Restorisasi Masjid Sukarno di Rusia Habiskan Rp30 Miliar
Minggu, 13 Maret 2022 - 03:31 WIB
loading...
A
A
A
Suatu hari, di sela-sela kunjungan Presiden Sukarno ke Sankt Peterburg (dahulu bernama Leningrad) pada 1956, ia melihat bangunan seperti masjid dengan arsitektur Asia Tengah berwarna biru. Ternyata, bangunan tersebut memang secara fisik adalah sebuah masjid, tapi telah beralih fungsi menjadi sebuah gudang.
Setelah kembali ke Moskow, Sukarno bertemu Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev. Ketika Khrushchev menanyakan kesan Sukarno mengenai Leningrad, sang presiden malah membahas kondisi masjid yang baru ia kunjungi.
Sukarno kemudian meminta masjid itu dikembalikan sesuai fungsinya. Sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Sukarno, bangunan itu kembali menjadi masjid dan tetap berdiri tegak hingga kini.
Umat Islam di Rusia sangat berterima kasih atas keberanian dan keberhasilan Presiden Sukarno mengupayakan pengembalian Masjid Biru kepada umat Islam untuk difungsikan sebagai tempat ibadah. Tidak pernah terbayangkan oleh mereka ada pemimpin asing yang berani melakukan hal tersebut kepada Pemimpin Tertinggi Uni Soviet yang dikenal sangat anti-agama dan saat itu sangat ditakuti.
Kisah tentang pengembalian fungsi masjid tersebut serta kisah pemugaran Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan --yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet-- yang juga atas permintaan Presiden Sukarno masih terekam dengan baik hingga saat ini di memori kaum Muslimin Rusia, khususnya para generasi tuanya.
Baca juga: Ukraina Harap Muslim Indonesia Tidak Terprovokasi Propaganda Rusia
Era Tsar Nicholas II
Masjid Sukarno disebut Masjid Biru karena bangunan tersebut memiliki kubah berwarna biru. Masjid ini mulai dibangun pada 1910 dan secara resmi dibuka pada 1913.
Diriwayatkan bahwa kala itu, sangatlah sulit untuk memperoleh izin pembangunan rumah ibadah umat Islam di Ibu Kota Kekaisaran Rusia tersebut. Penguasa Rusia saat itu, Tsar Nicholas II, pada 1907 akhirnya memberikan izin pembangunan masjid ini sebagai penghargaan atas kontribusi warga Muslim yang turut membangun Kota St Petersburg.
Tsar Nicholas II sendiri sebelumnya pernah berkunjung ke Indonesia (Hindia-Belanda) pada 1890 saat masih berstatus sebagai Putra Mahkota. Dana terbesar pembangunan masjid ini berasal dari Said Abdoul Ahad, Emir Bukhara (Uzbekistan).
Baca juga: Presiden Rusia Ungkap Peran Penting Komunitas Muslim dalam Masa Pandemi
Setelah kembali ke Moskow, Sukarno bertemu Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev. Ketika Khrushchev menanyakan kesan Sukarno mengenai Leningrad, sang presiden malah membahas kondisi masjid yang baru ia kunjungi.
Sukarno kemudian meminta masjid itu dikembalikan sesuai fungsinya. Sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Sukarno, bangunan itu kembali menjadi masjid dan tetap berdiri tegak hingga kini.
Umat Islam di Rusia sangat berterima kasih atas keberanian dan keberhasilan Presiden Sukarno mengupayakan pengembalian Masjid Biru kepada umat Islam untuk difungsikan sebagai tempat ibadah. Tidak pernah terbayangkan oleh mereka ada pemimpin asing yang berani melakukan hal tersebut kepada Pemimpin Tertinggi Uni Soviet yang dikenal sangat anti-agama dan saat itu sangat ditakuti.
Kisah tentang pengembalian fungsi masjid tersebut serta kisah pemugaran Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan --yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet-- yang juga atas permintaan Presiden Sukarno masih terekam dengan baik hingga saat ini di memori kaum Muslimin Rusia, khususnya para generasi tuanya.
Baca juga: Ukraina Harap Muslim Indonesia Tidak Terprovokasi Propaganda Rusia
Era Tsar Nicholas II
Masjid Sukarno disebut Masjid Biru karena bangunan tersebut memiliki kubah berwarna biru. Masjid ini mulai dibangun pada 1910 dan secara resmi dibuka pada 1913.
Diriwayatkan bahwa kala itu, sangatlah sulit untuk memperoleh izin pembangunan rumah ibadah umat Islam di Ibu Kota Kekaisaran Rusia tersebut. Penguasa Rusia saat itu, Tsar Nicholas II, pada 1907 akhirnya memberikan izin pembangunan masjid ini sebagai penghargaan atas kontribusi warga Muslim yang turut membangun Kota St Petersburg.
Tsar Nicholas II sendiri sebelumnya pernah berkunjung ke Indonesia (Hindia-Belanda) pada 1890 saat masih berstatus sebagai Putra Mahkota. Dana terbesar pembangunan masjid ini berasal dari Said Abdoul Ahad, Emir Bukhara (Uzbekistan).
Baca juga: Presiden Rusia Ungkap Peran Penting Komunitas Muslim dalam Masa Pandemi
Lihat Juga :