John Louis Esposito: Islam Terbukti Merupakan Agama yang Lebih Toleran
Kamis, 22 Desember 2022 - 11:39 WIB
loading...
A
A
A
Kaum Muslim mentoleransi agama Kristen tetapi menjadikannya tidak established; karena itu kehidupan dan tata kebaktian, politik, dan teologi orang-orang Kristen menjadi urusan pribadi, bukan urusan umum.
Dengan ironi itu, Islam mereduksi status orang-orang Kristen seperti apa yang mereka (orang-orang Kristen) lakukan dahulu terhadap orang-orang Yahudi, dengan satu perbedaan.
Pereduksian status orang Kristen ini semata-mata bersifat yudisial; tidak disertai dengan pengejaran yang sistematis atau pembunuhan, dan pada umumnya tidak dilakukan dengan perilaku rendah, walaupun hal ini tidak terjadi di setiap tempat dan setiap waktu.
Baca juga: Wapres: Islam Agama Kedamaian, Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Toleransi
Menurut Esposito, para penguasa Muslim cenderung tidak mengubah birokrasi dan lembaga-lembaga pemerintah. Umat beragama bebas menjalankan agama mereka dan urusan-urusan intern mereka diatur oleh hukum dan pemimpin agama mereka.
Umat beragama diharuskan membayar pajak kepala (head/poll tax), dan sebagai imbalannya perlindungan dan kedamaian menjadi hak mereka; dengan demikian mereka dikenal sebagai "orang-orang yang dilindungi."
Ideal Islam adalah untuk menciptakan suatu dunia di mana, di bawah penguasa Muslim, penyembahan berhala dan paganisme dimusnahkan, dan semua ahlul kitab dapat hidup dalam sebuah masyarakat yang dibimbing dan dilindungi oleh kekuasaan Islam.
"Jika Islam dianggap sebagai agama Tuhan yang terakhir dan sempurna, maka umat lain harus diajak, mula-mula melalui pembujukan
tanpa menggunakan pedang, untuk masuk kedalam agama Islam," ujar John L Esposito.
Dengan demikian, katanya lagi, kaum non-Muslim diberi tiga pilihan: (1) masuk Islam dan menjadi anggota umat sepenuhnya; (2) tetap dalam agama masing-masing dan membayar pajak kepala; (3) jika mereka menolak Islam atau status "dilindungi," maka berperang dibolehkan, sampai peraturan Islam diterima.
Baca juga: Haji sebagai Sarana Membangun Toleransi
Dengan ironi itu, Islam mereduksi status orang-orang Kristen seperti apa yang mereka (orang-orang Kristen) lakukan dahulu terhadap orang-orang Yahudi, dengan satu perbedaan.
Pereduksian status orang Kristen ini semata-mata bersifat yudisial; tidak disertai dengan pengejaran yang sistematis atau pembunuhan, dan pada umumnya tidak dilakukan dengan perilaku rendah, walaupun hal ini tidak terjadi di setiap tempat dan setiap waktu.
Baca juga: Wapres: Islam Agama Kedamaian, Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan dan Toleransi
Menurut Esposito, para penguasa Muslim cenderung tidak mengubah birokrasi dan lembaga-lembaga pemerintah. Umat beragama bebas menjalankan agama mereka dan urusan-urusan intern mereka diatur oleh hukum dan pemimpin agama mereka.
Umat beragama diharuskan membayar pajak kepala (head/poll tax), dan sebagai imbalannya perlindungan dan kedamaian menjadi hak mereka; dengan demikian mereka dikenal sebagai "orang-orang yang dilindungi."
Ideal Islam adalah untuk menciptakan suatu dunia di mana, di bawah penguasa Muslim, penyembahan berhala dan paganisme dimusnahkan, dan semua ahlul kitab dapat hidup dalam sebuah masyarakat yang dibimbing dan dilindungi oleh kekuasaan Islam.
"Jika Islam dianggap sebagai agama Tuhan yang terakhir dan sempurna, maka umat lain harus diajak, mula-mula melalui pembujukan
tanpa menggunakan pedang, untuk masuk kedalam agama Islam," ujar John L Esposito.
Dengan demikian, katanya lagi, kaum non-Muslim diberi tiga pilihan: (1) masuk Islam dan menjadi anggota umat sepenuhnya; (2) tetap dalam agama masing-masing dan membayar pajak kepala; (3) jika mereka menolak Islam atau status "dilindungi," maka berperang dibolehkan, sampai peraturan Islam diterima.
Baca juga: Haji sebagai Sarana Membangun Toleransi
(mhy)
Lihat Juga :