Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Lailatul Qadar Turun Malam 27 Ramadhan
Jum'at, 15 April 2022 - 16:46 WIB
loading...
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengatakan lailatul qadar turun pada malam 27 Ramadhan. (Foto/Ilustrasi:shopee)
A
A
A
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani cenderung mengatakan malam turunnya lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan , tepatnya malam 27 Ramadhan. Kendati demikian, Syaikh yang memiliki kecenderungan batiniah ini tidak mau menyimpulkan berdasarkan narasi batiniahnya. Dia tetap mengambil pendapat dari para imam dan fuqaha dari kalangan salafus saleh.
Menurutnya, malam itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, tepatnya malam 27. Imam Malik mengatakan bahwa malam itu terjadi di semua malam sepuluh hari terakhir, sedangkan Imam Syafii, menyatakannya pada malam 21 Ramadhan.
Mereka yang mengikuti pendapat Aisyah ra , Lailatul Qadr terjadi pada malam 29 Ramadhan, sementara Abu Burdah al-Aslami menyimpulkannya pada malam 23 Ramadhan. Abu Dzar dan Hasan Al-Bashri menyimpulkannya pada malam 25, dan Ibnu Abbas dan Ubay bin Kaab mengatakannya terjadi pada malam 27.
Baca juga: Mimpi Rasulullah SAW Diperlihatkan Lailatul Qadar
Sepertinya Syaikh Abdul Qadir cenderung memaknainya terjadi pada malam 27 Ramadhan. Kecenderungan dikuatkan dengan ragam dalil, di antaranya: Dari Ibnu Umar ra , “… Sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi SAW tentang mimpi-mimpi mereka bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi SAW bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar, dan Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencarinya, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Ramadhan).”
Untuk menguatkan argumennya tentang terjadinya malam Lailatul Qadr pada malam 27, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengambil dalil yang sekaligus simbolisme sufisme tentang angka tujuh.
Sebuah narasi panjang dialog antara Ibnu Abbas dengan Umar bin Khattab ini menegaskan bahwa segala hal berporos pada angka tujuh. Misalnya, lapisan langit ada tujuh, lapisan bumi ada tujuh, malam-malam tujuh, planet-planet tujuh, bintang-bintang tujuh, sai antara shafa dan marwah tujuh kali, thawaf tujuh kali, lempar jumrah tujuh kali, penciptaan manusia selama tujuh hari, pemberian rezeki tujuh hari, membasuh muka tujuh kali, kata alhamdu dijadikan sebagai pembuka tujuh surat, tujuh bacaan Alquran (sabatu ahruf), dan lain sebagainya yang menyiratkan ragam rahasia angka tujuh.
Baca juga: Tanda-Tanda Jika Seseorang Mendapatkan Lailatul Qadar
Keajaiban Lailatul Qadar
Dalam membincangkan Lailatur Qadar, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Tafsir al-Jilani berangkat dari pembacaannya terhadap Al-Qur'an.
Singgungan tentang keutamaan malam itu sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrahmanirrahim: Dengan nama Allah yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-Nya dan lembaran ketetapan-Nya dengan diturunkannya Al-Qur'an kepada hamba-Nya. Juga sebagai pemberi peringatan bagi mereka ke jalan makrifat dan keimanan, sekaligus membangunkan mereka dari tidur panjang kelenaan dan kelalaian.
Pintu masuk di atas setidaknya menunjukkan kita secercah pemahaman tentang keajaiban lailatul qadr. Bahwa pada malam itu diturunkan Al-Qur'an dari tempat yang agung.
Dalam Tafsir al-Jilani, Syaikh Abdul Qadir menjelaskan kalimat inna anzalnahu fi lailatil qadr menyiratkan turunnya Al-Qur'an dengan cara penuh kelembutan kepada seluruh hamba Allah SWT.
"Diturunkannya kitab ini pun sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Sebab, orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam gaib," ujarnya sebagaimana dikutip Khairul Imam, Staf Pengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta, dalam tulisannya berjudul "Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan Lailatul Qadr" sebagaimana dilansir laman Ganaislamika.
Menurutnya, malam itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, tepatnya malam 27. Imam Malik mengatakan bahwa malam itu terjadi di semua malam sepuluh hari terakhir, sedangkan Imam Syafii, menyatakannya pada malam 21 Ramadhan.
Mereka yang mengikuti pendapat Aisyah ra , Lailatul Qadr terjadi pada malam 29 Ramadhan, sementara Abu Burdah al-Aslami menyimpulkannya pada malam 23 Ramadhan. Abu Dzar dan Hasan Al-Bashri menyimpulkannya pada malam 25, dan Ibnu Abbas dan Ubay bin Kaab mengatakannya terjadi pada malam 27.
Baca juga: Mimpi Rasulullah SAW Diperlihatkan Lailatul Qadar
Sepertinya Syaikh Abdul Qadir cenderung memaknainya terjadi pada malam 27 Ramadhan. Kecenderungan dikuatkan dengan ragam dalil, di antaranya: Dari Ibnu Umar ra , “… Sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi SAW tentang mimpi-mimpi mereka bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi SAW bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar, dan Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencarinya, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Ramadhan).”
Untuk menguatkan argumennya tentang terjadinya malam Lailatul Qadr pada malam 27, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengambil dalil yang sekaligus simbolisme sufisme tentang angka tujuh.
Sebuah narasi panjang dialog antara Ibnu Abbas dengan Umar bin Khattab ini menegaskan bahwa segala hal berporos pada angka tujuh. Misalnya, lapisan langit ada tujuh, lapisan bumi ada tujuh, malam-malam tujuh, planet-planet tujuh, bintang-bintang tujuh, sai antara shafa dan marwah tujuh kali, thawaf tujuh kali, lempar jumrah tujuh kali, penciptaan manusia selama tujuh hari, pemberian rezeki tujuh hari, membasuh muka tujuh kali, kata alhamdu dijadikan sebagai pembuka tujuh surat, tujuh bacaan Alquran (sabatu ahruf), dan lain sebagainya yang menyiratkan ragam rahasia angka tujuh.
Baca juga: Tanda-Tanda Jika Seseorang Mendapatkan Lailatul Qadar
Keajaiban Lailatul Qadar
Dalam membincangkan Lailatur Qadar, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Tafsir al-Jilani berangkat dari pembacaannya terhadap Al-Qur'an.
Singgungan tentang keutamaan malam itu sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrahmanirrahim: Dengan nama Allah yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-Nya dan lembaran ketetapan-Nya dengan diturunkannya Al-Qur'an kepada hamba-Nya. Juga sebagai pemberi peringatan bagi mereka ke jalan makrifat dan keimanan, sekaligus membangunkan mereka dari tidur panjang kelenaan dan kelalaian.
Pintu masuk di atas setidaknya menunjukkan kita secercah pemahaman tentang keajaiban lailatul qadr. Bahwa pada malam itu diturunkan Al-Qur'an dari tempat yang agung.
Dalam Tafsir al-Jilani, Syaikh Abdul Qadir menjelaskan kalimat inna anzalnahu fi lailatil qadr menyiratkan turunnya Al-Qur'an dengan cara penuh kelembutan kepada seluruh hamba Allah SWT.
"Diturunkannya kitab ini pun sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Sebab, orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam gaib," ujarnya sebagaimana dikutip Khairul Imam, Staf Pengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta, dalam tulisannya berjudul "Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan Lailatul Qadr" sebagaimana dilansir laman Ganaislamika.
Lihat Juga :