Mewujudkan Khaer Ummah: Tempatkan Diri Secara Proporsional
Kamis, 22 September 2022 - 16:54 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, keragaman yang merupakan tabiat alami dalam penciptaan Allah, perlu dikelola dengan kesungguhan dan kehati-hatian. Hal itu karena manusia juga memiliki tendensi egoistik yang sering tak terbendung. Karenanya perlu dikelolah dengan proses ta'aruf atau saling belajar. Dengan belajar akan tahu apa dan siapa saja di antara anggota keluarga kemanusiaan itu.
Keempat, karena tendensi atau dorongan egoistik manusia menjaidkannya sering over proud bahkan arogan dengan partikularitasnya. Karakter rasis dan paham rasisme bisa terhinggap kepada siapa saja. Walaupun yang lebih terbuka saat ini adalah kaum putih. Tapi warga hitam atau yang lain juga bisa saja merasa lebih superior dari yang lain.
Perasaan superior ini terjadi tidak saja dalam hal ras atau warna kulit. Bahkan dalam beragama juga sering ada perasaan lebih hebat dari yang lain. Ada kasus Arab merasa lebih beragama karena Rasulullah SAW terlahir di Arab. Lupa kalau Abu Lahab juga ternyata terlahir di daerah yang sama.
Atau sebaliknya karena ada asumsi umum yang terbangun jika manusia Nusantara lebih berakhlak (santun, sopan, ramah) lalu terjadi over pride bahkan arogansi kenusantaraan. Terjadilah perasaan lebih hebat dengan klaim Islam Nusantaranya.
Di sinilah kemudian Islam hadir dengan solusi: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di mata Allah adalah yang paling bertakwa". Dan ketakwaan tidak terdefenisikan dengan apapun, selain dengan iman dan amal. Intinya ada pada hati dan karakter (karya).
Kesimpulannya, umat harus menentukan posisi dan memainkan peranan untuk ikut menata dunia yang semakin kehilangan orientasi (disoriented world). Umat harusnya tidak saja menjadi bagian. Tapi menjadi leading nation (imaaman linnas) dalam tatanan dunia yang semakin tidak menentu.
Hanya sadar posisi, menempatkan diri secara proporsional, bahkan jadi pemimpin dalam dunia global ini, Islam bisa diklaim sebagai solusi (Al-hallu) bagi ragam permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia saat ini.
Masanya menghentikan klaim-klaim yang cenderung bisa saja dinilai orang lain sebagai retorika kosong.
(bersambung)!
NYC Subway, 21 September 2022
Baca Juga: Mewujudkan Khaer Ummah: Pentingnya Wawasan Iqra dan Revolusi Akhlak
Keempat, karena tendensi atau dorongan egoistik manusia menjaidkannya sering over proud bahkan arogan dengan partikularitasnya. Karakter rasis dan paham rasisme bisa terhinggap kepada siapa saja. Walaupun yang lebih terbuka saat ini adalah kaum putih. Tapi warga hitam atau yang lain juga bisa saja merasa lebih superior dari yang lain.
Perasaan superior ini terjadi tidak saja dalam hal ras atau warna kulit. Bahkan dalam beragama juga sering ada perasaan lebih hebat dari yang lain. Ada kasus Arab merasa lebih beragama karena Rasulullah SAW terlahir di Arab. Lupa kalau Abu Lahab juga ternyata terlahir di daerah yang sama.
Atau sebaliknya karena ada asumsi umum yang terbangun jika manusia Nusantara lebih berakhlak (santun, sopan, ramah) lalu terjadi over pride bahkan arogansi kenusantaraan. Terjadilah perasaan lebih hebat dengan klaim Islam Nusantaranya.
Di sinilah kemudian Islam hadir dengan solusi: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di mata Allah adalah yang paling bertakwa". Dan ketakwaan tidak terdefenisikan dengan apapun, selain dengan iman dan amal. Intinya ada pada hati dan karakter (karya).
Kesimpulannya, umat harus menentukan posisi dan memainkan peranan untuk ikut menata dunia yang semakin kehilangan orientasi (disoriented world). Umat harusnya tidak saja menjadi bagian. Tapi menjadi leading nation (imaaman linnas) dalam tatanan dunia yang semakin tidak menentu.
Hanya sadar posisi, menempatkan diri secara proporsional, bahkan jadi pemimpin dalam dunia global ini, Islam bisa diklaim sebagai solusi (Al-hallu) bagi ragam permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia saat ini.
Masanya menghentikan klaim-klaim yang cenderung bisa saja dinilai orang lain sebagai retorika kosong.
(bersambung)!
NYC Subway, 21 September 2022
Baca Juga: Mewujudkan Khaer Ummah: Pentingnya Wawasan Iqra dan Revolusi Akhlak
(rhs)
Lihat Juga :