakan bahwa Raja Kurush (Koresh) yang memerintah Persia ketika itu ialah Nabi Dzulqarnain. Hasil kajian yang dilakukan oleh beliau telah menunjukkan terdapat persamaan ciri-ciri antara Raja Kurush dengan Dzulqarnain.
Baca Juga: Siapakah Ya'juj dan Ma'juj dan Bagaimana Cirinya?
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :