Kisah Parlemen dan Media AS yang Dikendalikan Kelompok Lobi Yahudi AIPAC
Rabu, 25 Oktober 2023 - 12:15 WIB
Menurut wartawan penyelidik Robert L. Friedman, pasukan kebenaran itu berubah menjadi "semacam polisi pikiran Yahudi. Para penyelidik terkadang mahasiswa-mahasiswa Yahudi yang penuh semangat, terkadang sumber-sumber dengan akses ke agen-agen intelijen AS-dimanfaatkan untuk mengejar para pengecam Israel, baik Yahudi maupun non-Yahudi, di manapun mereka berada...
Pidato-pidato dan tulisan-tulisan mereka dimonitor, demikian pula, dalam beberapa kasus, aktivitas-aktivitas profesional mereka lainnya. Dan mereka sering kali dituduh anti-Semit atau dicap sebagai Yahudi pembenci diri. Tujuannya adalah untuk menghalangi perdebatan mengenai Timur Tengah di kalangan komunitas Yahudi, media, dan akademisi, dikarenakan kekhawatiran bahwa kritik apa pun akan dapat melemahkan negara Yahudi."
Paul Findley mengatakan itu hanyalah suatu langkah kecil dari pasukan kebenaran untuk membuat daftar hitam.
Baca juga: Elon Musk Ancam Gugat Kelompok Lobi Yahudi, Ini Alasannya
Pada 1983, AIPAC menerbitkan The Campaign to Discredit Israel. Direktur Eksekutif AIPAC Thomas Dine menulis dalam kata pengantar bahwa pamflet itu diterbitkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan "analisis yang lebih lengkap dan tepat" mengenai aktivitas anti-Israel. "Meskipun begitu yang dikatakannya, pamflet itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah daftar hitam kuno," ujar Paul Findley.
The Campaign to Discredit Israel memuat daftar orang-orang Amerika seperti George Ball, mantan wakil menteri luar negeri yang kritis terhadap Israel, dan Alfred Lilienthal, seorang Yahudi anti-Zionis yang pada 1954 telah menulis sebuah buku yang berisi peringatan tentang hubungan AS-Israel: What Price Israel?
Secara keseluruhan, pamflet itu berisi daftar 21 organisasi dan 39 individu "yang aktif dalam usaha untuk melemahkan ikatan antara Amerika Serikat dan Israel, yang berusaha untuk meningkatkan hubungan AS-Arab dengan mengorbankan Israel, atau yang memberikan pelayanan dengan imbalan kepada pemerintah negara-negara Arab yang tengah berjuang untuk mencapai cita-cita itu."
Liga Anti-Fitnah dari B'nai B'rith juga menerbitkan daftar hitamnya sendiri yang dinamakan Arab Propaganda in America: Vehicles and Voices.
Baca juga: Grup Lobi Yahudi Amerika Buka Kantor di Uni Emirat Arab
Ilmuwan Cheryl Rurenberg menuduh bahwa kedua pamflet itu menggunakan "teknik-teknik yang mengingatkan kita pada era McCarthy... mencap penentang mereka dengan label 'pro PLO.'"
Dengan adanya reaksi terhadap daftar hitam yang begitu negatif, AIPAC mengurungkan rencana untuk menerbitkan versi tahunan yang telah diperbaiki. Sebagai gantinya, AIPAC memindahkan usaha-usahanya di bawah tanah. Ia terus memonitor individu-individu dan kelompok-kelompok "anti-Israel," namun menyebarkan hasil-hasilnya secara rahasia.
Menurut Gregory D. Slabodkin, seorang ilmuwan muda yang pernah menjadi peneliti AIPAC: "Kini, pengungkapan-pengungkapan mengenai penulisan daftar hitam AIPAC dan taktik fitnahannya telah sampai pada aktivitas-aktivitas rahasia lobi pro Israel...
AIPAC mengoperasikan suatu seksi rahasia di departemen risetnya yang memonitor dan menyimpan berkas-berkas tentang para politisi, wartawan, akademisi, aktivis Arab-Amerika, tokoh-tokoh liberal Yahudi, dan lain-lain yang dicapnya 'anti-Yahudi.' AIPAC menyeleksi informasi dari berkas-berkas ini dan secara diam-diam menyebarkan daftar mereka 'yang bersalah,' bersama kelakuan buruk politik mereka, ditunjang dengan pernyataan-pernyataan mereka, yang sering kali ada di luar konteks."
