Wanita Tarim, Bidadari Bumi yang Suka Sedekah di Tengah Keterbatasan
Minggu, 25 Juli 2021 - 13:49 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi mereka menghadapinya dengan senyum dan besar hati. Bahkan tetangga mereka tidak mengetahui keadaan mereka yang sedang kelaparan sebab dari kekayaan hati mereka membuat nampak kenyang di hadapan tetangga-tetangganya.
Walaupun mereka hidup dalam kekurangan ekonomi, mereka tetap berusaha bersedekah dengan apapun yang mereka miliki. Demi mengharap pahala, keagungan setta keridhoan di sisi Allah.
Habib Ahmad bin Umar bin Smith pernah bercerita: "Salah seorang wanita Tarim meninggal dunia. Ketika ia dimandikan, si wanita yang wafat tersebut tersenyum. Seperti orang yang sedang tertawa dan pemandangan itu membuat kagum wanita-wanita yang memandikannya.
Salah seorang yang memandikannya adalah wanita sholihah. Ia menghampiri sang jenazah seraya berbisik di telinganya: "Beri tahu aku mengapa kau tersenyum ketika aku memandikanmu?"
Ketika malam hari, wanita sholihah yang memandikan tadi bermimpi sang jenazah dan berkata: "Sesungguhnya setiap hari aku bersedekah pada orang yang pertama kali aku lihat. Ketika suatu hari aku keluar membawa sedekah aku tidak menemukan seorang pun untuk aku berikan sedekah kecuali seekor anak keledai. Maka aku berikan sedekahku padanya. Dan hal inilah yang pertama aku jumpai yaitu pahala bersedekah pada anak keledai oleh karena itu aku tersenyum. (Majmu’ Kalam al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Syahab, hal 43)
Hal yang bisa kita petik dari kisah di atas, kaya bukan dengan harta. Tetapi kaya adalah kaya hati. Berapa banyak orang kaya tapi nampak seperti orang miskin yang takut keluarganya mati kelaparan.
Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan berkata: "Orang miskin itu adalah orang yang masih ada dalam dirinya rasa takut miskin."
Sedekah tidak harus menunggu kaya. Sedekah tidak harus banyak, terkadang di hadapan kita kecil tapi di hadapan orang lain sangatlah berguna. Jangan meremehkan amal yang kecil siapa tahu, di dalamnya ada keridhoan Allah dan menjadi penyebab keselamatan kita.
Baca Juga: Keistimewaan Tarim (2), Rumah dan Jalanannya Dipenuhi Cahaya
Walaupun mereka hidup dalam kekurangan ekonomi, mereka tetap berusaha bersedekah dengan apapun yang mereka miliki. Demi mengharap pahala, keagungan setta keridhoan di sisi Allah.
Habib Ahmad bin Umar bin Smith pernah bercerita: "Salah seorang wanita Tarim meninggal dunia. Ketika ia dimandikan, si wanita yang wafat tersebut tersenyum. Seperti orang yang sedang tertawa dan pemandangan itu membuat kagum wanita-wanita yang memandikannya.
Salah seorang yang memandikannya adalah wanita sholihah. Ia menghampiri sang jenazah seraya berbisik di telinganya: "Beri tahu aku mengapa kau tersenyum ketika aku memandikanmu?"
Ketika malam hari, wanita sholihah yang memandikan tadi bermimpi sang jenazah dan berkata: "Sesungguhnya setiap hari aku bersedekah pada orang yang pertama kali aku lihat. Ketika suatu hari aku keluar membawa sedekah aku tidak menemukan seorang pun untuk aku berikan sedekah kecuali seekor anak keledai. Maka aku berikan sedekahku padanya. Dan hal inilah yang pertama aku jumpai yaitu pahala bersedekah pada anak keledai oleh karena itu aku tersenyum. (Majmu’ Kalam al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Syahab, hal 43)
Hal yang bisa kita petik dari kisah di atas, kaya bukan dengan harta. Tetapi kaya adalah kaya hati. Berapa banyak orang kaya tapi nampak seperti orang miskin yang takut keluarganya mati kelaparan.
Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan berkata: "Orang miskin itu adalah orang yang masih ada dalam dirinya rasa takut miskin."
Sedekah tidak harus menunggu kaya. Sedekah tidak harus banyak, terkadang di hadapan kita kecil tapi di hadapan orang lain sangatlah berguna. Jangan meremehkan amal yang kecil siapa tahu, di dalamnya ada keridhoan Allah dan menjadi penyebab keselamatan kita.
Baca Juga: Keistimewaan Tarim (2), Rumah dan Jalanannya Dipenuhi Cahaya
(rhs)
Lihat Juga :