Inilah 3 Kiat Menjadi Muslimah Paling Bahagia
Selasa, 21 Juni 2022 - 09:37 WIB
loading...
Dalam Islam kaum wanita mendapat tempat yang istimewa dan mulia, Dr Aidh Al-Qarni bahkan memberikan nasehat khusus bagi kaum muslimah ini untuk menjadi muslimah yang paling bahagia. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Islam menempatkan kaum wanita sebagai manusia mulia.Maka beruntunglah kita yang terpilih sebagai wanita muslimah , karena Allah telah memberikan keistimewaan- keistimewaan khusus . Lantas, bagaimana sikap kita agar bisa menjadi muslimah terpilih ini?
Dr 'Aidh Al Qarni dalam buku best sellernya ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’, memberikan beberapa nasihat yang akan menjadikan kita seorang muslimah selalu bersyukur dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah petikan beberapa nasihat Al Qarni tersebut:
1. Terimalah apa yang diberikan Allah untukmu dengan senang hati
Alangkah santunnya perkataan Sayyidah Hajar, istri Nabi Ibrahim dan bunda Nabi Ismail, ketika mengejar suaminya, yang meninggalkan dirinya dan putranya di suatu lembah yang gersang dan tak berpenghuni.
Syahdan, perkataan lembut berikut ini terdengar berulangkali di telinga Ibrahim, “Wahai Kanda Ibrahim, hendak pergi kemanakah engkau hingga tega meninggalkan kami di lembah tanpa penghuni dan tidak ada apa-apanya ini?”
Baca juga: Wanita Sangat Dimuliakan dalam Islam, Ini 4 Fase Kemuliannya
Namun, Ibrahim tidak menolehkan mukanya kepada istrinya sedikit pun. Maka Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal itu?”. Ibrahim pun menjawab, “Ya!”
Hajar pun berkata, “Jika demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami”. Benar, Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang saleh.
Dalam surah Al-Kahfi ayat 80-81 misalnya, bukanlah Allah telah berfirman, “Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”
Lalu firman Allah Ta'ala berikutnya:
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS Al-Kahfi: 82)
Maka, janganlah sekalipun berprasangka buruk kepada Allah, karena Allah paling berhak atas yang baik-baik.
Dr 'Aidh Al Qarni dalam buku best sellernya ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’, memberikan beberapa nasihat yang akan menjadikan kita seorang muslimah selalu bersyukur dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah petikan beberapa nasihat Al Qarni tersebut:
1. Terimalah apa yang diberikan Allah untukmu dengan senang hati
Alangkah santunnya perkataan Sayyidah Hajar, istri Nabi Ibrahim dan bunda Nabi Ismail, ketika mengejar suaminya, yang meninggalkan dirinya dan putranya di suatu lembah yang gersang dan tak berpenghuni.
Syahdan, perkataan lembut berikut ini terdengar berulangkali di telinga Ibrahim, “Wahai Kanda Ibrahim, hendak pergi kemanakah engkau hingga tega meninggalkan kami di lembah tanpa penghuni dan tidak ada apa-apanya ini?”
Baca juga: Wanita Sangat Dimuliakan dalam Islam, Ini 4 Fase Kemuliannya
Namun, Ibrahim tidak menolehkan mukanya kepada istrinya sedikit pun. Maka Hajar bertanya lagi, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal itu?”. Ibrahim pun menjawab, “Ya!”
Hajar pun berkata, “Jika demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami”. Benar, Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang saleh.
Dalam surah Al-Kahfi ayat 80-81 misalnya, bukanlah Allah telah berfirman, “Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”
Lalu firman Allah Ta'ala berikutnya:
وَأَمَّا ٱلْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِى ٱلْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُۥ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُۥ عَنْ أَمْرِى ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS Al-Kahfi: 82)
Maka, janganlah sekalipun berprasangka buruk kepada Allah, karena Allah paling berhak atas yang baik-baik.
Lihat Juga :