Siapa Anak Nabi Ibrahim yang Dikurbankan? Nabi Ismail atau Habi Ishaq?
Jum'at, 10 Mei 2024 - 11:30 WIB
Umat Islam mempercayai bahwa Nabi Ismail adalah anak yang dikurbankan, namun terdapat kepercayaan yang menyebut jika Nabi Ishaq adalah anak yang dikurbankan. Foto ilustrasi/ist
Siapa anak Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikurbankan ? Pertanyaan ini berkutat di dua nama anak Nabi Ibrahim yakni Ismail dan Ishaq. Pada dasarnya umat Islam mempercayai bahwa Nabi Ismail adalah anak yang dikurbankan, namun terdapat kepercayaan yang menyebut jika Nabi Ishaq adalah anak yang dikurbankan.
Perihal ibadah kurban ini sendiri didasarkan pada QS. Ash-Shaffat ayat 103-107. Sebagaimana Allah SWT Berfirman :
"“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat, 103-107)
Dalam surat tersebut menggunakan kata يَابُنَيَّ (hai anakku) yang terkesan masih samar dan belum menjelaskan siapa sebenarnya anak yang dikurbankan. Karena itulah hal ini memerlukan penjelasan dari hadits.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang dikurbankan itu adalah Nabi Ismail. Kata Nabi Muhammad Saw:
Maksud sabda tersebut adalah Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Nabi Ismail dan Abdullah (ayahnya), yang kedua-duanya pernah hendak disembelih oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim dan Abdul Muthalib.
Jika ditinjau kembali dari apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam manakibnya adalah kuat, yaitu:
"Aku adalah anak laki-laki dari dua orang yang mau disembelih, maksudnya dari keturunan Nabi Ismail dan ayahnya sendiri Abdullah, dimana Abdul Muthalib ayahnya Abdullah pernah bernazar untuk menyembelih anak (laki-lakinya) bila dia dikaruniai sepuluh anak laki-laki, atau Allah memudahkannya penggalian sumur zam-zam."
Perihal ibadah kurban ini sendiri didasarkan pada QS. Ash-Shaffat ayat 103-107. Sebagaimana Allah SWT Berfirman :
"“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat, 103-107)
Dalam surat tersebut menggunakan kata يَابُنَيَّ (hai anakku) yang terkesan masih samar dan belum menjelaskan siapa sebenarnya anak yang dikurbankan. Karena itulah hal ini memerlukan penjelasan dari hadits.
Nabi Ismail adalah Anak Ibrahim yang Disembelih Menurut Kepercayaan Islam
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi, seperti Imam al-Hakim, Imam Ibnu Murdawaih yang bersumber kepada sahabat Muawiyah Ra, dan diperkuat dengan riwayat para ahli sejarah dan ahli tafsir.Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang dikurbankan itu adalah Nabi Ismail. Kata Nabi Muhammad Saw:
أَنَا ابْنُ الذَّبِيْحَيْنِ
(aku anak dari dua orang yang disembelih). Maksud sabda tersebut adalah Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Nabi Ismail dan Abdullah (ayahnya), yang kedua-duanya pernah hendak disembelih oleh ayahnya yaitu Nabi Ibrahim dan Abdul Muthalib.
Jika ditinjau kembali dari apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam manakibnya adalah kuat, yaitu:
"Aku adalah anak laki-laki dari dua orang yang mau disembelih, maksudnya dari keturunan Nabi Ismail dan ayahnya sendiri Abdullah, dimana Abdul Muthalib ayahnya Abdullah pernah bernazar untuk menyembelih anak (laki-lakinya) bila dia dikaruniai sepuluh anak laki-laki, atau Allah memudahkannya penggalian sumur zam-zam."
Lihat Juga :