Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman

loading...
Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman
Muhammad Ali Pasha penguasa Mesir yang sukses menaklukkan Dinasti Saud, Sudan, dan wilayah Ottoman. (Foto/Ilustrasi : wikipedia)
Kekuasaan Muhammad Ali Pasha semakin kuat. Eks Dinasti Mamluk benar-benar sudah tamat. Pembantaian di Benteng Kairo disusul pembersihan oleh masyarakat atas kaum Mamluk adalah tragedi yang tidak bisa dihapus oleh sejarah.

Baca juga: Muhammad Ali Pasha (1): Pembantaian Kaum Mamluk di Benteng Kairo

Menurut Eamonn Gaeron dalam bukunya berjudul Turning Points in Middle Eastern History, peristiwa pembantaian yang terjadi di Benteng Kairo, menandai titik balik sejarah modern Mesir dan Islam secara keseluruhan.

Setelah peristiwa ini, secara perlahan Muhammad Ali mulai menarik jarak dari Ottoman. Antara tahun 1811 hingga 1840, ia melakukan serangkain aksi militer. Namun dari rangkaian aksi itu, ada yang dilakukan atas perintah Sultan Ottoman, tapi tidak sedikit yang dilakukan atas inisiatif sendiri dan demi keuntungan sendiri.

Ekspedisi militer yang dilakukan atas perintah Sultan adalah memulihkan ketertiban di Arabia bagian tengah dan barat. Dinasti baru Saud sudah bergerak terlalu jauh, dan mulai meruntuhkan supremasi Ottoman di kawasan itu.

Hanya saja, ekspedisi ini tidak mudah. Butuh dua kali ekspedisi militer yang kedua-duanya dipimpin oleh putra Muhammad Ali untuk memadamkan ambisi dinasti Saud I.

Putra tertua Muhammad Ali, Tusun meninggal dunia, kemudian diganti oleh adiknya yang bernama Ibrahim. Di bawah kepemimpinan Ibrahim lah Dinasti Saud bisa dikalahkan.

Ibu kota Dinasti Saud, Diriyah (sekarang Riyadh) berhasil dikuasi setelah dikepung selama 5 bulan pada tahun 1818 M. Setelah dikalahkan, seluruh anggota keluarga Saud dibawa ke Ottoman .

Abdullah bin Saud yang saat itu bertindak sebagai raja dinasti ini dipenggal, dan sebagian anggota keluarga lainnya ditahan di Mesir.

Setelah menaklukkan Arab, dan mengembalikan dua tanah suci pada kekuasaan Ottoman, ia menempatkan putranya, Ibrahim untuk menjadi pucuk pimpinan di kawasan hijaz.
halaman ke-1
cover top ayah
لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ‌ۙ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَىِّ‌ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَيُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا‌‌ ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

(QS. Al-Baqarah:256)
cover bottom ayah
preload video