Begini Argumen Ulama yang Berpandangan Surga Nabi Adam Ada di Bumi
Senin, 13 Desember 2021 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Para ulama ini juga menjawab dalil dari jumhur ulama yang mengusung pendapat bahwa surga yang ditinggali Adam ada di langit, yaitu Surga Ma'wa, surga keabadian.
Pertama, mereka mengatakan, "Berdalil bahwasanya alif lam pada kata “al-jannah” pada firman Allah, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,” tidak didahului dengan keterangan yang dapat menerangkannya, lalu dianggap hanya dapat dikenali dengan akal.
Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah dalil yang memang dapat diterima, namun dikenali dengan petunjuk dari gaya bahasa yang digunakan dalam kalimat tersebut. Yakni, bahwa Adam itu diciptakan dari tanah (bumi) dan belum pernah ada pernyataan atau keterangan bahwa ia diangkat ke atas langit, apalagi ia memang diciptakan untuk berada di bumi sebagaimana difirmankan oleh Allah kepada Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Para ulama melanjutkan, kata “al-jannah” yang digunakan pada ayat di atas tadi sama seperti kata “al-jannah" pada firman Allah dalam Surat Al-Qalam Ayat 17
Innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari".
Alif lam pada kata “al-Jannah” pada ayat ini juga bukan bersifat umum, dan tidak ada keterangan pendahuluan agar bisa dikenali secara lafazh, maka tentu saja kata ini juga hanya dapat dikenali secara akal yang dapat diartikan melalui gaya bahasa yang digunakan pada kalimat tersebut. Makna dari kata “al-jannah” pada ayat tersebut adalah “kebun”.
Baca juga: Ingin Tiket ke Surga Paling Menyenangkan? Seringlah Silaturahmi!
Selanjutnya, Ibnu Katsir juga menuturkan, para ulama tadi juga membantah dalil lainnya. Mereka mengatakan, penyebutan kata “hubuth” (turun) tidak selalu bermakna turun dari langit.
Lihat saja kata yang sama pada firman Allah:
Qīla yā nụḥuhbiṭ bisalāmim minnā wa barakātin 'alaika wa 'alā umamim mim mam ma'ak, wa umamun sanumatti'uhum ṡumma yamassuhum minnā 'ażābun alīm
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami". ( QS Hud: 48 ).
Pertama, mereka mengatakan, "Berdalil bahwasanya alif lam pada kata “al-jannah” pada firman Allah, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga,” tidak didahului dengan keterangan yang dapat menerangkannya, lalu dianggap hanya dapat dikenali dengan akal.
Ibnu Katsir menjelaskan ini adalah dalil yang memang dapat diterima, namun dikenali dengan petunjuk dari gaya bahasa yang digunakan dalam kalimat tersebut. Yakni, bahwa Adam itu diciptakan dari tanah (bumi) dan belum pernah ada pernyataan atau keterangan bahwa ia diangkat ke atas langit, apalagi ia memang diciptakan untuk berada di bumi sebagaimana difirmankan oleh Allah kepada Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Para ulama melanjutkan, kata “al-jannah” yang digunakan pada ayat di atas tadi sama seperti kata “al-jannah" pada firman Allah dalam Surat Al-Qalam Ayat 17
إِنَّا بَلَوْنَٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا۟ لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ
Innā balaunāhum kamā balaunā aṣ-ḥābal-jannah, iż aqsamụ layaṣrimunnahā muṣbiḥīn
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akanmemetik (hasil)nya di pagi hari".
Alif lam pada kata “al-Jannah” pada ayat ini juga bukan bersifat umum, dan tidak ada keterangan pendahuluan agar bisa dikenali secara lafazh, maka tentu saja kata ini juga hanya dapat dikenali secara akal yang dapat diartikan melalui gaya bahasa yang digunakan pada kalimat tersebut. Makna dari kata “al-jannah” pada ayat tersebut adalah “kebun”.
Baca juga: Ingin Tiket ke Surga Paling Menyenangkan? Seringlah Silaturahmi!
Selanjutnya, Ibnu Katsir juga menuturkan, para ulama tadi juga membantah dalil lainnya. Mereka mengatakan, penyebutan kata “hubuth” (turun) tidak selalu bermakna turun dari langit.
Lihat saja kata yang sama pada firman Allah:
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Qīla yā nụḥuhbiṭ bisalāmim minnā wa barakātin 'alaika wa 'alā umamim mim mam ma'ak, wa umamun sanumatti'uhum ṡumma yamassuhum minnā 'ażābun alīm
Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami". ( QS Hud: 48 ).
Lihat Juga :