Benarkah Bukhari dan Muslim Menerima Hadis Riwayat sebagian Orang Syiah?
Selasa, 22 Oktober 2024 - 17:00 WIB
Ulama hadis Bukhari dan Muslim telah membuat kriteria dan persyaratan penerimaan riwayat yang ketat. Ilustrasi: mhy
BENARKAH Bukhari dan Muslim menerima hadis riwayat sebagian orang Syiah ? Mahmud az-Zaby dalam bukunya berjudul "Al-Bayyinat, fi ar-Radd' ala Abatil al-Muraja'at" yang diterjemahkan Ahmadi Thaha dan Ilyas Ismail menjadi "Sunni yang Sunni -- Tinjauan Dialog Sunnah-Syi'ahnya al-Musawi" (Pustaka, 1989) menyebut ulama hadis Bukhari dan Muslim telah membuat kriteria dan persyaratan penerimaan riwayat yang ketat.
Persyaratan itu dikenal di kalangan ulama hadis, seperti tersebut dalam kitab-kitab musthalah al-hadits. "Bahkan, kriteria buatan Bukhari dan Muslim diakui canggih oleh semua ulama," tulis Mahmud az-Zaby. Itu sebabnya, hadis riwayat kedua ulama tersebut dipandang sahih. Para ulama pun menyebut kitab karya Bukhari-Muslim dengan Shahihayn (Dua Kitab Hadits Sahih).
Ilmu musthalah al-hadits dan ilmu al jarh wat-ta'dil, dua metoda ilmiah dalam periwayatan hadis yang baku, merupakan jasa dan sumbangan terbesar Bukhari dan Muslim dalam bidang ilmu-ilmu agama.
Baca juga: Kenapa Imam Muslim Tidak Meriwayatkan Hadis dari Imam Bukhari, Ini Alasannya
Metode tersebut menerangkan keadaan perawi hadis, dengan istilah "kuat" (tsiqat) dan "lemah" (dha'if) periwayatannya. "Dengan itu kita dapat mendeteksi para pendusta, yang membuat hadis palsu," kata Mahmud az-Zaby.
Menurutnya, gerakan pemalsuan hadis yang dipelopori oleh kaum Rafidah , sesuai perang antara Ali dan Mu'awiyah, dapat diatasi dengan metode tersebut.
Menurut ibnu Sirin , semula ulama hadis tidak mempersoalkan silsilah-periwayatan hadis (isnad). Akan tetapi, setelah perang antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah , para ulama hadis meminta daftar nama para perawi. Ketika diperlihatkan daftar nama orang Sunni, langsung hadisnya diterima. Akan tetapi, ketika daftar nama yang mencakup orang-orang pembid'ah dikemukakan, hadis mereka ditolak.
Menurutnya, Bukhari dan Muslim, menerima riwayat dari sebagian orang Syi'ah. Kenapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memperhatikan keterangan berikut.
Bukhari dan Muslim tidak pernah meninggalkan kriteria tersebut dalam mempertimbangkan penerimaan setiap hadis yang mereka riwayatkan di dalam kitab sahih.
"Itu sebabnya mereka menerima hadis dari semua perawi yang adil dan kuat ingatannya. Betapa tidak, bukankah semua ulama telah bersepakat menyebut karya mereka dengan ash-Shahihayn?" katanya.
Persyaratan itu dikenal di kalangan ulama hadis, seperti tersebut dalam kitab-kitab musthalah al-hadits. "Bahkan, kriteria buatan Bukhari dan Muslim diakui canggih oleh semua ulama," tulis Mahmud az-Zaby. Itu sebabnya, hadis riwayat kedua ulama tersebut dipandang sahih. Para ulama pun menyebut kitab karya Bukhari-Muslim dengan Shahihayn (Dua Kitab Hadits Sahih).
Ilmu musthalah al-hadits dan ilmu al jarh wat-ta'dil, dua metoda ilmiah dalam periwayatan hadis yang baku, merupakan jasa dan sumbangan terbesar Bukhari dan Muslim dalam bidang ilmu-ilmu agama.
Baca juga: Kenapa Imam Muslim Tidak Meriwayatkan Hadis dari Imam Bukhari, Ini Alasannya
Metode tersebut menerangkan keadaan perawi hadis, dengan istilah "kuat" (tsiqat) dan "lemah" (dha'if) periwayatannya. "Dengan itu kita dapat mendeteksi para pendusta, yang membuat hadis palsu," kata Mahmud az-Zaby.
Menurutnya, gerakan pemalsuan hadis yang dipelopori oleh kaum Rafidah , sesuai perang antara Ali dan Mu'awiyah, dapat diatasi dengan metode tersebut.
Menurut ibnu Sirin , semula ulama hadis tidak mempersoalkan silsilah-periwayatan hadis (isnad). Akan tetapi, setelah perang antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah , para ulama hadis meminta daftar nama para perawi. Ketika diperlihatkan daftar nama orang Sunni, langsung hadisnya diterima. Akan tetapi, ketika daftar nama yang mencakup orang-orang pembid'ah dikemukakan, hadis mereka ditolak.
Menurutnya, Bukhari dan Muslim, menerima riwayat dari sebagian orang Syi'ah. Kenapa? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memperhatikan keterangan berikut.
Bukhari dan Muslim tidak pernah meninggalkan kriteria tersebut dalam mempertimbangkan penerimaan setiap hadis yang mereka riwayatkan di dalam kitab sahih.
"Itu sebabnya mereka menerima hadis dari semua perawi yang adil dan kuat ingatannya. Betapa tidak, bukankah semua ulama telah bersepakat menyebut karya mereka dengan ash-Shahihayn?" katanya.
Lihat Juga :