Begini Makna Mengencangkan Sarung Pada 10 Hari Terakhir Ramadhan
Rabu, 05 Mei 2021 - 04:19 WIB
loading...
A
A
A
Hadis fi'li ataupun qauli telah menerangkan 10 hari terakhir Ramadhan itu masa yang sangat penting disamping 10 hari pertama dan kedua di bulan Ramadhan. Pada waktu ini terbukanya pintu-pintu rahmat dan pintu surga serta tertutupnya pintu neraka di bulan suci Ramadhan. Pada saat ini pula diisyaratkan turunnya lailatul qadar .
Baca juga: Benarkah Menuntut Ilmu Lebih Utama Daripada Amalan-amalan Sunnah?
Kendati demikian, tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan waktu turunnya lailatul qadar. Karena itu, umat Islam hanya bisa berikhtiar dengan terus mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.
Nabi Muhammad SAW menghidupkan malamnya. “Meleknya (terjaga) lebih banyak dari pada meremnya (tidur),” terang pengurus masjid Jogokariyan Yogyakarta ini.
Kata Salim, banyak hal untuk “menghidupkan malam”. Misal, salat malam di rumah maupun di masjid.
Dia lantas menceritakan bagaimana Ibnu Abbas ra mengikuti salat di rumah Rasulullah SAW yang bikin kapok. Begini kisahnya: “Saya pernah mengikuti salat (qiyamul lail) Rasulullah SAW di rumah beliau. Di rakaat pertama, Rasulullah membaca surat al-Baqarah …”
“…Kupikir habis (baca) al-Baqarah rukuk, ternyata disambung ali-Imran. Aku pikir habis ali-Imran rukuk, ternyata disambung an-Nisa. Kupikir habis an-Nisa rukuk, ternyata disambung al-Maidah. Aku pikir habis al-Maidah rukuk, ternyata disambung al-An’am setelah itu.” ceritanya.
Setelah itu, Ibnu Abbas kapok mengikuti salat Rasulullah yang di rumah. “Lebih baik aku ikuti yang di masjid,” ungkapnya.
Karena, Rasulullah memperpendek bacaannya saat salat di masjid, supaya tidak membebani para sahabat. Saat salat di rumah, berdirinya panjang sekali.
Baca juga: 5 Amalan Terbaik 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan
Baca juga: Benarkah Menuntut Ilmu Lebih Utama Daripada Amalan-amalan Sunnah?
Kendati demikian, tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan waktu turunnya lailatul qadar. Karena itu, umat Islam hanya bisa berikhtiar dengan terus mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan itu.
Nabi Muhammad SAW menghidupkan malamnya. “Meleknya (terjaga) lebih banyak dari pada meremnya (tidur),” terang pengurus masjid Jogokariyan Yogyakarta ini.
Kata Salim, banyak hal untuk “menghidupkan malam”. Misal, salat malam di rumah maupun di masjid.
Dia lantas menceritakan bagaimana Ibnu Abbas ra mengikuti salat di rumah Rasulullah SAW yang bikin kapok. Begini kisahnya: “Saya pernah mengikuti salat (qiyamul lail) Rasulullah SAW di rumah beliau. Di rakaat pertama, Rasulullah membaca surat al-Baqarah …”
“…Kupikir habis (baca) al-Baqarah rukuk, ternyata disambung ali-Imran. Aku pikir habis ali-Imran rukuk, ternyata disambung an-Nisa. Kupikir habis an-Nisa rukuk, ternyata disambung al-Maidah. Aku pikir habis al-Maidah rukuk, ternyata disambung al-An’am setelah itu.” ceritanya.
Setelah itu, Ibnu Abbas kapok mengikuti salat Rasulullah yang di rumah. “Lebih baik aku ikuti yang di masjid,” ungkapnya.
Karena, Rasulullah memperpendek bacaannya saat salat di masjid, supaya tidak membebani para sahabat. Saat salat di rumah, berdirinya panjang sekali.
Baca juga: 5 Amalan Terbaik 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan
(mhy)
Lihat Juga :