Demi Allah, Aku Ingin Menginjak Surga dengan Kakiku yang Pincang Ini
Senin, 20 April 2020 - 07:46 WIB
loading...
A
A
A
Dengan terpincang-pincang Amru akhirnya ikut juga berperang di barisan depan bersama seorang anaknya. Mereka berperang dengan gagah berani, seakan-akan berteriak: "Aku mendambakan surga, aku mendambakan mati: sampai akhirnya ajal menemui mereka”.
Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah Sayyidah Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu Sayyidah Aisyah melihat Hindun, istri Amru bin Jumuh, sedang menuntun unta ke arah Madinah. Aisyah bertanya: "Bagaiman beritanya?"
"Baik-baik, Rasulullah selamat. Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan," jawab Hindun.
"Mayat siapakah di atas unta itu?"
"Saudaraku, anakku dan suamiku."
"Akan dibawa ke mana?"
"Akan dikubur di Madinah."
Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.
"Barangkali terlalu berat," kata Sayyidah Aisyah.
"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain," jawab Hindun.
Setelah perang usai, kaum wanita yang ikut ke medan perang semuanya pulang. Di antara mereka adalah Sayyidah Aisyah. Di tengah perjalanan pulang itu Sayyidah Aisyah melihat Hindun, istri Amru bin Jumuh, sedang menuntun unta ke arah Madinah. Aisyah bertanya: "Bagaiman beritanya?"
"Baik-baik, Rasulullah selamat. Musibah yang ada ringan-ringan saja. Sedang orang-orang kafir pulang dengan kemarahan," jawab Hindun.
"Mayat siapakah di atas unta itu?"
"Saudaraku, anakku dan suamiku."
"Akan dibawa ke mana?"
"Akan dikubur di Madinah."
Setelah itu Hindun melanjutkan perjalanan sambil menuntun untanya ke arah Madinah. Namun untanya berjalan terseot-seot lalu merebah.
"Barangkali terlalu berat," kata Sayyidah Aisyah.
"Tidak. Unta ini kuat sekali. Mungkin ada sebab lain," jawab Hindun.
Lihat Juga :