Usaha Mencari Kebenaran: Jihad, Ittihad dan Mujahadah
Kamis, 09 Februari 2023 - 09:35 WIB
Jihad banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. Foto/Ilustrasi: Ist
Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (1939 –2005) atau populer dipanggil Cak Nur , mengatakan usaha terus-menerus mencari Kebenaran disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). Wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). Selanjutnya, lahirlah sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik), ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual), dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual).
Menurut Cak Nur dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah", yang pertama (Jihad) banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan, yang kedua (Ijtihad) oleh para pemikir baik dalam bidang fiqih maupun Kalam, dan yang ketiga (mujahadah) oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan.
Baca juga: Ada yang Menabukan Ijtihad, Begini Pendapat Cak Nur
Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim), kata Cak Nur, karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci, yaitu fitrah kita dalam hati nurani. Nurani, artinya, bersifat terang, sebagai sumber kesadaran akan kebenaran. Lurus ke arah Kebenaran Mutlak. Tapi justru karena kemutlakanNya, maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau.
"Akibatnya, dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti, sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya, apa selanjutnya?" tutur Cak Nur.
"Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh, akan menyesatkan kita dari Kebenaran, karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu?" lanjutnya.
Pertanyaan dan penanyaan itu, kata Cak Nur, adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari, mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus ( QS al-Fatihah/1 :6).
Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu, terutama dalam setiap kali sholat, kemudian "diaminkan," baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Dan kalau sholat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi, siang, sore, saat terbenam matahari dan malam) ( QS. al-Nisa 4 :103), maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat, tanpa henti-hentinya.
Baca juga: Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim
Ini berarti, kata Cak Nur lagi, bahwa jalan yang telah kita tempuh, juga yang akan kita tempuh, tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh, yaitu jihad, ijtihad dan mujahadah tersebut tadi.
Menurut Cak Nur dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah", yang pertama (Jihad) banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan, yang kedua (Ijtihad) oleh para pemikir baik dalam bidang fiqih maupun Kalam, dan yang ketiga (mujahadah) oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan.
Baca juga: Ada yang Menabukan Ijtihad, Begini Pendapat Cak Nur
Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim), kata Cak Nur, karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci, yaitu fitrah kita dalam hati nurani. Nurani, artinya, bersifat terang, sebagai sumber kesadaran akan kebenaran. Lurus ke arah Kebenaran Mutlak. Tapi justru karena kemutlakanNya, maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau.
"Akibatnya, dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti, sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya, apa selanjutnya?" tutur Cak Nur.
"Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh, akan menyesatkan kita dari Kebenaran, karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu?" lanjutnya.
Pertanyaan dan penanyaan itu, kata Cak Nur, adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari, mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus ( QS al-Fatihah/1 :6).
Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu, terutama dalam setiap kali sholat, kemudian "diaminkan," baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Dan kalau sholat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi, siang, sore, saat terbenam matahari dan malam) ( QS. al-Nisa 4 :103), maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat, tanpa henti-hentinya.
Baca juga: Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim
Ini berarti, kata Cak Nur lagi, bahwa jalan yang telah kita tempuh, juga yang akan kita tempuh, tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh, yaitu jihad, ijtihad dan mujahadah tersebut tadi.
Lihat Juga :