Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Mulutnya Bercahaya
Selasa, 22 November 2022 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
Abdullah Ibnu Rawahah
Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah seorang penyair. Dia penulis yang tinggal di Madinah, suatu lingkungan yang belum maju, kala itu. Penduduknya kebanyakan buta huruf. Hanya sedikit saja yang bisa baca tulis. Banyak orang mengagumi syair ciptaan Ibnu Rawahah. Untaian kata syair-syairnya amat memesona.
Ia sahabat dari kalangan Anshor yang mengikuti Bai’ah Aqobah Ula dan Bai’at Aqobah Tsani. Semenjak ia memeluk Islam, kemampuan bersyair itu dibaktikannya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya. Tak jarang beliau meminta Ibnu Rawahah lebih tekun lagi membuat syair.
Pada suatu hari, Rasulullah duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Nabi bertanya kepadanya: "Apa yang engkau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"
"Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan" jawab Abdullah, sembari mengucapkan untaian kalimat indah.
Syair itu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya begini:
"Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia, dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya Anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang Anda bawa. Sebagaimana la telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa".
Mendengar itu Rasulullah menjadi gembira. Beliau bersabda:"Dan engkau pun akan diteguhkan Allah".
Baca juga: Abdullah Ibnu Rawahah, Sang Penyair yang Syahid di Medan Perang
Qatadah bin an-Nu’man
Sahabat Nabi Muhammad ini aslinya bernama Abdul Khatib. Beliau merupakan penduduk Madinah, sehingga disebut golongan Anshar.
Dalam Pertempuran Uhud, mata Qatadah bin an-Nu’man terluka hingga lepas dari rongganya, kemudian Nabi Muhammad dengan didahului dengan doa mengembalikan bola mata Abu Qatadah seperti sediakala.
Ia dijuluki sebagai “Ksatria Rasulullah” atau Faaris Rasulullah. Beliau wafat di kota Madinah tahun 54 H. Menurut sebuah situs, Qatadah memiliki arti “pohon kayu keras.”
Zaid bin Haritsah
Dari banyak sahabat Nabi yang mulia, Zaid bin Haritsah adalah sosok yang istimewa, sampai-sampai beberapa hukum syariat pun turun berkenaan dengan kisahnya. Beliaulah satu-satunya sahabat yang namanya diabadikan Allah di dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab Ayat 37).
Zaid dikenal rajin membaca Al-Qur'an , salat malam dan puasa. Semua orang mengenal Zaid sebagai sahabat Nabi yang ahli ibadah. Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat (mutabanna) Rasulullah SAW sehingga beliau dikenal dengan panggilan Zaid bin Muhammad.
Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah seorang penyair. Dia penulis yang tinggal di Madinah, suatu lingkungan yang belum maju, kala itu. Penduduknya kebanyakan buta huruf. Hanya sedikit saja yang bisa baca tulis. Banyak orang mengagumi syair ciptaan Ibnu Rawahah. Untaian kata syair-syairnya amat memesona.
Ia sahabat dari kalangan Anshor yang mengikuti Bai’ah Aqobah Ula dan Bai’at Aqobah Tsani. Semenjak ia memeluk Islam, kemampuan bersyair itu dibaktikannya untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya. Tak jarang beliau meminta Ibnu Rawahah lebih tekun lagi membuat syair.
Pada suatu hari, Rasulullah duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah. Nabi bertanya kepadanya: "Apa yang engkau lakukan jika hendak mengucapkan syair?"
"Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan" jawab Abdullah, sembari mengucapkan untaian kalimat indah.
Syair itu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bunyinya begini:
"Wahai putera Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia, dan memberimu keutamaan, di mana orang tak usah iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu. Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya Anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dan memecahkan persoalan tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang Anda bawa. Sebagaimana la telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa".
Mendengar itu Rasulullah menjadi gembira. Beliau bersabda:"Dan engkau pun akan diteguhkan Allah".
Baca juga: Abdullah Ibnu Rawahah, Sang Penyair yang Syahid di Medan Perang
Qatadah bin an-Nu’man
Sahabat Nabi Muhammad ini aslinya bernama Abdul Khatib. Beliau merupakan penduduk Madinah, sehingga disebut golongan Anshar.
Dalam Pertempuran Uhud, mata Qatadah bin an-Nu’man terluka hingga lepas dari rongganya, kemudian Nabi Muhammad dengan didahului dengan doa mengembalikan bola mata Abu Qatadah seperti sediakala.
Ia dijuluki sebagai “Ksatria Rasulullah” atau Faaris Rasulullah. Beliau wafat di kota Madinah tahun 54 H. Menurut sebuah situs, Qatadah memiliki arti “pohon kayu keras.”
Zaid bin Haritsah
Dari banyak sahabat Nabi yang mulia, Zaid bin Haritsah adalah sosok yang istimewa, sampai-sampai beberapa hukum syariat pun turun berkenaan dengan kisahnya. Beliaulah satu-satunya sahabat yang namanya diabadikan Allah di dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab Ayat 37).
Zaid dikenal rajin membaca Al-Qur'an , salat malam dan puasa. Semua orang mengenal Zaid sebagai sahabat Nabi yang ahli ibadah. Zaid bin Haritsah merupakan anak angkat (mutabanna) Rasulullah SAW sehingga beliau dikenal dengan panggilan Zaid bin Muhammad.
Lihat Juga :