Imam Ahmad bin Hanbal: Bacalah Surat Al-Fatihah Saat Ziarah ke Kuburan
Kamis, 16 November 2023 - 23:08 WIB
Mengirim Surat Al-Fatihah untuk mayit hukumnya boleh dan dianjurkan oleh mayoritas ulama Salaf. Foto ilustrasi/dok wongsantun
Ulama ahli Hadis, Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 164-241 H) menganjurkan apabila ziarah ke kuburan hendaklah membaca Surat Al-Fatihah dan tiga surat (Al-Muawwidzatain dan Al-Ikhlas).
Keterangan ulama pendiri Mazhab Hambali itu dikemukakan oleh salah seorang murid beliau bernama Abu Bakar Al-Marrudzi al-Hanbali (wafat 275 H). Beliau pernah mendengar sendiri Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
قال المروذي: سمعت أحمد يقول: إذا دخلتم المقابر فاقرءوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين، وقل هو الله أحد، واجعلوا ثواب ذلك إلى أهل المقابر؛ فإنه يصل إليهم، وكانت هكذا عادة الأنصار في التردد إلى موتاهم؛ يقرءون القرآن.
"Saya (al-Marrudzi) pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat Al-Fatihah, Al-Muawwidzatain dan Al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca Al-Qur'an." (Mushtafa bin Saad al-Hanbali wafat 1243 H, Mathalib Ulin Nuha, hal 935)
Ustaz Hanif Luthfi dalam satu kajiannya menerangkan, hampir semua ulama Mazhab Hanbali yang muktamad menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan Al-Qur'an kepada mayyit, termasuk Surat Al-Fatihah.
Ada dua hal penting yang patut diketahui kaum muslim. Pertama, Membaca Surat Al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Kedua, Membaca Al-Qur'an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal.
Hal itu bisa kita temukan dalam Kitab Mathalib Ulin Nuha, karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (wafat 1243 H). Beliau seorang ulama Madzhab Hanbali kontemporer, seorang mufti Mazhab Hanbali di Damaskus sejak 1212 H sampai wafat. Kitab Mathalib Ulin Nuha itu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar'i bin Yusuf al-Karmi (wafat 1033 H). (Khairuddin az-Zirikly al-A'lam, hal 7/ 234)
Kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar'i bin Yusuf ini juga banyak mengambil dari dua kitab ulama Hanbali sebelumnya. Artinya, Kitab Mathalib Ulin Nuha di atas, secara sanad keilmuan fiqih Hanbali, bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanadnya.
Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) mengatakan, tang benar adalah semua pahalanya sampai, bahkan termasuk shalat. Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali memang di satu sisi menjadi panutan utama beberapa kalangan yang membid'ahkan pengiriman pahala bacaan Al-Qur'an.
Keterangan ulama pendiri Mazhab Hambali itu dikemukakan oleh salah seorang murid beliau bernama Abu Bakar Al-Marrudzi al-Hanbali (wafat 275 H). Beliau pernah mendengar sendiri Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
قال المروذي: سمعت أحمد يقول: إذا دخلتم المقابر فاقرءوا بفاتحة الكتاب والمعوذتين، وقل هو الله أحد، واجعلوا ثواب ذلك إلى أهل المقابر؛ فإنه يصل إليهم، وكانت هكذا عادة الأنصار في التردد إلى موتاهم؛ يقرءون القرآن.
"Saya (al-Marrudzi) pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah Surat Al-Fatihah, Al-Muawwidzatain dan Al-Ikhlas. Lantas jadikanlah pahala bacaan itu untuk ahli kubur, maka hal itu akan sampai ke mereka. Dan inilah kebiasaan kaum Anshar ketika datang ke orang-orang yang telah wafat, mereka membaca Al-Qur'an." (Mushtafa bin Saad al-Hanbali wafat 1243 H, Mathalib Ulin Nuha, hal 935)
Ustaz Hanif Luthfi dalam satu kajiannya menerangkan, hampir semua ulama Mazhab Hanbali yang muktamad menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan Al-Qur'an kepada mayyit, termasuk Surat Al-Fatihah.
Ada dua hal penting yang patut diketahui kaum muslim. Pertama, Membaca Surat Al-Fatihah kepada mayyit itu dianjurkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Kedua, Membaca Al-Qur'an di kuburan itu bukan hal yang dilarang, bahkan ini perbuatan para kaum Anshar. Paling tidak, ini menurut Imam Ahmad bin Hanbal.
Hal itu bisa kita temukan dalam Kitab Mathalib Ulin Nuha, karangan Mushtafa bin Saad al-Hanbali (wafat 1243 H). Beliau seorang ulama Madzhab Hanbali kontemporer, seorang mufti Mazhab Hanbali di Damaskus sejak 1212 H sampai wafat. Kitab Mathalib Ulin Nuha itu sendiri adalah syarah atau penjelas dari kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar'i bin Yusuf al-Karmi (wafat 1033 H). (Khairuddin az-Zirikly al-A'lam, hal 7/ 234)
Kitab Ghayat al-Muntaha karya Syeikh Mar'i bin Yusuf ini juga banyak mengambil dari dua kitab ulama Hanbali sebelumnya. Artinya, Kitab Mathalib Ulin Nuha di atas, secara sanad keilmuan fiqih Hanbali, bisa dipertanggungjawabkan silsilah sanadnya.
Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) mengatakan, tang benar adalah semua pahalanya sampai, bahkan termasuk shalat. Ibnu Taimiyyah Al-Hanbali memang di satu sisi menjadi panutan utama beberapa kalangan yang membid'ahkan pengiriman pahala bacaan Al-Qur'an.
Lihat Juga :