Kisah 3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Dikucilkan karena Tolak Ikut Perang Tabuk
Kamis, 18 Agustus 2022 - 18:13 WIB
loading...
3 sahabat Nabi SAW diisolir selama 50 hari karena menolak ikut dalam perang Tabuk. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah 3 orang sahabat Nabi Muhammad SAW ini dikucilkan gara-gara menolak ikut perang Tabuk. Tatkala Nabi berangkat dalam ekspedisi ini, ada tiga orang sahabat yang enggan ikut dalam barisan pasukan Nabi, yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'ah. Rasulullah kemudian mengisolir mereka, selama 50 hari.
Perang Tabuk dipimpin langsung Rasulullah SAW pada 630 M atau 9 H. Ini merupakan kelanjutan perang Mu'tah melawan tentara Bizantium. Perang Mu'tah sendiri merupakan perang 3.000 prajurit muslim melawan 200.000 prajurit Bizantium (Romawi Timur).
Pada musim panas tahun 630, umat Islam mendengar kabar bahwa Bizantium dan sekutu Ghassaniyah-nya telah menyiapkan pasukan besar untuk menginvasi Hijaz dengan kekuatan sekitar 40.000-100.000 orang.
Baca juga: Peristiwa Besar di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Pimpin Pasukan Muslim dalam Perang Tabuk
Merespons hal ini, Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menceritakan Nabi Muhammad telah menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin.
Rasul meminta muslim yang kaya ikut menyiapkan pasukan dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu.
Haekal mengatakan ada dua perasaan di kalangan muslimin pada waktu itu. Ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain.
Ada yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizya dengan taat dan patuh.
Golongan pertama, dengan segera mereka itu berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Ada orang miskin dari mereka itu, tidak ada binatang beban yang akan ditungganginya, ada pula orang yang kaya raya, menyerahkan semua harta kepadanya untuk diserahkan kepada perjuangan di jalan Allah, dengan hati ikhlas, dengan harapan akan gugur pula sebagai syahid di sisi Tuhan.
Sedang yang lain masih berat-berat langkah dan mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka dan mencemooh ajakan Nabi Muhammad kepada mereka untuk menghadapi suatu peperangan yang jauh, dalam udara yang begitu panas membakar.
Perang Tabuk dipimpin langsung Rasulullah SAW pada 630 M atau 9 H. Ini merupakan kelanjutan perang Mu'tah melawan tentara Bizantium. Perang Mu'tah sendiri merupakan perang 3.000 prajurit muslim melawan 200.000 prajurit Bizantium (Romawi Timur).
Pada musim panas tahun 630, umat Islam mendengar kabar bahwa Bizantium dan sekutu Ghassaniyah-nya telah menyiapkan pasukan besar untuk menginvasi Hijaz dengan kekuatan sekitar 40.000-100.000 orang.
Baca juga: Peristiwa Besar di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Pimpin Pasukan Muslim dalam Perang Tabuk
Merespons hal ini, Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menceritakan Nabi Muhammad telah menyerukan kepada semua kabilah bersiap-siap dengan pasukan yang sebesar mungkin.
Rasul meminta muslim yang kaya ikut menyiapkan pasukan dengan harta yang ada pada mereka serta mengerahkan orang supaya sama-sama menggabungkan diri ke dalam pasukan itu.
Haekal mengatakan ada dua perasaan di kalangan muslimin pada waktu itu. Ada yang menyambut agama ini dengan hati yang bersemarak cahaya dan bimbingan Tuhan, hati yang sudah berkilauan cahaya iman, dan ia sudah tidak mengenal yang lain.
Ada yang masuk agama dengan suatu harapan, dan dengan rasa gentar. Mereka mengharapkan harta rampasan perang, karena kabilah-kabilah itu sudah tak berdaya menahan serbuan muslimin, lalu mereka menyerah dan bersedia membayar jizya dengan taat dan patuh.
Golongan pertama, dengan segera mereka itu berbondong-bondong menyambut seruan Rasulullah. Ada orang miskin dari mereka itu, tidak ada binatang beban yang akan ditungganginya, ada pula orang yang kaya raya, menyerahkan semua harta kepadanya untuk diserahkan kepada perjuangan di jalan Allah, dengan hati ikhlas, dengan harapan akan gugur pula sebagai syahid di sisi Tuhan.
Sedang yang lain masih berat-berat langkah dan mulai mereka itu mencari-cari alasan, sambil berbisik-bisik sesama mereka dan mencemooh ajakan Nabi Muhammad kepada mereka untuk menghadapi suatu peperangan yang jauh, dalam udara yang begitu panas membakar.
Lihat Juga :