Ini Penyebab Penjualan Kembang Api Turun

Sabtu, 12 Juli 2014 - 03:32 WIB
Ini Penyebab Penjualan...
Ini Penyebab Penjualan Kembang Api Turun
A A A
JAKARTA - Tradisi kembang api saat bulan suci Ramadan seakan sulit dipungkiri. Salah satunya adalah maraknya pedagang kembang api di Pasar Asemka Lama, Tambora, Jakarta Barat.

Pasar yang terletak di bawah jembatan layang ini dipenuhi pedagang musiman mayoritas warga Garut, Jawa Barat. Mereka saling berlomba menarik pembeli dengan berbagai cara. Mulai kualitas sampai promo harga hadir mewarnai strategi penjualan para pedagang musiman tersebut.

"Pembeli rata-rata juga penjual eceran. Untuk itu kami tidak menjual harga mahal dan tidak juga bisa ditawar," kata Muhammad Soni (42), katanya saat ditemui di lapak dagangannya, Jumat 11 Juli 2014.

Pria yang sejak lulus SMA sudah berkecimpung berjualan kembang api itu mengeluhkan penjualan kembang api di bulan Ramadan tahun ini yang berbarengan dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan kenaikan anak sekolah. Sebab, pendapatanya mengalami penurunan dari tahun lalu sebesar 50 persen.

Bahkan, kata Soni, 40 lapak yang dibawahinya sekarang hanya sisa 20 lapak. Artinya, daya beli masyarakat untuk kembang api saat ini menurun.

"Memang sih masih untung, tapi ya menurun," ungkapnya yang enggan menyebutkan angka keuntungannya.

Kendati demikian, Soni mengaku optimis, Ramadan kali ini dapat mengejar target penjualan hingga Rp5 miliar. Sebab, saat ini dia juga telah memiliki banyak pesanan di luar kota seperti Batam, dan Papua selain di Bekasi, Depok dan Tangerang.

"Pengiriman ke daerah itu yang bikin omsetnya lumayan, kalau di lapak gini hanya beberapa saja yang beli partai besar," ungkapnya.

Kios Soni yang beratapkan jembatan dengan luas 5x5 meter itu terdapat berbagai jenis dan variasi kembang api yang didapatnya dari importir China. Sebagian besar jenis kembang api yang meletup ke udara, menembak ataupun meroket menghiasa kios Soni.

Mungkin tak ada yang mengira di lapak sekelas kaki lima, Soni juga menyediakan kembang api berkapasitas besar. Biasa digunakan untuk seremonial event besar. Harganya dibandrol Rp4,5-Rp5 juta untuk satu kotak berukuran besar.

Tidak ketinggalan, kembang api klasik yang menggunakan kawat itu tetap ada di lapaknya, meski banyak keluaran terbaru. Hal itu untuk melayani pembeli eceran.

"Di sini juga ada yang daya tembaknya bisa seribu kali, meletup selama kurang lebih 15 menit. Untuk yang lebih besar dari itu pun saya siap melayani," ujar Soni yang menyebutkan modal minimal pembelian dari importir kembang Api sebesar Rp1 miliar.

Sebelah kios Soni, Marifid (45), hanya mengikuti pekerjaan pamannya, Pandji sebagai penjual kembang api. Menurutnya, setiap Ramadan penjualan kembang api di Pasar Asemka kerap diserbu para pembeli dari daerah DKI Jakarta dan sekitarnya. Namun, dia juga melihat adanya penurunan pendapatan dengan adanya Pemilu serta kenaikan anak sekolah.

"Saya sih tidak tahu angkanya secara pasti, tapi kalau dengar bos lagi pembukuan setiap hari, omzet belum sama seperti tahun kemarin," ungkapnya.

Berbagai alasan pun diutarakan bosnya, kata dia, penurunan pendapatan disebabkan oleh pemilu dan kenaikan anak sekolah, dimana banyak pembeli yang sudah pulang kampung untuk memilih dan polisi terus memperketat keamanannya termasuk penjualan kembang api.

Sementara untuk anak sekolah, banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli perlengkapan sekolah ketimbang berpesta kembang api.

"Untungnya berjualan kembang api ini kan barangnya bisa kembali dijual untuk tahun baru islam, tahun baru masehi dan natal,"kata Fifid yang mendapatkan upah sebesar Rp50.000 per hari saat menjual kembang api.
(mhd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Demi Keamanan, Aparat...
Demi Keamanan, Aparat Polres Pekalongan Razia Balon Udara dan Petasan
Operasi Cipta Kondisi...
Operasi Cipta Kondisi 2023, Polresta Bogor Kota Sita Belasan Ribu Petasan
Nyaris Bakar Rumah di...
Nyaris Bakar Rumah di Ponorogo, 20 Balon Udara Diamankan Polisi
20.000 Butir Petasan...
20.000 Butir Petasan Korek di Bogor Disita Polisi
Dijual Rp300 Ribu per...
Dijual Rp300 Ribu per 1 Kg, Ratusan Petasan untuk Rayakan Lebaran Diamankan di Pasuruan
Kapolres Ponorogo Kejar...
Kapolres Ponorogo Kejar dan Turunkan Balon Udara Berukuran 20 Meter
Rekomendasi
Laporan Baru PBB: Dunia...
Laporan Baru PBB: Dunia Berada dalam Kondisi Kebangkrutan Air Global
Pengakuan Misterius...
Pengakuan Misterius Keluarga Shakespeare yang Berbahaya Akhirnya Terungkap
Ilmuwan Ungkap Bab Tersembunyi...
Ilmuwan Ungkap Bab Tersembunyi dalam Evolusi Manusia
Artikel Terkini
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Pulang Ibadah dari Tanah...
Pulang Ibadah dari Tanah Suci, Bolehkah Memakai Gelar Haji?
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Infografis
PPKM Jabodetabek Turun...
PPKM Jabodetabek Turun Jadi Level 1, Ini Aturannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved