Selama Anjing Nafsu Lari di Mukamu, Setan Takkan Meninggalkanmu
Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:51 WIB
Iblis. ilustrasi/ist
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud , "Kapan aku ingin menempuh Jalan itu setan menimbulkan rasa kesia-siaanku dan menghalangi aku mencari penunjuk jalan. Hatiku risau, karena aku tak berdaya melawannya. Bagaimana dapat aku menyelamatkan diriku dari Iblis dan menjadi bergairah karena anggur jiwa?"
Baca juga: "Kita Ada di Bawah Kekuasaan Nafsu Jasmani yang Durhaka"
Hudhud menjawab, "Selama anjing nafsu itu lari di mukamu, setan tak akan meninggalkanmu, tetapi akan menggunakan pikatan anjing itu untuk menyesatkanmu. Maka setiap keinginan nafsumu yang sia-sia pun menjadi setan, dan setiap setan yang ditimbulkannya akan menimbulkan seratus setan yang lain. Dunia ini bilik yang panas berkeringat atau penjara, kerajaan sang setan; jangan mengikatkan diri dengan kerajaan ini atau dengan penguasanya.
Baca juga: Mestinya Cinta itu Sepenuhnya atau Tidak Sama Sekali
Keluhan Seorang Mubtadi atas Godaan Setan
Seorang muda yang bersikap masa bodoh pergi mendapatkan seorang syaikh yang sedang berpuasa hendak menyampaikan keluhan atas empat puluh godaan setan.
Katanya, "Setan menjauhkan aku dari Jalan itu dan telah membuat agamaku menjadi tak berarti." (Baca juga: Ucapan Burung Ketiga, Penjahat, Malaikat Jibril, dan Niat Baik )
Syaikh itu berkata, "Ananda sayang, sebelum kau datang padaku kulihat setan itu berkeliaran di seputarmu. Sebaliknya dari apa yang kau katakan itu, ia merasa risau dan bingung karena kau telah menyengsarakannya dan katanya padaku, 'Seluruh dunia ini kerajaanku, tetapi aku tak berdaya terhadap orang muda itu yang menjadi lawan dunia.' Katakan pada setan itu supaya berlalu, maka ia pun tak akan menggodamu lagi."
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud , "Kapan aku ingin menempuh Jalan itu setan menimbulkan rasa kesia-siaanku dan menghalangi aku mencari penunjuk jalan. Hatiku risau, karena aku tak berdaya melawannya. Bagaimana dapat aku menyelamatkan diriku dari Iblis dan menjadi bergairah karena anggur jiwa?"
Baca juga: "Kita Ada di Bawah Kekuasaan Nafsu Jasmani yang Durhaka"
Hudhud menjawab, "Selama anjing nafsu itu lari di mukamu, setan tak akan meninggalkanmu, tetapi akan menggunakan pikatan anjing itu untuk menyesatkanmu. Maka setiap keinginan nafsumu yang sia-sia pun menjadi setan, dan setiap setan yang ditimbulkannya akan menimbulkan seratus setan yang lain. Dunia ini bilik yang panas berkeringat atau penjara, kerajaan sang setan; jangan mengikatkan diri dengan kerajaan ini atau dengan penguasanya.
Baca juga: Mestinya Cinta itu Sepenuhnya atau Tidak Sama Sekali
Keluhan Seorang Mubtadi atas Godaan Setan
Seorang muda yang bersikap masa bodoh pergi mendapatkan seorang syaikh yang sedang berpuasa hendak menyampaikan keluhan atas empat puluh godaan setan.
Katanya, "Setan menjauhkan aku dari Jalan itu dan telah membuat agamaku menjadi tak berarti." (Baca juga: Ucapan Burung Ketiga, Penjahat, Malaikat Jibril, dan Niat Baik )
Syaikh itu berkata, "Ananda sayang, sebelum kau datang padaku kulihat setan itu berkeliaran di seputarmu. Sebaliknya dari apa yang kau katakan itu, ia merasa risau dan bingung karena kau telah menyengsarakannya dan katanya padaku, 'Seluruh dunia ini kerajaanku, tetapi aku tak berdaya terhadap orang muda itu yang menjadi lawan dunia.' Katakan pada setan itu supaya berlalu, maka ia pun tak akan menggodamu lagi."
Lihat Juga :