Surat Yasin Ayat 76: Boleh Bersedih, tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Kamis, 10 Februari 2022 - 18:40 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, Allah SWT mengetahui yang disembunyikan berupa keyakinan mereka dan yang tampak berupa perbuatan-perbuatan mereka yang tercela.
Berbeda dengan al-Biqa’i. Ia justru menggarisbawahi makna kata yahzunka dibandingkan kata-kata lain. Menurutnya, kata tersebut berarti ‘jangan menjadi sedih’ atau jangan larut dalam kesedihan.
Atas penafsirannya ini, al-Biqa’i ingin menyampaikan bahwa Allah SWT tidak melarang Nabi Muhammad SAW untuk bersedih, Allah SWT tidak melarang timbulnya kesedihan dalam hati manusia karena kekecewaan terhadap sesuatu. Sedih semacam ini merupakan bagian dari sifat manusia. "Yang dilarang Allah SWT adalah berlarut-larut dalam kesedihan karena akan berdampak pada jalan dakwah Nabi Muhammad SAW dan juga tidak baik bagi manusia secara umum," tuturnya.
Artinya, kesedihan adalah sifat alami (fitrah) tiap individu manusia, sekalipun ia seorang nabi/rasul. Di ayat lain yang serupa, Allah juga kerap kali menghibur kesedihan Nabi Muhammad SAW. Seperti dalam surah Yunus ayat 65, firmannya:
Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 69-70: Al-Quran Bukan Syair Karangan Nabi Muhammad SAW
Nilai yang bisa diambil dalam ayat-ayat demikian adalah urgensi – sebagai hamba –menyandarkan segala bentuk kesedihan kepada Allah SWT Hal inilah yang diterapkan oleh para nabi dan orang-orang soleh.
Sebagaimana Al-Qur’an juga mengabadikan kesedihan Ya’qub dalam surah Yusuf ayat 86, Allah berfirman:
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Mengutip dari Tafsir Kementerian Agama ayat di atas menceritakan bagaimana Ya’qub bersedih atas isu kematian Yusuf. Ia berkata kepada anak-anaknya yang lain,
“Wahai anak-anakku kalian jangan mencercaku, aku tidak pernah mengadu kepadamu sekalian, begitu juga kepada manusia yang lain tentang kesedihan dan kesusahanku. Sebab aku hanya mengadu kesusahan yang menimpaku kepada Allah SWT….dst”
Berbeda dengan al-Biqa’i. Ia justru menggarisbawahi makna kata yahzunka dibandingkan kata-kata lain. Menurutnya, kata tersebut berarti ‘jangan menjadi sedih’ atau jangan larut dalam kesedihan.
Atas penafsirannya ini, al-Biqa’i ingin menyampaikan bahwa Allah SWT tidak melarang Nabi Muhammad SAW untuk bersedih, Allah SWT tidak melarang timbulnya kesedihan dalam hati manusia karena kekecewaan terhadap sesuatu. Sedih semacam ini merupakan bagian dari sifat manusia. "Yang dilarang Allah SWT adalah berlarut-larut dalam kesedihan karena akan berdampak pada jalan dakwah Nabi Muhammad SAW dan juga tidak baik bagi manusia secara umum," tuturnya.
Artinya, kesedihan adalah sifat alami (fitrah) tiap individu manusia, sekalipun ia seorang nabi/rasul. Di ayat lain yang serupa, Allah juga kerap kali menghibur kesedihan Nabi Muhammad SAW. Seperti dalam surah Yunus ayat 65, firmannya:
وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 69-70: Al-Quran Bukan Syair Karangan Nabi Muhammad SAW
Nilai yang bisa diambil dalam ayat-ayat demikian adalah urgensi – sebagai hamba –menyandarkan segala bentuk kesedihan kepada Allah SWT Hal inilah yang diterapkan oleh para nabi dan orang-orang soleh.
Sebagaimana Al-Qur’an juga mengabadikan kesedihan Ya’qub dalam surah Yusuf ayat 86, Allah berfirman:
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Mengutip dari Tafsir Kementerian Agama ayat di atas menceritakan bagaimana Ya’qub bersedih atas isu kematian Yusuf. Ia berkata kepada anak-anaknya yang lain,
“Wahai anak-anakku kalian jangan mencercaku, aku tidak pernah mengadu kepadamu sekalian, begitu juga kepada manusia yang lain tentang kesedihan dan kesusahanku. Sebab aku hanya mengadu kesusahan yang menimpaku kepada Allah SWT….dst”
Lihat Juga :