Belajar Silaturahmi Tanpa Batas dari Asma binti Abu Bakar
Minggu, 30 Agustus 2020 - 17:18 WIB
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Mumtahanah : 8)
Kisah ini menjadi sangat penting sepenting Allah menurunkan wahyu untuk menjelaskan kejadian tersebut. Kenapa ini menjadi sangat penting karena Islam ingin menegaskan betapa pentingnya silaturahmi , menghargai orang tua dan yang berbeda keyakinan yang tidak menimbulkan mafsadat. (Baca juga : Pemerintah Diminta Terus Perjuangkan Kepentingan RI di Laut China Selatan )
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah tidak melarang kita umat muslim untuk berbuat baik bersilaturrahim, membalas kebaikan dan berbuat adil kepada kaum musyrikin baik kerabat maupun selain mereka yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak mengusir kita dari negeri kita. Islam adalah agama yang sangat menghargai perbedaan.
Tidak mengapa bagi kita kaum muslim untuk tetap menyambung tali silaturrahim dengan mereka, karena menyambung tali silaturrahim tidak akan menimbulkan mafsadat. Silaturahmi tidak kenal batas dan identitas agama sekalipun. Justru silaturahmi adalah media untuk menjalin persaudaraan dan perdamaian .
Dalam kisah ini betapa Islam sangat menganjurkan seorang anak untuk tidak menyakiti orang tua. Perbedaan agama antara anak dan orang tua hendaknya tidak menjadi penghalang untuk silaturahmi dan berbakti pada mereka selagi hal itu tidak berlawanan dengan syariat Islam. (Baca juga : Wagub DKI soal Covid: Lebih Aman di Bioskop Ketimbang di Kantor )
Berbakti atau berbuat baik pada orang tua meliputi: membantu mereka apabila diperlukan, menjaga tali silaturahmi, dan menaati perintah yang selain maksiat. Yang tak kalah penting adalah menunjukkan sikap dan akhlak yang sebaik mungkin agar orang tua menjadi terkesan dan tertarik mengikuti langkah anaknya menjadi muslim yang menginspirasi
Kisah ini menjadi sangat penting sepenting Allah menurunkan wahyu untuk menjelaskan kejadian tersebut. Kenapa ini menjadi sangat penting karena Islam ingin menegaskan betapa pentingnya silaturahmi , menghargai orang tua dan yang berbeda keyakinan yang tidak menimbulkan mafsadat. (Baca juga : Pemerintah Diminta Terus Perjuangkan Kepentingan RI di Laut China Selatan )
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah tidak melarang kita umat muslim untuk berbuat baik bersilaturrahim, membalas kebaikan dan berbuat adil kepada kaum musyrikin baik kerabat maupun selain mereka yang tidak memerangi dalam urusan agama dan tidak mengusir kita dari negeri kita. Islam adalah agama yang sangat menghargai perbedaan.
Tidak mengapa bagi kita kaum muslim untuk tetap menyambung tali silaturrahim dengan mereka, karena menyambung tali silaturrahim tidak akan menimbulkan mafsadat. Silaturahmi tidak kenal batas dan identitas agama sekalipun. Justru silaturahmi adalah media untuk menjalin persaudaraan dan perdamaian .
Dalam kisah ini betapa Islam sangat menganjurkan seorang anak untuk tidak menyakiti orang tua. Perbedaan agama antara anak dan orang tua hendaknya tidak menjadi penghalang untuk silaturahmi dan berbakti pada mereka selagi hal itu tidak berlawanan dengan syariat Islam. (Baca juga : Wagub DKI soal Covid: Lebih Aman di Bioskop Ketimbang di Kantor )
Berbakti atau berbuat baik pada orang tua meliputi: membantu mereka apabila diperlukan, menjaga tali silaturahmi, dan menaati perintah yang selain maksiat. Yang tak kalah penting adalah menunjukkan sikap dan akhlak yang sebaik mungkin agar orang tua menjadi terkesan dan tertarik mengikuti langkah anaknya menjadi muslim yang menginspirasi
(wid)
Lihat Juga :