Salim Maula Abu Hudzaifah: Tak Jelas Nasabnya, tapi Berani Menentang Khalid Bin Walid
Jum'at, 08 Juli 2022 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Kita saksikan bagaimana orang-orang Anshar itu menyambut saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin, hingga mereka membagi tempat kediaman dan segala yang mereka miliki.
Inilah yang kita saksikan terjadi antara Abu Hudzaifah, bangsawan Quraisy, dengan Salim yang berasal dari budak yang tidak diketahui siapa ayahnya itu.
Sampai akhir hayat, kedua orang itu bersaudara lebih daripada kasih sayang saudara kandung. Ketika menemui ajal, mereka meninggal bersama-sama, nyawa melayang bersama nyawa, dan tubuh yang satu terbaring di samping tubuh yang lain.
Itulah dia keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya.
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi Berpura-pura Buka Puasa
Salim telah beriman dengan benar dan menempuh jalan menuju Allah bersama orang-orang yang takwa dan berbakti. Kehormatan dan kedudukannya dalam masyarakat tidak bisa diukur lagi. Karena berkat ketakwaan dan keikhlasannya, ia telah meningkat dirinya ke taraf yang tinggi dalam kehidupan masyarakat baru yang sengaja hendak dibangkitkan dan ditegakkan oleh Islam berdasarkan prinsip baru yang adil dan luhur. Prinsip itu tersimpul dalam ayat mulia berikut ini:
"Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13)
Selain itu ditambah dengan sabda Rasulullah, “Tiada kelebihan bagi bangsa Arab atas selain bangsa Arab kecuali takwa, dan tidak ada kelebihan bagi seorang keturunan kulit putih atas seorang keturunan kulit hitam kecuali takwa.”
Pada masyarakat baru yang maju ini, Abu Hudzaifah merasa dirinya terhormat bila menjadi wali bagi seseorang yang dulunya menjadi budaknya. Bahkan, ia menganggap itu sebagai kemuliaan bagi keluarganya.
Ia mengawinkan Salim dengan keponakannya, Fathimah binti Al-Walid bin Utbah. Dalam masyarakat baru yang maju dan telah menghancurkan pembagian kasta yang tidak adil dan menghapus rasialisme palsu, dengan kebenaran dan kejujurannya, serta keimanan dan pengabdiannya, Salim selalu menempatkan dirinya dalam barisan pertama.
Tidak salah bila ia menjadi imam bagi orang-orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah setiap sholat mereka di Masjid Quba'.
Ia menjadi andalan tempat bertanya tentang Kitab Allah, hingga Nabi menyuruh kaum muslimin belajar darinya. Ia banyak berbuat kebaikan dan memiliki keunggulan yang menyebabkan Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam golonganku, seseorang seperti dirimu.”
Bahkan, rekan-rekannya sesama orang beriman menyebutnya, “Salim salah seorang di antara orang-orang saleh.”
Melawan Khalid bin Walid
Riwayat hidup Salim tidak berbeda dengan riwayat hidup Bilal, riwayat hidup sepuluh sahabat Nabi ahli ibadah, dan riwayat hidup para sahabat lainnya yang sebelum memasuki Islam hidup sebagai budak beliau yang hina dan miskin.
Ia diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun umat ke jalan yang benar. Ia juga menjadi tokoh penentang kezaliman sebagai kesatria di medan laga.
Pada diri Salim terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada dirinya dan bersinar di lingkungan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang sangat indah.
Inilah yang kita saksikan terjadi antara Abu Hudzaifah, bangsawan Quraisy, dengan Salim yang berasal dari budak yang tidak diketahui siapa ayahnya itu.
Sampai akhir hayat, kedua orang itu bersaudara lebih daripada kasih sayang saudara kandung. Ketika menemui ajal, mereka meninggal bersama-sama, nyawa melayang bersama nyawa, dan tubuh yang satu terbaring di samping tubuh yang lain.
Itulah dia keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya.
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi Berpura-pura Buka Puasa
Salim telah beriman dengan benar dan menempuh jalan menuju Allah bersama orang-orang yang takwa dan berbakti. Kehormatan dan kedudukannya dalam masyarakat tidak bisa diukur lagi. Karena berkat ketakwaan dan keikhlasannya, ia telah meningkat dirinya ke taraf yang tinggi dalam kehidupan masyarakat baru yang sengaja hendak dibangkitkan dan ditegakkan oleh Islam berdasarkan prinsip baru yang adil dan luhur. Prinsip itu tersimpul dalam ayat mulia berikut ini:
"Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13)
Selain itu ditambah dengan sabda Rasulullah, “Tiada kelebihan bagi bangsa Arab atas selain bangsa Arab kecuali takwa, dan tidak ada kelebihan bagi seorang keturunan kulit putih atas seorang keturunan kulit hitam kecuali takwa.”
Pada masyarakat baru yang maju ini, Abu Hudzaifah merasa dirinya terhormat bila menjadi wali bagi seseorang yang dulunya menjadi budaknya. Bahkan, ia menganggap itu sebagai kemuliaan bagi keluarganya.
Ia mengawinkan Salim dengan keponakannya, Fathimah binti Al-Walid bin Utbah. Dalam masyarakat baru yang maju dan telah menghancurkan pembagian kasta yang tidak adil dan menghapus rasialisme palsu, dengan kebenaran dan kejujurannya, serta keimanan dan pengabdiannya, Salim selalu menempatkan dirinya dalam barisan pertama.
Tidak salah bila ia menjadi imam bagi orang-orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah setiap sholat mereka di Masjid Quba'.
Ia menjadi andalan tempat bertanya tentang Kitab Allah, hingga Nabi menyuruh kaum muslimin belajar darinya. Ia banyak berbuat kebaikan dan memiliki keunggulan yang menyebabkan Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam golonganku, seseorang seperti dirimu.”
Bahkan, rekan-rekannya sesama orang beriman menyebutnya, “Salim salah seorang di antara orang-orang saleh.”
Melawan Khalid bin Walid
Riwayat hidup Salim tidak berbeda dengan riwayat hidup Bilal, riwayat hidup sepuluh sahabat Nabi ahli ibadah, dan riwayat hidup para sahabat lainnya yang sebelum memasuki Islam hidup sebagai budak beliau yang hina dan miskin.
Ia diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun umat ke jalan yang benar. Ia juga menjadi tokoh penentang kezaliman sebagai kesatria di medan laga.
Pada diri Salim terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada dirinya dan bersinar di lingkungan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang sangat indah.
Lihat Juga :