Ibnu Khaldun, Ilmuwan Islam yang Seluruh Keluarganya Meninggal karena Wabah
Rabu, 10 November 2021 - 16:58 WIB
loading...
A
A
A
Al-Abili yang menumbuhkan kesadaran dalam diri Ibn Khaldun, bahwa sangat penting bagi setiap pelajar meraup suatu ilmu langsung dari sumbernya.
Transmisi pengetahuan melalui setumpuk buku bacaan tidaklah memadai, bahkan bisa berdampak negatif. Orang tetap perlu melakukan perjalanan, menemui para pakar dan belajar di bawah petunjuk mereka. Kelak apa yang diajarkan oleh al-Abili sangat memengaruhi Ibn Khaldun dalam menulis Muqaddimah-nya.
Ketika wabah sampar datang, al-Abili meninggalkan Tunisia, dan bergabung dengan Sultan Abu Inan penguasa Fez. Kepergian guru kesayangannya ini membuatnya kehilangan gairah.
Setelah wabah sampar merenggut guru-gurunya, Ibn Khaldun benar-benar merasa yatim secara intelektual. Meski saat itu ia dipercaya menjabat sebagai sekretaris oleh Sultan Abu Ishaq, penguasa Tunisia, namun ia merindukan suasana pendidikan yang bergairah seperti sebelum wabah menyapu semuanya.
Dan yang terpenting, ia tidak menemukan pesona intelektual sebagaimana yang dimiliki oleh al-Abili. Maka setelah membulatkan tekad, ia memutuskan untuk meninggalkan Tunisia dan bergabung bersama al-Abili di Fez. Di tempat inilah ia memulai babak kedua kehidupannya.
Baca juga: Kisah Ibnu Sina Jadi Programmer di Singapura Lewat Program Job Connector
Sebagai sosok yang berbakat, tidak sulit bagi Ibn Khaldun mendapat tempat di Istana. Tidak butuh waktu lama, ia langsung diangkat menjadi penasihat ilmiah di Istana Fez. Tapi yang menarik, berdasarkan pengakuan Ibn Khaldun sendiri, jabatan-jabatan tersebut sebenarnya tidaklah menarik baginya. Yang membuatnya sangat senang berada di Fez adalah ia sering bertemu dengan ilmuwan-ilmuwan Maghribi dan Andalusia yang berkunjung ke Istana.
Hal ini menunjukkan, bahwa meskipun secara turun temurun keluarganya mewarisi tradisi sebagai politisi, tapi di dalam darah Ibn Khaldun, sebenarnya mengalir deras darah seorang ilmuwan.
Dicap Subversif, pada kenyataannya, karier politik Ibn Khaldun tidak selalu mulus. Ia telibat dalam terbulensi politik kekuasaan di Fez, hingga sempat merasakan dinginnya hotel prodeo selama dua tahun.
Sebagai sosok yang berada di lingkar dalam kekuasaan, hampir tidak memungkinkan bagi siapapun untuk melepaskan diri dari gejolak politik yang demikian dinamis, termasuk Ibn Khaldun.
Ia beberapa kali dicap melakukan tindakan subversif, sehingga harus berhadapan dengan kekuasaannya yang sah.
Meski begitu, dalam fluktuasi situasi politik tersebut, Ibn Khaldun selalu memiliki tempat yang penting. Jabatan terakhir yang diembannya di Fez adalah mazalim, sebuah jabatan kehakiman yang berurusan dengan pengaduan kejahatan yang tidak tertangani oleh syariah.
Transmisi pengetahuan melalui setumpuk buku bacaan tidaklah memadai, bahkan bisa berdampak negatif. Orang tetap perlu melakukan perjalanan, menemui para pakar dan belajar di bawah petunjuk mereka. Kelak apa yang diajarkan oleh al-Abili sangat memengaruhi Ibn Khaldun dalam menulis Muqaddimah-nya.
Ketika wabah sampar datang, al-Abili meninggalkan Tunisia, dan bergabung dengan Sultan Abu Inan penguasa Fez. Kepergian guru kesayangannya ini membuatnya kehilangan gairah.
Setelah wabah sampar merenggut guru-gurunya, Ibn Khaldun benar-benar merasa yatim secara intelektual. Meski saat itu ia dipercaya menjabat sebagai sekretaris oleh Sultan Abu Ishaq, penguasa Tunisia, namun ia merindukan suasana pendidikan yang bergairah seperti sebelum wabah menyapu semuanya.
Dan yang terpenting, ia tidak menemukan pesona intelektual sebagaimana yang dimiliki oleh al-Abili. Maka setelah membulatkan tekad, ia memutuskan untuk meninggalkan Tunisia dan bergabung bersama al-Abili di Fez. Di tempat inilah ia memulai babak kedua kehidupannya.
Baca juga: Kisah Ibnu Sina Jadi Programmer di Singapura Lewat Program Job Connector
Sebagai sosok yang berbakat, tidak sulit bagi Ibn Khaldun mendapat tempat di Istana. Tidak butuh waktu lama, ia langsung diangkat menjadi penasihat ilmiah di Istana Fez. Tapi yang menarik, berdasarkan pengakuan Ibn Khaldun sendiri, jabatan-jabatan tersebut sebenarnya tidaklah menarik baginya. Yang membuatnya sangat senang berada di Fez adalah ia sering bertemu dengan ilmuwan-ilmuwan Maghribi dan Andalusia yang berkunjung ke Istana.
Hal ini menunjukkan, bahwa meskipun secara turun temurun keluarganya mewarisi tradisi sebagai politisi, tapi di dalam darah Ibn Khaldun, sebenarnya mengalir deras darah seorang ilmuwan.
Dicap Subversif, pada kenyataannya, karier politik Ibn Khaldun tidak selalu mulus. Ia telibat dalam terbulensi politik kekuasaan di Fez, hingga sempat merasakan dinginnya hotel prodeo selama dua tahun.
Sebagai sosok yang berada di lingkar dalam kekuasaan, hampir tidak memungkinkan bagi siapapun untuk melepaskan diri dari gejolak politik yang demikian dinamis, termasuk Ibn Khaldun.
Ia beberapa kali dicap melakukan tindakan subversif, sehingga harus berhadapan dengan kekuasaannya yang sah.
Meski begitu, dalam fluktuasi situasi politik tersebut, Ibn Khaldun selalu memiliki tempat yang penting. Jabatan terakhir yang diembannya di Fez adalah mazalim, sebuah jabatan kehakiman yang berurusan dengan pengaduan kejahatan yang tidak tertangani oleh syariah.
Lihat Juga :