Surat Yasin Ayat 51-52: Ditiupnya Sangkakala Awal Proses Hari Kebangkitan
Kamis, 13 Januari 2022 - 15:28 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Quraish Shihab, kata ini diucap sebagai ekspresi seseorang yang telah bertemu peristiwa besar/hebat, baik yang sifanya menggembirakan atau menyedihkan. Seperti kata yang diucapkan oleh siti Hajar (Istri Ibrahim) untuk melukis kegembiraan atas kelahiran anak, padahal ia dan suami sudah amat tua. Redaksi yang digunakan Hajar adalah (يَاوَيْلَتَى) sebagimana dalam Surat Hud ayat 72:
Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” ( QSHud : 72)
Selanjutnya, kondisi orang-orang yang ingkar itu tidak lagi pada zona nyaman karena mereka sudah dibangkitakan dari marqad (مَرْقَد) “tempat tidur/tempat peristirahatan”. Menurut Ishfahani, kata tersebut berasal dari kata raqada (رَقَدَ) yang berarti “tidur nyenyak tapi sebentar”.
Jadi, wajar jika mereka begitu kaget. Laman Tafsir Al-Quran menganalogikan seperti kita lagi pulas-pulasnya tidur, dibangunin, trus disuruh lari. "Yang demikian mirip di film-film pelatihan militer, kiranya begitulah kondisi saat itu."
Pertanyaannya, apakah mereka sadar dengan kondisi tersebut? dan sadarkah mereka akan apa yang terjadi? Ini terjawab pada redaksi kata setelahnya.
Bahwa kalimat هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ terjemahannya inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya), mengisyaratkan bahwa mereka sudah sadar sekaligus menyesal atas keingkaran, serta membenarkan kebenaran dari para Rasul yang diutus kepada mereka.
Kata tersebut diucap oleh para malaikat untuk mengecam kebodohan mereka ketika di dunia. Sedangkan penggunaan kata ar-Rahman menurut Quraish Shihab, agaknya mengisyaratkan harapan mereka akan adanya curahan rahmat Allah SWT, sekaligus bentuk pengakuan dan sesal mereka yang telah ingkar dan enggan bersujud pada-Nya, sebagaimana dalam QS al-Furqan ayat 60:
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih”, mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran). ( QS al-Furqan : 60)
Baca juga: Surat Yasin Ayat 45-46: Pentingnya Introspeksi Diri untuk Menatap Masa Depan
قَالَتْ يٰوَيْلَتٰىٓ ءَاَلِدُ وَاَنَا۠ عَجُوْزٌ وَّهٰذَا بَعْلِيْ شَيْخًا ۗاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيْبٌ
Dia (istrinya) berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.” ( QSHud : 72)
Selanjutnya, kondisi orang-orang yang ingkar itu tidak lagi pada zona nyaman karena mereka sudah dibangkitakan dari marqad (مَرْقَد) “tempat tidur/tempat peristirahatan”. Menurut Ishfahani, kata tersebut berasal dari kata raqada (رَقَدَ) yang berarti “tidur nyenyak tapi sebentar”.
Jadi, wajar jika mereka begitu kaget. Laman Tafsir Al-Quran menganalogikan seperti kita lagi pulas-pulasnya tidur, dibangunin, trus disuruh lari. "Yang demikian mirip di film-film pelatihan militer, kiranya begitulah kondisi saat itu."
Pertanyaannya, apakah mereka sadar dengan kondisi tersebut? dan sadarkah mereka akan apa yang terjadi? Ini terjawab pada redaksi kata setelahnya.
Bahwa kalimat هٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ terjemahannya inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah rasul-rasul(-Nya), mengisyaratkan bahwa mereka sudah sadar sekaligus menyesal atas keingkaran, serta membenarkan kebenaran dari para Rasul yang diutus kepada mereka.
Kata tersebut diucap oleh para malaikat untuk mengecam kebodohan mereka ketika di dunia. Sedangkan penggunaan kata ar-Rahman menurut Quraish Shihab, agaknya mengisyaratkan harapan mereka akan adanya curahan rahmat Allah SWT, sekaligus bentuk pengakuan dan sesal mereka yang telah ingkar dan enggan bersujud pada-Nya, sebagaimana dalam QS al-Furqan ayat 60:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اسْجُدُوْا لِلرَّحْمٰنِ قَالُوْا وَمَا الرَّحْمٰنُ اَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُوْرًا
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada Yang Maha Pengasih”, mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Pengasih itu? Apakah kami harus sujud kepada Allah yang engkau (Muhammad) perintahkan kepada kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan mereka makin jauh lari (dari kebenaran). ( QS al-Furqan : 60)
Baca juga: Surat Yasin Ayat 45-46: Pentingnya Introspeksi Diri untuk Menatap Masa Depan
(mhy)
Lihat Juga :