Pertempuran Nahawand: Kisah Ali bin Abi Thalib Mencegah Umar bin Khattab Memimpin Perang
Senin, 22 April 2024 - 05:54 WIB
Umar menjawab: Saya akan mengangkat orang yang akan memimpin mereka menjadi pelopor kalau bertemu besok, yaitu Numan bin Muqarrin. Ilustrasi: art station
Pertempuran Nahawand terjadi pada tahun 642 antara pasukan Arab Muslim melawan pasukan Kekaisaran Sasania. Pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Muslim, dan akibatnya pihak Persia kehilangan kota-kota di sekitar wilayah tersebut, termasuk kota penting Sephahan, yang kini bernama Isfahan di Iran .
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Sedangkan di pihak Arab, Nu'man bin Muqarrin memimpin 30.000 orang pasukan, yang berasal pangkalan Arab Muslim dari Irak, Khuzistan, dan Sawad.
Baca juga: Kisah Kecerdasan Ahnaf bin Qais dalam Pembebasan Persia
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan pada saat yang sama di Madinah , Khalifah Umar bin Khattab bermaksud mengadakan musyawarah, ketika muazin sudah berseru mengumandangkan azan .
Sesudah mereka berkumpul di Masjid, Umar naik ke mimbar dan ia menerangkan kepada hadirin apa yang telah disampaikan oleh wakilÂ-wakilnya mengenai persiapan pihak Persia, berkumpulnya mereka serta besarnya jumlah musuh itu.
Kemudian katanya: "Hari ini akan membawa akibat untuk hari esok. Saya bermaksud mengambil suatu keputusan. Dengarkanlah dan berikanlah pendapat kalian secara singkat. Janganlah kamu berselisih supaya kamu tidak kecewa dan kehilangan kekuatan.
Bijaksanakah jika saya berangkat bersama mereka yang saya nilai mampu sampai ke suatu tempat antara kedua kota itu, dan saya akan mengerahkan mereka, di samping itu saya akan menjadi penyangga bagi mereka, sampai Allah memberikan kemenangan dan akan saya atur menurut kehendak saya?"
Hadirin kemudian memberikan pendapat. Ada yang menyarankan agar Amirulmukminin sendiri yang memimpin angkatan bersenjata ke Irak, memanggil pasukan yang di Syam dan di Yaman untuk menghadapi Persia dan menyerang negeri mereka. Yang lain berpendapat lebih baik ia tetap tinggal di Madinah, dan mengirimkan pasukan yang dinilai mampu untuk menyerang Persia.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Kala itu, Pasukan Sassania berjumlah 150.000 orang di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdigird III menjadi pemimpin tertinggi. Mereka berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posisi bertahan di luar kota Nahawand.
Sedangkan di pihak Arab, Nu'man bin Muqarrin memimpin 30.000 orang pasukan, yang berasal pangkalan Arab Muslim dari Irak, Khuzistan, dan Sawad.
Baca juga: Kisah Kecerdasan Ahnaf bin Qais dalam Pembebasan Persia
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi " Umar bin Khattab " (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan pada saat yang sama di Madinah , Khalifah Umar bin Khattab bermaksud mengadakan musyawarah, ketika muazin sudah berseru mengumandangkan azan .
Sesudah mereka berkumpul di Masjid, Umar naik ke mimbar dan ia menerangkan kepada hadirin apa yang telah disampaikan oleh wakilÂ-wakilnya mengenai persiapan pihak Persia, berkumpulnya mereka serta besarnya jumlah musuh itu.
Kemudian katanya: "Hari ini akan membawa akibat untuk hari esok. Saya bermaksud mengambil suatu keputusan. Dengarkanlah dan berikanlah pendapat kalian secara singkat. Janganlah kamu berselisih supaya kamu tidak kecewa dan kehilangan kekuatan.
Bijaksanakah jika saya berangkat bersama mereka yang saya nilai mampu sampai ke suatu tempat antara kedua kota itu, dan saya akan mengerahkan mereka, di samping itu saya akan menjadi penyangga bagi mereka, sampai Allah memberikan kemenangan dan akan saya atur menurut kehendak saya?"
Hadirin kemudian memberikan pendapat. Ada yang menyarankan agar Amirulmukminin sendiri yang memimpin angkatan bersenjata ke Irak, memanggil pasukan yang di Syam dan di Yaman untuk menghadapi Persia dan menyerang negeri mereka. Yang lain berpendapat lebih baik ia tetap tinggal di Madinah, dan mengirimkan pasukan yang dinilai mampu untuk menyerang Persia.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Lihat Juga :