Ramadan Bulan Melatih Kesabaran Dalam Menyebarkan Kerahmatan
Rabu, 19 April 2023 - 14:43 WIB
“Inilah yang menyalah artikan pemahaman keagamaan lalu dituruti hawa nafsunya untuk melakukan pembenaran atas apa yang mereka lakukan, seperti tindakan yang mengarah kepada destruktif, dalam bahasa agama ‘Irhab’ (terorisme), nah ini yang menggunakan hawa nafsu dalam memahami agama,” jelas Guru Besar Bidang Hukum Islam Kontemporer UIN Alauddin Makassar ini.
Pasalnya, penyelewengan makna Ramadan sebagai bulan jihad tersebut dapat berakibat fatal. Terlebih jika dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan tindakan tindakan yang dapat mencederai nilai nilai kemanusiaan, menciptakan konflik dan gangguan bagi keharmonisan bangsa yang majemuk.
“Ini berbahaya sekali bagi harmonisasi bangsa kita, bangsa kita yang sungguh sangat kita nikmati hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, dengan tenang, dengan harmoni. Kalau ada kelompok yang memaksakan pemahaman eksklusifnya, dan salah memaknai agama, tentunya itu efek yang sangat berbahaya bagi pemahaman yang mengarah kepada radikalisme itu,” kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan ini.
Dalam kaitannya Ramadan sebagai bulan kemenangan, menurutnya, juga mengingatkan bangsa Indonesia dengan sejarah besar kemerdekaan tahun 1945 silam yang juga diraih saat bulan Ramadan. Dia menyebut, momentum ini harus diperingati sebagai momen membangun Indonesia secara lebih baik.
“Ramadan bagi kita bangsa Indonesia adalah sejarah besar, harus menjadi bulan yang mengingatkan kita tentang kemerdekaan yang sesungguhnya. Momentum bagi kita untuk menebarkan kerahmatan, kedamaian, membangun Indonesia secara lebih baik dan secara konstruktif,” ucapnya.
Muammar menyampaikan pesannya kepada segenap umat muslim dan masyarakat Indonesia untuk senantiasa mengingat catatan penting yang tersirat didalam kitab suci Al Qur'an tentang menjaga persaudaraan, yang tidak hanya dibangun selama bulan Ramadan saja tetapi dalam setiap jengkal dan waktu kehidupan bermasyarakat.
“Al Qur'an sudah memberikan catatan penting tentang persaudaraan. Kita selaku manusia dan selaku anak bangsa adalah bersaudara. Jangan dianggap saudara kebangsaan atau ukhuwah kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan ukhuwah kemanusiaan bukan dari perintah agama. Justru itu perintah agama yang sangat prinsipil,” pungkasnya.
Pasalnya, penyelewengan makna Ramadan sebagai bulan jihad tersebut dapat berakibat fatal. Terlebih jika dijadikan alasan pembenaran untuk melakukan tindakan tindakan yang dapat mencederai nilai nilai kemanusiaan, menciptakan konflik dan gangguan bagi keharmonisan bangsa yang majemuk.
“Ini berbahaya sekali bagi harmonisasi bangsa kita, bangsa kita yang sungguh sangat kita nikmati hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, dengan tenang, dengan harmoni. Kalau ada kelompok yang memaksakan pemahaman eksklusifnya, dan salah memaknai agama, tentunya itu efek yang sangat berbahaya bagi pemahaman yang mengarah kepada radikalisme itu,” kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan ini.
Dalam kaitannya Ramadan sebagai bulan kemenangan, menurutnya, juga mengingatkan bangsa Indonesia dengan sejarah besar kemerdekaan tahun 1945 silam yang juga diraih saat bulan Ramadan. Dia menyebut, momentum ini harus diperingati sebagai momen membangun Indonesia secara lebih baik.
“Ramadan bagi kita bangsa Indonesia adalah sejarah besar, harus menjadi bulan yang mengingatkan kita tentang kemerdekaan yang sesungguhnya. Momentum bagi kita untuk menebarkan kerahmatan, kedamaian, membangun Indonesia secara lebih baik dan secara konstruktif,” ucapnya.
Muammar menyampaikan pesannya kepada segenap umat muslim dan masyarakat Indonesia untuk senantiasa mengingat catatan penting yang tersirat didalam kitab suci Al Qur'an tentang menjaga persaudaraan, yang tidak hanya dibangun selama bulan Ramadan saja tetapi dalam setiap jengkal dan waktu kehidupan bermasyarakat.
“Al Qur'an sudah memberikan catatan penting tentang persaudaraan. Kita selaku manusia dan selaku anak bangsa adalah bersaudara. Jangan dianggap saudara kebangsaan atau ukhuwah kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan ukhuwah kemanusiaan bukan dari perintah agama. Justru itu perintah agama yang sangat prinsipil,” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :