Kisah Mojud Bertemu Nabi Khidir, Dunia Tak Kasat Mata
Senin, 13 Februari 2023 - 16:20 WIB
Karena bisa berenang, ia tidak tenggelam, tetapi terbawa arus cukup jauh sebelum seorang nelayan menariknya ke perahunya, dan berkata, "Orang tolol! Arus sungai begitu kuat. Apa yang mau kau lakukan dengan berhanyut-hanyut ini?'
Mojud berkata, "Saya juga tidak tahu pasti."
"Kau ini gila," kata Si Nelayan, "Nah, kau boleh singgah di gubuk buluhku di sungai sebelah sana, nanti kita pikir lagi apa yang bisa dilakukan untukmu."
Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut.
Setelah beberapa bulan, Khidir pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."
Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.
Pada suatu sore, ketika ia sedang membungkus wol, Khidir muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."
Mojud pun patuh.
Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidir tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidir muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.
Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"
Mojud berkata, "Saya juga tidak tahu pasti."
"Kau ini gila," kata Si Nelayan, "Nah, kau boleh singgah di gubuk buluhku di sungai sebelah sana, nanti kita pikir lagi apa yang bisa dilakukan untukmu."
Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut.
Setelah beberapa bulan, Khidir pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."
Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan
Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."
Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.
Pada suatu sore, ketika ia sedang membungkus wol, Khidir muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."
Mojud pun patuh.
Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidir tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidir muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.
Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.
Baca juga: Kisah Sufi Amil-Baba: Gerbang Surga
Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"
Lihat Juga :