Kisah Pertentangan Politik Abu Bakar dengan Umar bin Khattab yang Paling Menonjol
Senin, 16 Mei 2022 - 21:14 WIB
loading...
A
A
A
Permintaan Usamah dan permintaan Ansar itu oleh Umar tidak ditolak. Ia langsung menemui Abu Bakar dan menyampaikan apa yang mereka minta. Tetapi jawaban Khalifah: "Sekiranya saya yang akan disergap anjing dan serigala, saya tidak akan mundur dari keputusan yang sudah diambil oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam."
Dan mengenai permintaan Ansar ia berkata: "Celaka Anda Umar! Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam yang menempatkan dia, lalu saya yang akan mencabutnya?"
Pasukan Usamah pun akhirnya berangkat. Di antara anggota pasukannya itu terdapat tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Ansar, termasuk Umar bin Khattab, yang tidak berbeda dengan yang lain, harus tunduk kepada kepemimpinan Usamah sebagai komandan pasukan.
Abu Bakar juga ikut pergi melepas dan menyampaikan pesan kepada pasukan itu. Setelah tiba saatnya ia akan kembali, ia berkata kepada Usamah: "Usamah, kalau menurut pendapat Anda Umar perlu diperbantukan kepada saya, silakan." Usamah mengizinkan Umar meninggalkan pasukannya itu dan kembali (ke Madinah) bersama Abu Bakar.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Umar bin Khattab” mengatakan sebaiknya kita berhenti sejenak untuk memberikan perhatian tentang perbedaan haluan politik ini antara Abu Bakar dengan Umar. “Abu Bakar hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah akan dikerjakannya. Terserah apa yang akan dikatakan oleh kaum Muslimin, kendati mereka akan menentang pendapatnya. Ia tak akan mendengarkan apa yang mereka katakan selama perintah itu dari Rasulullah,” tulisnya.
Perintah Rasulullah agar meneruskan pengiriman pasukan Usamah, maka perintah ini harus terlaksana. Menurut Haikal, biar Muhajirin dan Ansar berselisih, biar seluruh jazirah berontak. Madinah sekalipun, biar terperangkap dalam bahaya. Semua itu tidak akan membuat Abu Bakar mundur dari melaksanakan perintah Rasulullah.
“Bukankah dia sudah menjadi pilihan Allah dan Qur'an sudah diwahyukan kepadanya, sudah diberi janji kemenangan dan Allah akan menjaga agama-Nya! Bagaimana seorang Muslim yang sudah mengorbankan dirinya tidak akan melaksanakan perintahnya. Bagaimana pula penggantinya yang pertama akan menjadi orang yang pertama pula melanggar!” ujar Haekal.
Baca juga: Jarang Diketahui! Inilah Sebab Abu Bakar Memeluk Islam
Sikap Umar tentang Usamah
Bagi Umar, sudah menjadi kewajiban seorang politikus mempertimbangkan segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Di antara sekian banyak peristiwa itu adanya perbedaan pendapat antara Muhajirin dengan Ansar, yang pada masa Rasulullah tidak tampak, seperti yang kemudian terjadi di Saqifah, dan pembangkangan orang-orang Arab terhadap kekuasaan Madinah tidak setajam pemberontakan bani setelah tersiar berita tentang kematian Rasulullah di segenap penjuru Semenanjung Arab.
Kaum Muslimin waktu itu sangat menaati segala perintah Rasulullah dengan sungguh-sungguh dan penuh keimanan. Menurut Haekal, Abu Bakar tidak berhak menuntut orang agar menaatinya seperti menaati Rasulullah yang sudah menjadi pilihan Allah. Maka sudah seharusnya Khalifah memperhatikan semua masalah itu dan sudah seharusnya pula ia menjadi seorang politikus yang dapat mengatur segala persoalan dengan penalaran dan pandangan yang lebih tajam, sesudah tak ada lagi kepengurusan atau kekuasaan yang akan dapat mengawasinya dengan sungguh-sungguh dan sesudah wahyu pun terputus dengan meninggalnya Rasulullah.
Haekal mengatakan ini merupakan perbedaan dasar antara kedua tokoh itu dalam menjalankan politik negara. Tetapi perbedaan ini tak sampai mengurangi penghargaan mereka masing-masing serta kecintaan dan penghormatan mereka satu sama lain. Oleh karenanya, Umar tetap menjalankan kewajibannya terhadap Abu Bakar, dan tidak lebih ia hanya menyampaikan pendapat kaum Muslimin dan dia mendukungnya dengan alasannya sendiri.
Setelah Abu Bakar bersikeras dengan pendapatnya, Umar pun berangkat sebagai seorang prajurit yang berjuang di jalan Allah di bawah pimpinan Usamah.
“Mengapa tidak akan dilakukannya, dia pula yang telah membaiat Abu Bakar dan mengakuinya sebagai pengganti Rasulullah. Abu Bakar pun menjalankan kewajibannya terhadap Umar, dipilihnya ia sebagai wazir-nya, sebagai tangan kanannya, untuk memberikan saran-saran kepadanya seperti kepada Rasulullah dulu,” tulis Haekal. “Dengan demikian, hubungan antara kedua orang ini tetap akrab dan penuh keikhlasan, saling menghormati dan bantu-membantu, demi kepentingan Islam dan kaum Muslimin,” lanjutnya.
