Salman Al-Farisi: Pencetus Ide Pertahanan dalam Perang Khandaq
Sabtu, 26 Maret 2022 - 16:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Berapakah Jumlah Sahabat Nabi Muhammad SAW?
Di negerinya, Persia, Salman telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang. Begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah, yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini.
Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka.
Begitu menyaksikan parit terbentang di hadapannya, pasukan kafir Quraisy merasa terpukul. Hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.
Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angina topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.
Janji Allah dan Rasulnya
Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama kaum muslimin yang sibuk. Rasulullah SAW juga ikut membawa tembilang dan membelah batu.
Baca juga: Ini Mengapa Ada Larangan Mencela Sahabat Nabi?
Kebetulan, di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka membentur sebuah batu besar. Salman seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya. Dia minta bantuan kepada temannya. Semua gagal.
Salman lalu pergi menghadap Rasulullah SAW. Dia minta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah pun ingin menngecek kebenarannya. Setelah menyaksikannya, beliau meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur agar terhindar dari pecahan batu.
Rasulullah lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang erat tembilang itu. Dengan sekuat tenaga beliau menghujamkan tembilang ke batu besar tersebut. Batu itu terbelah dan dari celah belahannya keluar lambaian api yang tinggi menyilaukan,
Di negerinya, Persia, Salman telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang. Begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah, yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini.
Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka.
Begitu menyaksikan parit terbentang di hadapannya, pasukan kafir Quraisy merasa terpukul. Hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.
Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta’ala mengirim angina topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.
Janji Allah dan Rasulnya
Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama kaum muslimin yang sibuk. Rasulullah SAW juga ikut membawa tembilang dan membelah batu.
Baca juga: Ini Mengapa Ada Larangan Mencela Sahabat Nabi?
Kebetulan, di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka membentur sebuah batu besar. Salman seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya. Dia minta bantuan kepada temannya. Semua gagal.
Salman lalu pergi menghadap Rasulullah SAW. Dia minta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah pun ingin menngecek kebenarannya. Setelah menyaksikannya, beliau meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur agar terhindar dari pecahan batu.
Rasulullah lalu membaca basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang erat tembilang itu. Dengan sekuat tenaga beliau menghujamkan tembilang ke batu besar tersebut. Batu itu terbelah dan dari celah belahannya keluar lambaian api yang tinggi menyilaukan,
Lihat Juga :