Sebelum Islam Datang, Dukun Dianggap seperti Nabi di Jazirah Arab
Jum'at, 15 November 2024 - 10:09 WIB
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, perdukunan dan sihir telah di lakukan oleh umat manusia. Ilustrasi: Pinterest
Ainul Haris Arifin dalam bukunya berjudul "Kitab Tauhid" (Darul Haq, 1999) mengatakan sihir termasuk unsur syirik , dalam hal ini sihir terdapat beberapa hal yaitu; pertama karena di dalamnya terdapat permintaan pelayanan (istikdham) dari setan-setan serta ketergantungan dan kedekatan dengan mereka melalui sesuatu yang mereka cintai agar setan-setan itu memberikan pelayanan kepada tukang sihir.
Kedua, di dalamnya terdapat pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan pengakuan berserikat dengan Allah hal ini adalah kesesatan.
Pada saat ini banyak yang meremehkan masalah sihir dan para pelakunya, bahkan mungkin ada yang menganggapnya sebagai salah satu jenis ilmu yang mereka banggakan.
Mereka memberikan motivasi bahkan juga hadiah untuk para tukang sihir, ini adalah suatu kebodohan dalam beragama serta menganggap remeh urusan akidah.”
Baca juga: Doa Memohon Dijauhkan dari Santet dan Sihir
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, perdukunan dan sihir telah di lakukan oleh umat manusia. Seperti para tukang sihir yang telah ada di zaman Nabi Sulaiman as dan Nabi Musa as . Perdukunan merupakan ilmu asing yang menyusup ke dalam budaya orang Arab.
Ilmu perdukunan datang dari sebagian bangsa yang bertetangga dengan mereka.
Diyakini bahwa yang membawa ilmu ini adalah bangsa Kildan bersamaan dengan ilmu perbintangan (astrologi).
Keyakinan itu dikuatkan karena adanya istilah lain dari dukun yang dipakai di kalangan orang Arab yaitu Hazi atau Hazza’ sementara kedua kata ini berasal dari bangsa Kildan yang sama artinya dengan an-Naazhir, ar-Ra’i dan al-Baashir yaitu orang yang memiliki pandangan jauh, mata batin, atau terawangan.
Musdar Bustamam Tambusai dalam "Ensiklopedia Jin, Sihir Dan Perdukunan" menyebut dukun (Lafazh Al-Kaahin) sendiri dikutip dari orang Yahudi .
Kedua, di dalamnya terdapat pengakuan mengetahui ilmu ghaib dan pengakuan berserikat dengan Allah hal ini adalah kesesatan.
Pada saat ini banyak yang meremehkan masalah sihir dan para pelakunya, bahkan mungkin ada yang menganggapnya sebagai salah satu jenis ilmu yang mereka banggakan.
Mereka memberikan motivasi bahkan juga hadiah untuk para tukang sihir, ini adalah suatu kebodohan dalam beragama serta menganggap remeh urusan akidah.”
Baca juga: Doa Memohon Dijauhkan dari Santet dan Sihir
Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, perdukunan dan sihir telah di lakukan oleh umat manusia. Seperti para tukang sihir yang telah ada di zaman Nabi Sulaiman as dan Nabi Musa as . Perdukunan merupakan ilmu asing yang menyusup ke dalam budaya orang Arab.
Ilmu perdukunan datang dari sebagian bangsa yang bertetangga dengan mereka.
Diyakini bahwa yang membawa ilmu ini adalah bangsa Kildan bersamaan dengan ilmu perbintangan (astrologi).
Keyakinan itu dikuatkan karena adanya istilah lain dari dukun yang dipakai di kalangan orang Arab yaitu Hazi atau Hazza’ sementara kedua kata ini berasal dari bangsa Kildan yang sama artinya dengan an-Naazhir, ar-Ra’i dan al-Baashir yaitu orang yang memiliki pandangan jauh, mata batin, atau terawangan.
Musdar Bustamam Tambusai dalam "Ensiklopedia Jin, Sihir Dan Perdukunan" menyebut dukun (Lafazh Al-Kaahin) sendiri dikutip dari orang Yahudi .
Lihat Juga :