Baca juga: Ini Mengapa Abu Bakar Berani Sedekahkan 100% Hartanya
Dan mengenai permintaan Ansar ia berkata: "Celaka Anda Umar! Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam yang menempatkan dia, lalu saya yang akan mencabutnya?"
Pasukan Usamah pun akhirnya berangkat. Di antara anggota pasukannya itu terdapat tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Ansar, termasuk Umar bin Khattab, yang tidak berbeda dengan yang lain, harus tunduk kepada kepemimpinan Usamah sebagai komandan pasukan.
Abu Bakar juga ikut pergi melepas dan menyampaikan pesan kepada pasukan itu. Setelah tiba saatnya ia akan kembali, ia berkata kepada Usamah: "Usamah, kalau menurut pendapat Anda Umar perlu diperbantukan kepada saya, silakan." Usamah mengizinkan Umar meninggalkan pasukannya itu dan kembali (ke Madinah) bersama Abu Bakar.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Umar bin Khattab” mengatakan sebaiknya kita berhenti sejenak untuk memberikan perhatian tentang perbedaan haluan politik ini antara Abu Bakar dengan Umar. “Abu Bakar hanya seorang pengikut, bukan pembaru. Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah akan dikerjakannya. Terserah apa yang akan dikatakan oleh kaum Muslimin, kendati mereka akan menentang pendapatnya. Ia tak akan mendengarkan apa yang mereka katakan selama perintah itu dari Rasulullah,” tulisnya.
Perintah Rasulullah agar meneruskan pengiriman pasukan Usamah, maka perintah ini harus terlaksana. Menurut Haikal, biar Muhajirin dan Ansar berselisih, biar seluruh jazirah berontak. Madinah sekalipun, biar terperangkap dalam bahaya. Semua itu tidak akan membuat Abu Bakar mundur dari melaksanakan perintah Rasulullah.
“Bukankah dia sudah menjadi pilihan Allah dan Qur'an sudah diwahyukan kepadanya, sudah diberi janji kemenangan dan Allah akan menjaga agama-Nya! Bagaimana seorang Muslim yang sudah mengorbankan dirinya tidak akan melaksanakan perintahnya. Bagaimana pula penggantinya yang pertama akan menjadi orang yang pertama pula melanggar!” ujar Haekal.
Baca juga: Jarang Diketahui! Inilah Sebab Abu Bakar Memeluk Islam
Sikap Umar tentang Usamah
Bagi Umar, sudah menjadi kewajiban seorang politikus mempertimbangkan segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Di antara sekian banyak peristiwa itu adanya perbedaan pendapat antara Muhajirin dengan Ansar, yang pada masa Rasulullah tidak tampak, seperti yang kemudian terjadi di Saqifah, dan pembangkangan orang-orang Arab terhadap kekuasaan Madinah tidak setajam pemberontakan bani setelah tersiar berita tentang kematian Rasulullah di segenap penjuru Semenanjung Arab.
Kaum Muslimin waktu itu sangat menaati segala perintah Rasulullah dengan sungguh-sungguh dan penuh keimanan. Menurut Haekal, Abu Bakar tidak berhak menuntut orang agar menaatinya seperti menaati Rasulullah yang sudah menjadi pilihan Allah. Maka sudah seharusnya Khalifah memperhatikan semua masalah itu dan sudah seharusnya pula ia menjadi seorang politikus yang dapat mengatur segala persoalan dengan penalaran dan pandangan yang lebih tajam, sesudah tak ada lagi kepengurusan atau kekuasaan yang akan dapat mengawasinya dengan sungguh-sungguh dan sesudah wahyu pun terputus dengan meninggalnya Rasulullah.
Haekal mengatakan ini merupakan perbedaan dasar antara kedua tokoh itu dalam menjalankan politik negara. Tetapi perbedaan ini tak sampai mengurangi penghargaan mereka masing-masing serta kecintaan dan penghormatan mereka satu sama lain. Oleh karenanya, Umar tetap menjalankan kewajibannya terhadap Abu Bakar, dan tidak lebih ia hanya menyampaikan pendapat kaum Muslimin dan dia mendukungnya dengan alasannya sendiri.
Setelah Abu Bakar bersikeras dengan pendapatnya, Umar pun berangkat sebagai seorang prajurit yang berjuang di jalan Allah di bawah pimpinan Usamah.
“Mengapa tidak akan dilakukannya, dia pula yang telah membaiat Abu Bakar dan mengakuinya sebagai pengganti Rasulullah. Abu Bakar pun menjalankan kewajibannya terhadap Umar, dipilihnya ia sebagai wazir-nya, sebagai tangan kanannya, untuk memberikan saran-saran kepadanya seperti kepada Rasulullah dulu,” tulis Haekal. “Dengan demikian, hubungan antara kedua orang ini tetap akrab dan penuh keikhlasan, saling menghormati dan bantu-membantu, demi kepentingan Islam dan kaum Muslimin,” lanjutnya.
Baca juga: Ini Mengapa Abu Bakar Berani Sedekahkan 100% Hartanya
Lihat Juga :