Tingkatan Jihad Menurut Ibnu Qayyim

Rabu, 06 November 2024 - 19:09 WIB
Jihad itu memiliki empat tingkatan: Jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap setan, jihad terhadap orang-orang kafir, dan jihad terhadap orang-orang munafik. Ilustrasi: Ist
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar betul-betul berjuang, sebagaimana mereka diperintahkan agar betul-betul bertakwa kepada-Nya. Takwa yang benar ialah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya, ingat kepada-Nya dan tidak melupakan, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengingkari-Nya.

Dan jihad yang benar ialah berjihad terhadap hawa nafsunya, untuk menyerahkan hati, lidah, dan seluruh anggota tubuhnya kepada Allah.

Semua untuk Allah dan demi Allah, bukan untuk dirinya dan demi dirinya sendiri. Orang mukmin yang benar ialah orang yang memerangi setan dan mendustakan janji-janji yang diberikan olehnya, mengingkarinya, dan menentang larangannya.

Sesungguhnya, setan memberikan janji dan harapan yang palsu, menipu manusia, menyuruh kepada perbuatan keji, dan melarangnya untuk bertakwa kepada Allah SWT, melarangnya menjaga kesucian diri, dan melarang untuk beriman kepada-Nya.

Baca juga: Jihad terhadap Hawa Nafsu Harus Didahulukan daripada Jihad terhadap Musuh Islam

Oleh karena itu, perangilah setan, dustakan segala janjinya, dan jangan turuti perintahnya. Sehingga dengan demikian akan tumbuh kekuatan untuk melakukan peperangan terhadap musuh-musuh Allah SWT yang berada di luar dirinya, dengan hati, lidah, tangan, dan harta kekayaannya, untuk menegakkan kalimat Allah yang Maha Tinggi.

Imam Ibnu Qayyim dalam kitab "al-Hady al-Nabawi" berkata, "Jika perkara itu telah dipahami, maka sesungguhnya jihad itu memiliki empat tingkatan: Jihad terhadap hawa nafsu, jihad terhadap setan, jihad terhadap orang-orang kafir, dan jihad terhadap orang-orang munafik."

Sementara jihad terhadap diri sendiri, musuh yang ada di dalam diri manusia itu juga memiliki empat tingkatan:

Pertama, berjihad terhadap diri sendiri untuk mengajarkan petunjuk kepadanya, petunjuk agama yang benar yang tidak ada kemenangan, kebahagian hidup di dunia dan di akhirat kecuali dengannya. Kalau manusia tidak mengetahui petunjuk tersebut, maka dia akan mengalami kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat .

Kedua, berjihad terhadapnya untuk melaksanakan petunjuk tersebut setelah diketahuinya. Jika tidak, maka pengetahuan yang dimilikinya hanya akan berwujud ilmu pengetahuan tanpa amal. Kalaupun ilmu itu tidak membahayakannya, tetapi pasti tidak bermanfaat baginya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!