Haji itu Miniatur Perjalanan Hidup Manusia, Begini Gambarannya

Kamis, 29 Juni 2023 - 21:40 WIB
Keesokan harinya jemaah Haji bergegas menuju Mina. Kini mereka memulai peperangan itu. Mereka dalam perjalanan (hidup) dihadang oleh musuh-musuh. Yang mereka harus hadapi pertama kali adalah musuh terbesarnya (jamrah aqabah). Konon musuh terbesar manusia itu ada pada dirinya sendiri. Peperangan melawan musuh-musuh ini memakan waktu tee lama dalam proses perjalanan itu. Dua atau tiga hari. Sungguh perjuangan melawan musuh-musuh kehidupan itu adalah perjuangan panjang (life long struggle).

Dari Mina jemaah bergegas menuju Mekah untuk melaksanakan thawaf ifadhoh. Membangun kembali kesadaran akan hidup yang berputar. Hidup itu pergerakan. Tapi pergerakan itu bagaikan putaran. Dari bayi menjadi remaja, dewasa, tua dan kembali ke asalnya. Kehidupan semuanya berputar. Hari ini di atas. Besok boleh jadi di bawah. Hari ini nyaman. Mungkin besok sumpek. Hari ini kuat. Besok boleh jadi lemah.

Demikianlah kehidupan berthawaf. Namun satu hal yang harus diingat, bagaimanapun perputaran itu Ka'bah harus selalu menjadi sentranya. Apapun dan bagaimanapun perputaran hidup, pastikan al-haqq selalu menjadi rujukannya.

Jemaah Haji kemudian melanjutkan ritualnya dengan Sa'i dari bukit Shofa menuju Marwa. Lalu kembali ke Bukit Shofa hingga tujuh kali. Amalan ritual ini menyimbolkan urgensi mencari fadhlul (rezeki) Allah. Sa'i merupakan penggambaran jika mencari sumber rezeki itu menuntut Sa'i (usaha). Intinya jangan berleha-leha dalam upaya meraih karuniaNya. Hidup itu pastinya tertantang dan tantangan itu harus ditantang dengan Sa'i yang maksimal.

Di antara amalan ritual yang dilakukan oleh jemaah haji, dan juga umat Islam secara umum, adalah berkorban. Amalan ini menegaskan bahwa keberhasilan hidup itu bukan taken for granted (tidak ada jaminan). Yang pasti keberhasilan hidup menuntut pengorbanan-pengorbanan. Udhiyah atau korban merupakan komitmen untuk melakukan pengorbanan demi mencapai cita-cita tinggi dan mulia dalam kehidupan.

Menutup segala amalan rukun haji, jamaah melakukan tahallul. Tahallul tersimbolkan dengan mencukur. Sebuah sombolisasi bahwa akhir dari kewajiban-kewajiban hidup harus dengan mencukur keegoan. Memangkas rasa ego yang merasa hebat dengan segala capaian itu. Rasulullah SAW bahkan diperintahkan: "Fasabbih bihamdi Rabbik wastaghfiruh, Innahu kaana tawwaba". Keberhasilan manasikmu, capaian hidupmu, keberhasilan juangmu jangan meninggikan egomu. Pangkat keakuanmu. Tinggikan pujian Allah!

Akhir dari segala rangkaian perjalanan haji adalah thawaf wada'. Urgensi membangun kesadaran bahwa semua rangkaian perjalanan haji/hidup harus berakhir. Namun harapan para musafir kiranya akhir perjalanan itu dengan thawaf. Di mana Ka'bah sebagai simbol al-haqq menjadi pusat perputarannya. Hakikat dari amalan ini merupakan eksprsei dari pesan Ilahi: "wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun (jangan kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslim). Meninggal dengan "Laa ilaaha illallah" itu adalah cita-cita semua insan Mukmin.

Pada akhirnya jemaah kembali ke tempat asal dengan harapan dan impian membawa haji mabrur. Haji mabrur bukan oleh-oleh dari Mekkah (tanah suci). Justru Haji mabrur adalah tekad dan komitmen yang membara dada untuk mewujudkannya di tempat kediaman masing-masing. Haji mabrur adalah haji yang menghadirkan transformasi kehidupan ke arah yang lebih baik. Semoga!

Baca Juga: Aktivitas Paling Berat Bagi Jemaah Haji Adalah di Mina
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!