Misalnya, Departeman Riset Rahasia memberikan kepada Steve Emerson, seorang wartawan penyelidik pro Israel untuk Cable News Network, informasi mengenai kolumnis Nation Alexander Cockburn, yang sering mengecam Israel, dan juga memberikan pada The Wall Street Journal informasi yang menghina tentang bankir Georgia, Bert Lance, dan kepentingan-kepentingan perbankan Arab.
Pidato-pidato dan tulisan-tulisan mereka dimonitor, demikian pula, dalam beberapa kasus, aktivitas-aktivitas profesional mereka lainnya. Dan mereka sering kali dituduh anti-Semit atau dicap sebagai Yahudi pembenci diri. Tujuannya adalah untuk menghalangi perdebatan mengenai Timur Tengah di kalangan komunitas Yahudi, media, dan akademisi, dikarenakan kekhawatiran bahwa kritik apa pun akan dapat melemahkan negara Yahudi."
Paul Findley mengatakan itu hanyalah suatu langkah kecil dari pasukan kebenaran untuk membuat daftar hitam.
Baca juga: Elon Musk Ancam Gugat Kelompok Lobi Yahudi, Ini Alasannya
Pada 1983, AIPAC menerbitkan The Campaign to Discredit Israel. Direktur Eksekutif AIPAC Thomas Dine menulis dalam kata pengantar bahwa pamflet itu diterbitkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan "analisis yang lebih lengkap dan tepat" mengenai aktivitas anti-Israel. "Meskipun begitu yang dikatakannya, pamflet itu sebenarnya tidak lebih dari sebuah daftar hitam kuno," ujar Paul Findley.
The Campaign to Discredit Israel memuat daftar orang-orang Amerika seperti George Ball, mantan wakil menteri luar negeri yang kritis terhadap Israel, dan Alfred Lilienthal, seorang Yahudi anti-Zionis yang pada 1954 telah menulis sebuah buku yang berisi peringatan tentang hubungan AS-Israel: What Price Israel?
Secara keseluruhan, pamflet itu berisi daftar 21 organisasi dan 39 individu "yang aktif dalam usaha untuk melemahkan ikatan antara Amerika Serikat dan Israel, yang berusaha untuk meningkatkan hubungan AS-Arab dengan mengorbankan Israel, atau yang memberikan pelayanan dengan imbalan kepada pemerintah negara-negara Arab yang tengah berjuang untuk mencapai cita-cita itu."
Liga Anti-Fitnah dari B'nai B'rith juga menerbitkan daftar hitamnya sendiri yang dinamakan Arab Propaganda in America: Vehicles and Voices.
Baca juga: Grup Lobi Yahudi Amerika Buka Kantor di Uni Emirat Arab
Ilmuwan Cheryl Rurenberg menuduh bahwa kedua pamflet itu menggunakan "teknik-teknik yang mengingatkan kita pada era McCarthy... mencap penentang mereka dengan label 'pro PLO.'"
Dengan adanya reaksi terhadap daftar hitam yang begitu negatif, AIPAC mengurungkan rencana untuk menerbitkan versi tahunan yang telah diperbaiki. Sebagai gantinya, AIPAC memindahkan usaha-usahanya di bawah tanah. Ia terus memonitor individu-individu dan kelompok-kelompok "anti-Israel," namun menyebarkan hasil-hasilnya secara rahasia.
Menurut Gregory D. Slabodkin, seorang ilmuwan muda yang pernah menjadi peneliti AIPAC: "Kini, pengungkapan-pengungkapan mengenai penulisan daftar hitam AIPAC dan taktik fitnahannya telah sampai pada aktivitas-aktivitas rahasia lobi pro Israel...
AIPAC mengoperasikan suatu seksi rahasia di departemen risetnya yang memonitor dan menyimpan berkas-berkas tentang para politisi, wartawan, akademisi, aktivis Arab-Amerika, tokoh-tokoh liberal Yahudi, dan lain-lain yang dicapnya 'anti-Yahudi.' AIPAC menyeleksi informasi dari berkas-berkas ini dan secara diam-diam menyebarkan daftar mereka 'yang bersalah,' bersama kelakuan buruk politik mereka, ditunjang dengan pernyataan-pernyataan mereka, yang sering kali ada di luar konteks."
Misalnya, Departeman Riset Rahasia memberikan kepada Steve Emerson, seorang wartawan penyelidik pro Israel untuk Cable News Network, informasi mengenai kolumnis Nation Alexander Cockburn, yang sering mengecam Israel, dan juga memberikan pada The Wall Street Journal informasi yang menghina tentang bankir Georgia, Bert Lance, dan kepentingan-kepentingan perbankan Arab.
Lihat Juga :