Ragam Tradisi di Daerah dalam Menyambut Bulan Ramadan

Senin, 04 Maret 2024 - 09:54 WIB
Tradisi Dugderan, tradisi menyambut bulan Ramadan yang dilakukan masyarakat Semarang dan sekitarnya., dengan menabuh bedug bertalu-talu. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahun, biasanya digelar 1-2 minggu sebelum puasa. Foto okezone
Masyarakat Indonesia menyambut bulan suci Ramadan dengan beragam tradisi. Shabri Shaleh Anwar dalam buku berjudul "Ramadhan Pembangkit Esensi Insan" menyebutkan beberapa tradisi tersebut.

Setidaknya ada10 tradisi di berbagai daerah. Tradisi menyambut Ramadan ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

1. Tradisi Dugderan

Di Kota Semarang misalnya ada tradisi “Dugderan”. Kata “Dug” diambil dari suara bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagai tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan “Der” berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan bersamaan dengan tabuhan bedug. Tradisi ini sudah berusia ratusan tahun. Biasanya digelar 1-2 minggu sebelum puasa.

2. Tradisi Mandi di Mata Air

Lain lagi di daerah Klaten, Boyolali, Salatiga dan Yogyakarta. Ada tradisi melakukan upacara berendam atau mandi di sumur atau sumber mata air di tempat keramat yang disebut “Padusa”.

Maknanya, supaya jiwa dan raga seseorang yang akan melakukan puasa bersih secara lahir batin.

3. Tradisi Pesta Jalur Pacu

sedangkan warga Kabupaten Kuantan Singingi, Riau memiliki tradisi tahunan yakni pesta jalur pacu (Pacu Jalur). Acara lomba dayung yang digelar sebelum Ramadhan dan ditutup dengan Balimau Kasai (bersuci).

4. Tradisi Sembelih Kerbau

di Aceh ada tradisi Meugang. Mereka menyembelih kerbau dan dagingnya dimakan menjelang puasa. Kerbau dibeli secara patungan. Biasanya orang yang lebih mampu turut memberi sumbangan agar fakir miskin pun bisa menikmati kebersamaan ini.

5. Tradisi Makan Kue Apem

Di Surabaya ada tradisi memakan kue apem. Nama “apem” dipercaya berasal dari kata “afwan” dalam bahasa Arab yang artinya maaf. Secara simbolis makan kue ini bisa diartikan mohon maaf kepada keluarga, sanak saudara, handaitolan, tetangg, kerabat dan teman. Setelah makan apem, biasanya bersalam-salaman saling minta maaf dan melanjutkan acara tahlilan.

6. Tradisi Perlon Unggahan

Di Banyumas ada tradisi yang disebut ‘Perlon Unggahan’. Berbagai makanan tersedia, tapi yang tidak boleh absen adalah nasi bungkus, serundeng sapi, dan sayur becek. Serundenga sapi dan sayur becek harus disiapkan laku-laki dan jumlah mereka harus 12 orang, karena banyaknya kambing dan sapi yang disembelih.

7. Tradisi Yadran

Tradisi nyadran ini biasa dilakukan masyarakat Solo. Makna Tradisi Nyadran Sebelum Puasa, merupakan tradisi masyarakat Solo ( juga dilakukan di daerah lain seperti: Boyolali) untuk menyambut Ramadan. Menurut Bakdi Soemanto dalam buku Belajar Bela Rasa (2011: 163). Makna nyadran adalah keluarga besar mengunjungi 3 makam-makam tempat para leluhur dikebumikan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!