Mestinya Cinta itu Sepenuhnya atau Tidak Sama Sekali
Rabu, 26 Agustus 2020 - 06:22 WIB
loading...
Burung hud hud. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud. "Aku berwatak betina, dan hanya dapat melompat-lompat dari dahan ke dahan. Kadang-kadang aku suka main-main dan risau, kadang-kadang pula aku suka bertarak."
Baca juga: Ucapan Burung Ketiga, Penjahat, Malaikat Jibril, dan Niat Baik
"Kadang-kadang nafsuku menyeret diriku ke tempat-tempat minum, kadang-kadang pula jiwaku menarik diriku buat berdoa."
"Ada kalanya, meskipun berlawanan dengan diriku sendiri, setan menyesatkan aku; dan ada kalanya pula malaikat membimbingku kembali. Di antara keduanya ini aku berada di lubang penjara; apa yang mungkin kulakukan selain meratap seperti Yusuf ." (Baca juga: Burung-Burung Berangkat dan Kisah Sultan Mahmud dengan Penangkap Ikan )
Hudhud menjawab, "Ini terjadi pada siapa saja, sesuai dengan fitrahnya. Jika kita tanpa salah sejak semula, Tuhan tentu tak perlu pula mengutus rasul-rasul dan nabi-nabiNya."
"Dengan kepatuhan kau akan mendapatkan kebahagiaan. O kau yang lena berbaring-baring di bilik kemalasan yang panas berkeringat, namun penuh dengan keinginan-keinginan tak berarti, sementara kau terus juga memberi makan anjing nafsumu, fitrahmu lebih buruk daipada fitrah si banci yang tak berdaya." Baca juga: Burung Gereja, Kisah Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf )
Cerita Kecil tentang Syabli
Sekali Syabli menghilang dari Baghdad, tak seorang tahu ke mana. Akhirnya ia diketemukan di sebuah rumah tempat para kasim, sedang duduk dengan mata basah dan bibir kering di antara makhluk-makhluk aneh ini.
Kawan-kawannya berkata, "Ini bukan tempat bagimu yang menuntut ilmu ketuhanan."
Ia menjawab, "Orang-orang ini, menurut agama, bukan laki-laki dan bukan pula perempuan. Aku seperti mereka pula. Aku tenggelam dalam keadaan tak bisa berbuat apa-apa, dan kejantananku merupakan sesalan bagiku." (Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud. "Aku berwatak betina, dan hanya dapat melompat-lompat dari dahan ke dahan. Kadang-kadang aku suka main-main dan risau, kadang-kadang pula aku suka bertarak."
Baca juga: Ucapan Burung Ketiga, Penjahat, Malaikat Jibril, dan Niat Baik
"Kadang-kadang nafsuku menyeret diriku ke tempat-tempat minum, kadang-kadang pula jiwaku menarik diriku buat berdoa."
"Ada kalanya, meskipun berlawanan dengan diriku sendiri, setan menyesatkan aku; dan ada kalanya pula malaikat membimbingku kembali. Di antara keduanya ini aku berada di lubang penjara; apa yang mungkin kulakukan selain meratap seperti Yusuf ." (Baca juga: Burung-Burung Berangkat dan Kisah Sultan Mahmud dengan Penangkap Ikan )
Hudhud menjawab, "Ini terjadi pada siapa saja, sesuai dengan fitrahnya. Jika kita tanpa salah sejak semula, Tuhan tentu tak perlu pula mengutus rasul-rasul dan nabi-nabiNya."
"Dengan kepatuhan kau akan mendapatkan kebahagiaan. O kau yang lena berbaring-baring di bilik kemalasan yang panas berkeringat, namun penuh dengan keinginan-keinginan tak berarti, sementara kau terus juga memberi makan anjing nafsumu, fitrahmu lebih buruk daipada fitrah si banci yang tak berdaya." Baca juga: Burung Gereja, Kisah Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf )
Cerita Kecil tentang Syabli
Sekali Syabli menghilang dari Baghdad, tak seorang tahu ke mana. Akhirnya ia diketemukan di sebuah rumah tempat para kasim, sedang duduk dengan mata basah dan bibir kering di antara makhluk-makhluk aneh ini.
Kawan-kawannya berkata, "Ini bukan tempat bagimu yang menuntut ilmu ketuhanan."
Ia menjawab, "Orang-orang ini, menurut agama, bukan laki-laki dan bukan pula perempuan. Aku seperti mereka pula. Aku tenggelam dalam keadaan tak bisa berbuat apa-apa, dan kejantananku merupakan sesalan bagiku." (Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)
Lihat Juga :