Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW pada Haji Wada' Sangat Menyentuh Hati

Rabu, 12 Juli 2023 - 11:23 WIB
Khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW membuat ratusan ribu umat muslim menangis di lembah Uranah Padang Arafah Tahun ke-10 Hijriyah. Foto/ist
Khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW pada Haji Wada' (haji perpisahan) dapat kita jadikan pembelajaran. Isi khutbah beliau sangat menyentuh hati dan penuh dengan hikmah.

Ketika melaksanakan Haji Wada', Rasulullah ﷺ bertolak ke Padang Arafah dari Mina setelah matahari terbit di Hari ke-9 Dzulhijjah (Hari Arafah). Kala itu musim Haji Tahun 10 Hijriyah atau sekira Tahun 632 Masehi.

Sebuah kemah didirikan di kaki bukit Jabal Rahmah. Rasulullah SAW berada di dalam kemah itu hingga matahari tergelincir di waktu Zuhur. Lalu Beliau naik unta kesayangannya bernama Al-Qaswa dan berdoa mengangkat tangannya.

Setelah itu Beliau menuju Wadi Uranah, sebuah lembah yang dipenuhi 140 ribu kaum muslim yang berkumpul sembari menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Di tempat itu, beliau menyampaikan khutbah terakhirnya sebelum wafat pada 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriyah dalam usia 63 tahun.

Isi Khutbah Terakhir Rasulullah ﷺ

Isi khutbah terakhir Rasulullah ﷺ mengandung pesan luar biasa sekaligus menyempurnakan risalah dan tugas kenabian. Dalam Kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam diceritakan saat melaksanakan prosesi ibadah hajinya, Rasulullah mengajarkan manasik haji kepada kaum Muslimin, menjelaskan sunnah-sunnah Haji dan berkhutbah di hadapan mereka.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

"Wahai manusia, simaklah dengan seksama perkataanku, karena aku tidak tahu apakah masih bisa berjumpa kalian tahun depan di tempat ini."

"Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah haram bagi kalian hingga kalian berjumpa dengan Allah sebagaimana haramnya hari dan bulan kalian ini. Sesungguhnya kalian semua akan menemui Tuhan kalian lalu Dia akan bertanya tentang amal perbuatan kalian. Sungguh hal ini telah aku sampaikan. Barangsiapa yang masih memiliki amanah, hendaklah ia menunaikannya kepada yang berhak menerimanya."

"Sesungguhnya semua riba dihapus terkecuali modal harta kalian. Dengan cara ini kalian tidak berbuat zalim dan jangan pula mau dizalimi. Karena Allah telah menentukan tidak boleh lagi ada riba. Sesungguhnya riba Al-Abbas bin Abdul Muthalib semuanya terhapus. Sesungguhnya bunuh-membunuh karena balas dendam pada masa jahiliyah itu terhapus dan darah yangpertama kali aku hapus ialah darah Ibnu Rabi'ah bin Al-Harits bin Abdul Muthalib. Dulu ia mencari wanita yang menyusui di Bani Laits lalu ia dihabisi oleh orang-orang Hudzail. Ia lah yang pertama kali kuhapuskan darahnya pada masa jahiliyah."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!