Memaknai Keberkahan Ramadan (7): Puasa Ingatkan Manusia kepada Akhirat
Sabtu, 01 April 2023 - 23:51 WIB
Imam Shamsi Ali, Dai yang juga Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Satu hal yang pasti adalah bahwa dunia ini begitu sangat kuat dalam tipuan (ghuruur). Pada sisi lain dunia ini dirasakan sebagai keindahan (ziinah) dan kesenangan (mataa') yang melupakan (lahwun).
Realitanya kemudian mayoritas manusia menjadi lupa jika dunia hanyalah kesenangan yang sedikit (mataa'un qaliilun) dan sangat terbatas (ilaa hiin). Dahsyatnya tipu daya dunia menjadikan banyak manusia yang terpedaya. Mereka menjadi lupa Tuhan, lupa diri, dan juga lupa orientasi hidup yang sesungguhnya.
Manusia yang tertipu itu berbalik pandangan dari yang seharusnya melihat dunia sebagai jembatan atau tempat menanam (mazra'ah) menjadi dunia sebagai destinasi (tujuan). Akibatnya orientasi hidup berbalik menjadi orientasi duniawi.
Akibatnya tujuan hidup yang asli untuk menghamba kepada Pencipta berbalik arah. Pandangan hidup berubah dari orientasi ubudiyah (pengabdian) dan demi kehidupan yang abadi (ukhrawi) menjadi kehidupan yang berorientasi kesementaraan (duniawi).
Al-Qur'an menggambarkan kehidupan yang demikian dalam Surat 30 ayat 7: "Mereka tahu segala yang berifat lahir dari kehidupan dunia. Tapi mereka lalai dari kehidupan Akhirat."
Kehidupan yang demikian itu dalam bahasa modern disebut materialis. Paham tentang hidup yang demikian disebut "materialisme". Sebuah paham yang meyakini seolah kehidupan dunia dan material inilah segalanya.
Cara pandang atau paham kehidupan yang demikian jelas adalah bentuk disorientasi kehidupan. Yaitu kehidupan yang sedang kehilangan arah yang sesungguhnya. Arah atau orientasi kehidupan yang digariskan oleh Allah, Pemilik langit dan bumi. Yaitu untuk mengabdi kepada Allah (ibadatullah) dan berjuang untuk Akhirat sebagai kehidupan yang sejati dan abadi (lahiyal hayawaanu).
Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Satu hal yang pasti adalah bahwa dunia ini begitu sangat kuat dalam tipuan (ghuruur). Pada sisi lain dunia ini dirasakan sebagai keindahan (ziinah) dan kesenangan (mataa') yang melupakan (lahwun).
Realitanya kemudian mayoritas manusia menjadi lupa jika dunia hanyalah kesenangan yang sedikit (mataa'un qaliilun) dan sangat terbatas (ilaa hiin). Dahsyatnya tipu daya dunia menjadikan banyak manusia yang terpedaya. Mereka menjadi lupa Tuhan, lupa diri, dan juga lupa orientasi hidup yang sesungguhnya.
Manusia yang tertipu itu berbalik pandangan dari yang seharusnya melihat dunia sebagai jembatan atau tempat menanam (mazra'ah) menjadi dunia sebagai destinasi (tujuan). Akibatnya orientasi hidup berbalik menjadi orientasi duniawi.
Akibatnya tujuan hidup yang asli untuk menghamba kepada Pencipta berbalik arah. Pandangan hidup berubah dari orientasi ubudiyah (pengabdian) dan demi kehidupan yang abadi (ukhrawi) menjadi kehidupan yang berorientasi kesementaraan (duniawi).
Al-Qur'an menggambarkan kehidupan yang demikian dalam Surat 30 ayat 7: "Mereka tahu segala yang berifat lahir dari kehidupan dunia. Tapi mereka lalai dari kehidupan Akhirat."
Kehidupan yang demikian itu dalam bahasa modern disebut materialis. Paham tentang hidup yang demikian disebut "materialisme". Sebuah paham yang meyakini seolah kehidupan dunia dan material inilah segalanya.
Cara pandang atau paham kehidupan yang demikian jelas adalah bentuk disorientasi kehidupan. Yaitu kehidupan yang sedang kehilangan arah yang sesungguhnya. Arah atau orientasi kehidupan yang digariskan oleh Allah, Pemilik langit dan bumi. Yaitu untuk mengabdi kepada Allah (ibadatullah) dan berjuang untuk Akhirat sebagai kehidupan yang sejati dan abadi (lahiyal hayawaanu).
Lihat Juga :