Kisah Umar bin Khattab Ketika Madinah Mengalami Paceklik
Selasa, 09 Mei 2023 - 21:45 WIB
Umar bin Khattab Umar (kanan) dan Aslam berkeliling mengunjungi kampung terpencil ketika Madinah mengalami masa paceklik. Foto ilustrasi/tangkapan film Umar
Gus Musa Muhammad dalam satu kajiannya menceritakan kisah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ketika Madinah musim paceklik.
Pada masa Umar bin Khattab memimpin kaum muslim, terjadilah Amar Ramadah atau Tahun Abu. Semua masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tak kunjung turun, pepohonan mengering dan tidak terhitung lagi hewan yang mati mengenaskan.
Tanah tempat berpijak sudah hampir menghitam bagaikan abu. Rasa putus asa pun mendera di mana-mana. Umar sang pemimpin menampilkan kepribadiannya sebagai pemimpin yang sangat bijaksana. Keadaan rakyat diperhatikannya dengan seksama.
Tanggung jawab sebagai Amirul Mukminin dijalankannya sepenuh hati. Setiap hari beliau menginstruksikan aparatnya untuk menyembelih unta lalu disebarkan kepada seluruh rakyat melalui pengumuman.
Tak lama kemudian berbondong-bondong lah para rakyat datang untuk memakan hidangan tersebut. Semakin pedih hatinya saat melihat kejadian itu, dan rasa kecemasannya kian menjadi tebal. Dengan hati yang gentar, lidah kelunya berkata: "Ya Allah, jangan sampai umat Nabi Muhammad menemui kehancurannya di tangan ini."
Umar tak makan daging, minyak samin, dan bahkan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, beliau hanya khawatir makanan untuk rakyatnya ini berkurang. Beliau hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya perutnya terasa panas, lalu ia berkata kepada pembantunya: "Tolong kurangilah panas minyak itu dengan menggunakan api."
Minyak pun dimasak, tetapi perutnya bukannya sembuh kini malah perutnya bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah seperti ini, ditabuh perutnya dengan jemari jemarinya seraya berkata:
"Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak ini, sampai para rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar."
Pada awal musim paceklik, para penduduk Kota Madinah dapat menyimpan cadangan makanan karena taraf hidup kesejahteraannya sudah meningkat. Lain lagi dengan kaum Arab Badui pedalaman. Tak ada yang dapat mereka simpan sehingga sejak awal mereka telah berbondong-bondong ke Madinah. Mereka datang meminta bantuan Umar, yang ketika itu menjabat sebagai pimpinan tertinggi umat Islam, sekadar mencari remah-remeh yang dapat dimakan.
Lambat laun, gelombang pengungsi ke Madinah makin tak tertahankan. Bencana kelaparan mengancam penduduk kota, sementara hujan tak kunjung turun, peristiwa itu terjadi Tahun 17 Hijriyah. Dalam kondisi seperti itu, uang tidak ada lagi artinya. Tidak ada makanan yang dapat dibeli karena hasil panen pun sudah hancur total.
Pada masa Umar bin Khattab memimpin kaum muslim, terjadilah Amar Ramadah atau Tahun Abu. Semua masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tak kunjung turun, pepohonan mengering dan tidak terhitung lagi hewan yang mati mengenaskan.
Tanah tempat berpijak sudah hampir menghitam bagaikan abu. Rasa putus asa pun mendera di mana-mana. Umar sang pemimpin menampilkan kepribadiannya sebagai pemimpin yang sangat bijaksana. Keadaan rakyat diperhatikannya dengan seksama.
Tanggung jawab sebagai Amirul Mukminin dijalankannya sepenuh hati. Setiap hari beliau menginstruksikan aparatnya untuk menyembelih unta lalu disebarkan kepada seluruh rakyat melalui pengumuman.
Tak lama kemudian berbondong-bondong lah para rakyat datang untuk memakan hidangan tersebut. Semakin pedih hatinya saat melihat kejadian itu, dan rasa kecemasannya kian menjadi tebal. Dengan hati yang gentar, lidah kelunya berkata: "Ya Allah, jangan sampai umat Nabi Muhammad menemui kehancurannya di tangan ini."
Umar tak makan daging, minyak samin, dan bahkan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, beliau hanya khawatir makanan untuk rakyatnya ini berkurang. Beliau hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya perutnya terasa panas, lalu ia berkata kepada pembantunya: "Tolong kurangilah panas minyak itu dengan menggunakan api."
Minyak pun dimasak, tetapi perutnya bukannya sembuh kini malah perutnya bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah seperti ini, ditabuh perutnya dengan jemari jemarinya seraya berkata:
"Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak ini, sampai para rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar."
Pada awal musim paceklik, para penduduk Kota Madinah dapat menyimpan cadangan makanan karena taraf hidup kesejahteraannya sudah meningkat. Lain lagi dengan kaum Arab Badui pedalaman. Tak ada yang dapat mereka simpan sehingga sejak awal mereka telah berbondong-bondong ke Madinah. Mereka datang meminta bantuan Umar, yang ketika itu menjabat sebagai pimpinan tertinggi umat Islam, sekadar mencari remah-remeh yang dapat dimakan.
Lambat laun, gelombang pengungsi ke Madinah makin tak tertahankan. Bencana kelaparan mengancam penduduk kota, sementara hujan tak kunjung turun, peristiwa itu terjadi Tahun 17 Hijriyah. Dalam kondisi seperti itu, uang tidak ada lagi artinya. Tidak ada makanan yang dapat dibeli karena hasil panen pun sudah hancur total.
Lihat Juga :