Sejarah Disyariatkannya Makan Sahur Saat Puasa Ramadan
Jum'at, 24 Maret 2023 - 04:05 WIB
Makan sahur adalah makan yang penuh berkah dan pembeda puasa umat muslim dengan puasa Ahli Kitab. Foto ilustrasi/ist
Makan sahur saat puasa Ramadan merupakan sunnah Nabi dan bagian dari syiar Islam. Berikut sejarah disyariatkannya makan sahur ketika berpuasa.
Untuk diketahui, makan sahur adalah makan yang penuh berkah dan pembeda puasa umat muslim dengan puasa Ahli Kitab. Kebiasaan Rasulullah ketika makan sahur selalu mengakhirkan waktunya. Beliau makan sahur menjelang adzan Subuh atau sekira bacaan 50 ayat Al-Qur'an (sekitar 10-20 menit).
Sejarah disyariatkannya makan sahur ini bermula dari keadaan Madinah yang kala itu dalam kondisi panas pada tahun pertama puasa Ramadhan. Sebagian sahabat sudah mafhum, namun menahan lapar dan dahaga merupakan ujian bagi mereka.
Dikisahkan, salah satu sahabat Nabi bernama Qais ibn Shirmah radhiyallahu 'anhu dengan penuh semangat menjalankan ibadah puasa tanpa sedikit mengurangi kebiasaannya bekerja di ladang. Maghrib pun tiba. Sesampainya di rumah, Qais bertanya kepada istrinya menu apa yang bisa disantap untuk berbuka.
"Maafkan aku, suamiku. Tak ada satu makanan pun yang dapat dihidangkan hari ini. Tunggulah, aku akan mencarikannya untukmu," jawab istri Qais.
Tak ada makanan yang tersedia bukan perkara aneh. Sebab, dalam kebiasaan puasa sebelumnya tidak dikenal kesunnahan makan sahur dan berbuka. Karena menunggu cukup lama, Qais pun tertidur.
"Kasihan sekali wahai engkau, Qais," ucap lirih sang istri sekembali pulang tanpa berani membangunkan.
Pagi harinya, Qais terbangun. Ia menunaikan sholat Subuh dan langsung kembali bekerja di ladang. Hingga di tengah hari kemudian, terdengar kabar Qais jatuh pingsan. Apa yang menimpa Qais sampai ke telinga Rasulullah SAW.
Baginda Rasulullah bermenung, kemudian Allah Ta'ala menurunkan wahyu, Surat Al-Baqarah Ayat 187:
Untuk diketahui, makan sahur adalah makan yang penuh berkah dan pembeda puasa umat muslim dengan puasa Ahli Kitab. Kebiasaan Rasulullah ketika makan sahur selalu mengakhirkan waktunya. Beliau makan sahur menjelang adzan Subuh atau sekira bacaan 50 ayat Al-Qur'an (sekitar 10-20 menit).
Sejarah disyariatkannya makan sahur ini bermula dari keadaan Madinah yang kala itu dalam kondisi panas pada tahun pertama puasa Ramadhan. Sebagian sahabat sudah mafhum, namun menahan lapar dan dahaga merupakan ujian bagi mereka.
Dikisahkan, salah satu sahabat Nabi bernama Qais ibn Shirmah radhiyallahu 'anhu dengan penuh semangat menjalankan ibadah puasa tanpa sedikit mengurangi kebiasaannya bekerja di ladang. Maghrib pun tiba. Sesampainya di rumah, Qais bertanya kepada istrinya menu apa yang bisa disantap untuk berbuka.
"Maafkan aku, suamiku. Tak ada satu makanan pun yang dapat dihidangkan hari ini. Tunggulah, aku akan mencarikannya untukmu," jawab istri Qais.
Tak ada makanan yang tersedia bukan perkara aneh. Sebab, dalam kebiasaan puasa sebelumnya tidak dikenal kesunnahan makan sahur dan berbuka. Karena menunggu cukup lama, Qais pun tertidur.
"Kasihan sekali wahai engkau, Qais," ucap lirih sang istri sekembali pulang tanpa berani membangunkan.
Pagi harinya, Qais terbangun. Ia menunaikan sholat Subuh dan langsung kembali bekerja di ladang. Hingga di tengah hari kemudian, terdengar kabar Qais jatuh pingsan. Apa yang menimpa Qais sampai ke telinga Rasulullah SAW.
Baginda Rasulullah bermenung, kemudian Allah Ta'ala menurunkan wahyu, Surat Al-Baqarah Ayat 187:
وَكُلُوۡا وَاشۡرَبُوۡا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الۡخَـيۡطُ الۡاَبۡيَضُ مِنَ الۡخَـيۡطِ الۡاَسۡوَدِ مِنَ الۡفَجۡرِؕ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيۡلِ
Lihat Juga :