Kisah Perang Yarmuk, Pertempuran Terdahsyat Mengakhiri Kekuasan Romawi

Selasa, 24 September 2024 - 12:42 WIB
Perang Yarmuk merupakan perang yang melibatkan Pasukan Muslim dalam melawan Kekaisaran Romawi Timur di Negeri Syam (Palestina). Foto ilustrasi/ist
Perang Yarmuk merupakan perang yang melibatkan Pasukan Muslim dalam melawan Kekaisaran Romawi Timur di Negeri Syam (Palestina). Dinamakan perang Yarmuk karena berlangsung di lokasi tidak jauh dari lembah Yordania yakni Sungai Yarmouk.

Perang tersebut terjadi pada tahun 636 selama enam hari dari tanggal 15 Agustus hingga 20 Agustus 636 M. Peperangan ini melibatkan 36.000 pasukan muslim melawan 240.000 pasukan kekaisaran Romawi Timur. Perang ini menjadi salah satu moment ekspansi serta penaklukan oleh umat Islam yang dilakukan di luar Arab.

Dikutip dari buku "Panglima Surga, Abu Fatah Grania (2008:166)", Perang Yarmuk terjadi pada masa pemerintahan Umar bi Khattab. Perang ini terjadi empat tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SHallallahu alaihi wa sallam. Pada awalnya pasukan muslim menyerang Suriah dan berhasil merebut Damaskus. Namun kekaisaran Romawi Timur Heraclius mengatur sebuah pasukan sekitar 40.000 orang setelah mengetahui Damaskus sudah berhasil direbut oleh pasukan muslim.

Pasukan Romawi Timur dengan jumlah yang besar ini mendesak pasukan muslim ntuk mundur menuju ke Sungai Yarmuk. Pada saat itu sebagian dari pasukan Romawi Timur di bawah pimpinan Sacellarius berhasil dikalahkan di luar Emesa. Kemudian pasukan muslim bertemu pasukan Romawi di bawah pimpinan Baanes di lembah Sungai Yarmuk. Sampai pada akhirnya pasukan muslim berhasil merebut Suriah, Damaskus, dan Yerusalem.

Latar Belakang Perang Yarmuk

Setelah Rasulullah SAW wafat, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq diangkat menjadi Khalifah. Saat Abu Bakar menjadi khalifah, dihadapkan dengan permasalahan banyaknya orang yang murtad. Orang-orang munafik ini mayoritas takut dibunuh ketika zaman Rasullullah SAW sehingga mereka pura-pura masuk Islam. Saat Rasulullah wafat, mereka banyak yang keluar dari agama Islam. Menyikapi hal ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengirim 11 pasukan untuk memerangi banyaknya orang yang murtad ini. Salah satunya adalah pasukan yang di komandani oleh Khalid Bin Walid. Tidak perlu waktu lama, Khalid berhasil membereskan mereka sehingga tuntaslah masalah orang murtad di Jazirah Arab.

Kemudian Abu Bakar melakukan ekspansi ke utara yaitu Yordania, Palestina, Suriah, yang dikenal dengan negeri Syam dan Iraq (Persia). Abu Bakar mengutus enam komandan perang satu ke Iraq untuk berhadapan dengan kekaisaran persia yaitu Khalid Bin Walid (10.000 pasukan) dan lima komandan ke negeri Syam untuk berhadapan dengan kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) kelima komandan tersebut adalah Yazid Bin Abi Sufyan (6000 pasukan), Syurahbil Bin Hasanah (6.000 pasukan), Ammar Bin Ash (7.000 pasukan), Abu Ubaidah Ibnul Jarrah (5.000 pasukan), Ikrimah Bin Abu Jahal (2.000 pasukan).

Seiring berjalannya waktu, peperangan oleh kelima komandan yang berhadapan dengan pasukan Romawi Timur di beberapa daerah mengalami kesulitan, hal ini diketahui oleh Khalifah Abu Bakar sehingga beliau menulis surat kepada Khalid Bin Walid sebagai komandan di Iraq untuk bergabung secepatnya ke negeri syam untuk membantu saudara muslimnya yang sedang kesulitan.

Menerima surat ini Khalid Bin Walid langsung merespon dan mempersiapkan pasukan untuk bergerak ke negeri syam. Namun jarak yang jauh antara Iraq dan Syam yaitu 30 hari perjalanan, membuat Khalid harus meminta saran kepada penunjuk jalan agar mengetahui jalan tersingkat ke negeri syam. Kemudian penunjuk jalan tersebut memberitahukan kepada Khalid bahwa ada jalan tersingkat ke negeri syam dan hanya membutuhkan 15 hari perjalanan. Namun jalan tersebut melewati gurun yang gersang dan kering sama sekali tidak ada sumber air.

Beliau juga memberitahukan bahwa di perjalanan nanti hanya ada satu pohon kurma sebagai patokan perjalanan. Setelah melalui pertimbangan, akhirnya beliau mengambil saran dari penunjuk jalan untuk melalui jalan yang gersang dan kering tersebut agar sampai lebih cepat. Walaupun sudah terbayang oleh Khalid beratnya perjalanan yang akan dihadapi diri dan pasukannya beliau tetap meneguhkan hati dan mengatakan hadits Rasulullah SAW :

” Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu masih menolong saudaranya”

Kemudian Khalid Bin Walid menyusun strategi untuk menghadapi perjalanan 15 hari yang berat. Beliau menginstruksikan untuk membuat lapar unta-unta yang akan dibawa dan kemudian memberi makanan yang kering agar unta tersebut haus sehingga punuk-punuknya terisi banyak air. Akhirnya, khalid dan pasukannya tiba di syam sesuai dengan estimasi 15 hari perjalanan.

Setibanya di Syam, khalid menemui kelima komandan pasukan dan berdasarkan surat dari khalifah bahwa setelah semua pasukan bergabung maka Khalid Bin Walid sebagai komandan Utama. Diantara 5 komandan pasukan negeri syam tersebut ada komandan yang paling senior yaitu Abu Ubaidah, namun sebagai junior Khalid Bin Walid menunjukkan adab yang tinggi, beliau katakan ” kalau bukan karena surat dari Khalifah maka saya tidak berani menjadi komandan bagi anda” ujarnya. Abu Ubaidah juga menunjukkan sikap senior yang luar biasa, beliau katakan ” Engkau lebih kompeten, dan lebih ahli dalam peperangan, engkau memang lebih pantas dari pada saya” ujarnya.

Bahkan ketika sesaat sebelum perang yarmuk dimulai, datang kembali surat dari madinah yang dikeluarkan oleh khalifah Umar Bin Khattab yang menunjuk Abu Ubaidah menjadi komandan utama menggantikan Khalid Bin Walid, kemudian khalid di depan para sahabat nabi yang akan berperang mengatakan bahwa khalifah sudah menunjuk Komandan Utama yang baru dan bukan aku lagi melainkan Abu Ubaidah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!